Opsir Pieter menggelengkan kepala ketika mengetahui ada jenis perjudian baru di Batavia. Ya, judi batu nisan.
"Aku tidak habis pikir," katanya seraya mengetuk-ngetuk meja.
Seorang konstabel yang sudah berdiri di dekatnya hanya terdiam. Lelaki bertopi jerami ala Tangerang tahu diri untuk tidak banyak berkomentar di depan atasan.
Berdasarkan keterangan si tersangka, judi itu mempertaruhkan batu nisan makam-makam di Batavia dan sekitarnya. Ketika Batavia sedang dihebohkan dengan kehilangan batu nisan di pemakaman, ternyata polisi menemukan pelakunya. Dan, motif dari pencurian dari batu nisan itu sungguh aneh.
"Aku merasa akan bisa menyelesaikan kasus ini dalam waktu dekat," Opsir Pieter menyatakan isi pikiran kepada salah seorang anak buahnya.
"Saya berharap begitu, Tuan."
"Persiapkan personil, kita akan melakukan operasi sore ini juga."
"Siap, Tuan Komandan."
Di kantor polisi, para petugas sibuk dengan urusannya sendiri. Namun, ada pula yang mendapatkan giliran untuk beristirahat. Kantor polisi Batavia bukanlah bangunan luas tetapi cukup untuk bisa sekedar mondar-mandir dari satu pintu ke pintu lain. Jendela yang terbuka sudah cukup untuk memberi kesan luas bagi orang-orang di dalamnya.
Di antara petugas, ada yang menggiring tahanan untuk dimasukan ke dalam sel. Ada pula yang membawa setumpuk kertas berisi laporan. Dan, tentu saja ada yang sekedar menyeruput kopi atau menghabiskan sebatang rokok.
Pikiran Opsir Pieter masih melayang-layang ke suatu tempat. Dia membayangkan bagaimana kejadian demi kejadian yang telah masuk ke dalam lembaran laporan polisi. Kejadian tentang pembongkaran makam, penyerangan dirinya oleh seseorang yang tidak dikenal, kerusuhan di pinggir kanal, usaha pembunuhan Ketua Serikat Orang Cina di Batavia, dan terakhir, kejadian di gudang pangan.
Demi memperlancar jalannya berpikir, Opsir Pieter duduk ditemani sebatang cerutu favorit. Seorang bujang baru saja meletakan secangkir kopi di atas meja. Karena pikiran yang menerawang ke dimensi lain, dia tidak menyadari jika baru saja si bujang menghampiri mejanya.
"Alasan politik, sebaiknya aku singkirkan," seraya melirik ke arah konstabel yang berdiri tepat di dekat sudut méja.
Opsir Pieter menyimpulkan jika motif politik sudah tidak sesuai lagi menjadi alasan kasus ini. Bagi dia, ini murni kejahatan kelas teri.
"Lalu, kenapa orang-orang itu memberi pesan? Untuk apa mereka mengirim pesan?"
Si konstabel tampak mengerutkan dahi. Dia berpikir keras, entah kalimat apa yang harus dikatakan untuk menanggapi sng komandan.
Opsir Pieter dibingungkan dengan data yang dia miliki. Untuk mempermudah analisisnya, pria itu mencoret-coret berbagai data yang miliki di atas sebuah kertas. Dia berharap bisa menguraikan masalah seperti apa yang sebenarnya tengah dihadapi hari ini.
Sesekali pria itu memejamkan mata. Berharap ada ilham turun dari langit yang memberitahunya apa yang sebenarnya sedang dihadapi. Kemudian bisa menguraikan rencana yang akan dijalankan oleh anak buahnya.
"Kenapa kau berdiri di situ?"
Opsir Pieter heran dengan seorang anak buahnya yang berdiri mematung di pinggir meja. Polisi itu tersenyum dan berharap si opsir tidak memarahinya.
"Ada laporan yang belum Tuan baca."
"Tentang apa?"
"Tentang penculikan."
"Nanti saja. Aku mau konsentrasi pada kasus pembongkaran makam ini dahulu. Biar besok saja kita urus penculik itu. Apalagi jika yang diculik bukan anak orang kaya atau anak pejabat Batavia. Iya, kan?"
"Betul, Tuan."
"Seperti kuduga. Ya, sudah besok saja kita urus. Atau, limpahkan ke anggota yang lain."
Opsir Pieter beranjak. Dia menyeruput kopi di cangkir untuk pertama kali dan sepertinya terakhir kalinya. Pria berkumis pirang itu bermaksud untuk pergi.
"Tapi, yang diculik anak itu, Tuan."
"Anak siapa? Aku tak peduli."
"Bajra, Tuan. Temannya A Ling dan Panca ... yang tempo hari ...."
"Ya, aku tahu mereka."
Ruangan hening sejenak.
Konstabel yang berdiri di sana menatap wajah Pieter. Lelaki berwajah ras Melayu itu pun menunggu perintah selanjutnya.
Opsir Pieter terdiam dan mengurungkan langkahnya untuk pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
