"Tolong!"
Biussshhh!
Angin berhembus sangat kencang. Saking kencangnya, dinding rumah pohon itu berterbangan. Kemudian, seluruh atapnya. Dan ... brruuukk ... rumah pohon itu ambruk.
Panca terjengkang. Begitupula Bajra, terjungkal.
Mereka tidak kuasa menahan amukan sang angin. Kedua anak itu terhempas ke bawah. Hampir menyentuh permukaan tanah. Hampir.
Untungnya, kedua anak remaja itu masih diselamatkan oleh dahan pohon yang membentang seakan sebuah palang. Mereka tersangkut di dahan pohon itu meskipun tidak sanggup berbuat lebih banyak. Kaki dan tangannya masih terikat.
Sayangnya, Panca dan Bajra tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kulit dahan pohon terlalu licin jika dibuat untuk bertahan lebih lama dari sekarang. Mereka benar-benar kewalahan. Dan, hampir hilang harapan.
"Raden, bagaimana ini ... kita bisa terjatuh."
Panca terus berusaha melepaskan ikatannya. Tapi tidak bisa lepas, barang sedikit pun. Begitu juga Bajra. Ikatan sulur pohon itu malah membuat tangan dan kaki terasa sakit jika terus berusaha untuk dilepaskan.
"Ya, Alloh ... tolong kami." Bajra berdoa dengan suara setengah berteriak bahkan terdengar setengah menangis.
"Tenang ... Jangan sampai kita banyak bergerak. Kita bisa terjatuh."
Panca mencoba terus menenangkan diri dan berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak terjatuh dari atas pohon.
"Hei, tenang. Jangan panik, kami akan menolong kalian!"
Panca dan Bajra mengarahkan pandangan kepada orang yang berteriak. Seketika wajah mereka menjadi ceria. Doa Bajra terkabul dalam waktu seketika. Ada pertolongan.
"Polisi ... akhirnya ...."
Tiga orang polisi datang dengan menunggang kuda. Mereka sudah berada di bawah dahan pohon tempat Panca dan Bajra tersangkut.
"Siapa kalian?" salah seorang dari mereka bertanya karena tidak mengenali wajah dua remaja yang bergelantungan seperti kelelawar. Kenapa kepala mereka menghadap ke bawah?
"Saya ... saya Panca."
"Saya Bajra."
Orang yang tadi bertanya ragu akan jawaban dari dua remaja yang menggelantung di dahan pohon. Bahkan, demi berjaga-jaga, ketiga polisi itu menodongkan senapan.
"Betul, Tuan. Kami diculik."
Lagi, tiga konstabel itu tidak langsung percaya. Membutuhkan waktu untuk memastikan jika dua remaja tersebut tidak sedang berbohong. Satu orang polisi mendekat sembari mendongak serta mengajak kuda untuk mengitari pohon tersebut.
Polisi ketiga yang berada agak jauh bertanya demi memastikan, "bagaimana?"
Si konstabel yang baru saja mendekati batang pohon pun mengangguk. "Ya, ya, aku mengenal mereka. Kita bertemu di rumah Tuan Ketua."
Panca dan Bajra pun lega setelah mendengar pengakuan si polisi. Kini, mereka berdua mencari cara untuk turun dari dahan pohon tersebut tanpa terjatuh.
"Kalian bisa turun?"
"Tidak," Panca pun memberikan keterangan, "tangan dan kaki kami terikat."
Ketiga polisi itu saling tatap. Mereka nampak kebingungan. Tetapi, sekonyong-konyong personil yang lain datang untuk membantu dua anak remaja. Jumlah mereka begitu banyak. Panca dan Bajra tidak sempat menghitung berapa orang yang datang untuk menolong mereka.
"Jatuhkan saja tubuh kalian. Kami akan menangkap!"
Panca dan Bajra paham dengan maksud polisi itu. Semua personil berkumpul untuk menangkap kedua anak remaja itu agar tidak bersentuhan dengan tanah.
"Haaap!"
"Berhasil!"
Panca dan Bajra lega dengan datangnya pertolongan. Harapan mereka kembali tumbuh.
"Kalian baik-baik saja?"
Panca menjawab dengan terbata, "kami baik-baik saja."
"Baguslah. Tapi, bagaimana bisa kalian ada di atas pohon?"
"Mereka mengikat kami kemudian mengangkatnya dengan tali hingga ke atas rumah pohon."
Ketika Panca menyebut tentang rumah pohon, seorang polisi pun bertanya demi memastikan, "Rumah pohon?"
Panca dan Bajra menerangkan bagaimana keadaan rumah pohon itu sebelum akhirnya hancur.
"Sekarang, mereka di mana?"
"Kami tidak tahu," imbuh Bajra, "tapi, kami menemukan ini."
Panca mengangguk sebagai penanda jika apa yang dikatakan oleh kawannya bukanlah karangan belaka. Dia menunjuk kepada beberapa batu nisan yang telah berserakan di atas tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mistero / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
