Kini Panca sudah masuk ke wilayah hutan. Kota Batavia ditinggalkan oleh anak remaja itu demi mengejar Bajra, sahabat karibnya. Sulur-sulur menjuntai ke pinggir sungai. Bau lumpur bercampur dengan bau daun-daun busuk yang khas. Sering ditemuinya pula pohon nira yang sedang berbuah.
Buaya, hewan buas itu yang ditakutkan Panca apabila menyusuri sungai. Air yang tenang bukannya mendatangkan ketenangan bagi Panca. Bagi Panca, air yang tenang pertanda hewan-hewan buas berkeliaran di sekitarnya.
Blerr!
Seekor burung hantu terbang rendah di atas kepala. Sepertinya si burung merasa terganggu oleh kehadiran seorang anak manusia. Siang hari begini, seharusnya menjadi jam tidur yang nyaman bagi seekor celepuk.
Dibawa ke mana si Bajra? Batin Panca terus bertanya-tanya. Mata anak remaja itu tertuju kepada hutan di sekelilingnya. Sulit dimengerti, kenapa Bajra dibawa ke tempat seperti ini.
Panca pun terus melangkahkan kaki di antara dedaunan kering yang telah berjatuhan ke tanah. Suara gemerisik yang ditimbulkan mengagetkan sekawanan monyet yang sedang berkumpul di pinggir sungai. Mereka menikmati hangatnya cahaya matahari yang masuk di sela-sela pepohonan yang besar.
Semakin lama Panca berjalan, sungai itu semakin menyempit. Tapi, belum ada tanda-tanda di manakah sampan yang tadi dinaiki si penculik. Panca benar-benar kehilangan jejak. Dia berkejaran dengan waktu.
"Kau mau ke mana, anak muda?"
Panca kaget ketika mendengar seseorang bertanya di tengah hutan yang sepi. Suara itu terdengar samar.
Di mana orang yang bertanya barusan. Panca tidak bisa menemukan dari mana sumber suara itu. Apakah ini hanya lamunannya saja, begitu pikir Panca. Mungkin dia terlalu khawatir pada keadaan sahabatnya sehingga sekilas anak remaja itu berhalusinasi.
"Tidak, kau tidak sedang berkhayal."
Suara itu kembali terdengar, Panca semakin merasakan keanehan. Anak remaja itu pun berteriak, "hei, siapa kau? Tunjukkan dirimu!"
Ada jeda beberapa detik. Suara dari balik pepohonan itu tak lagi terdengar, tergantikan oleh suara binatang hutan. Panca mengenal suara monyet liar, sama saja sebagaimana yang sering terdengar di pinggiran hutan dekat Desa Pujasari. Walaupun ada suara-suara burung yang tak dikenal, tetapi tak dipedulikan oleh anak remaja tersebut.
Dari arah lain, ada pula suara lelaki yang berteriak. "Buat apa? Buat apa aku harus menunjukkan diriku?"
"Kau mau main-main denganku."
Takut, sedih, bingung, perasaan yang campur aduk dalam pikiran. Bahkan, seekor gagak yang terbang rendah pun sudah bisa membuatnya terkaget-kaget. Anak remaja itu mundur hingga beberapa langkah. Dia tidak bisa mengendalikan diri, tak sengaja menyentuh akar yang menyembul ke permukaan tanah. Panca tersandung kemudian jatuh terjungkal.
"Aaakk!"
Sedikit lega karena hanya seekor gagak hutan yang penasaran akan kehadiran manusia. Namun, hanya sementara. Suara itu kembali terdengar dari arah yang tak bisa ditentukan.
"Hahaha ... Anak muda, bukankah kau yang datang ke sini untuk main-main dengan kami?"
Kami? Berarti jumlah mereka banyak, pikir Panca dalam batinnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
