Panca senantiasa suka udara kala pagi apalagi setelah semalam turun hujan. "Uh, segar ...." Ketika berdiri tepat di pekarangan belakang, tetesan sisa air hujan menyentuh kaki. Dia memejamkan mata, kemudian membukanya kembali. Tampak sisa air hujan yang enggan menguap dari daun pohon tomat.
Ketika disinari oleh mentari yang keluar dari balik gunung, air di atas daun seperti kristal yang berkilauan. Hiburan di pagi hari yang menyenangkan hati. Ditambah, ada seekor kupu-kupu yang menggantung di balik daun tampak malu-malu untuk terbang. Kepakan sayapnya begitu pelan. Sayang sekali, momen indah itu hanya sebentar.
"Nak, kasih makan domba-domba! Berisik!"
"Ya, Bu."
Suara ternak peliharaan itu memang berisik apabila belum diberi pakan. Sang ibu sering kesal apabila anak sulungnya itu telat untuk memberi pakan ternak-ternak. Panca pun berjalan pelan ke tepian kandang. Dia pun mengambil rumput di keranjang, menyodorkannya ke depan mulut para domba. Maka, seketika suara mereka pun reda.
"Ah, enak ya. Aku saja belum sarapan."
Ketika selesai memberi makan para domba, beralih ke kandang sapi dan kandang kuda. Setelah selesai, maka Panca pun melipir ke pekarangan depan. Didapatinya sang ayah tengah mengolah gundukan tanah untuk dijadikan gerabah.
"Adakah yang bisa saya bantu, Ayah?"
Lurah Bakti menoleh kemudian berujar, "tuh, jemur gerabah yang sudah terkumpul di gudang!" Seraya menunjuk ke sebuah bangunan yang terletak di sebelah barat Desa Pujasari.
Panca pun menuruti perintah sang ayah untuk menjalankan rutinitas.
Cahaya matahari yang terang turut menyemangati mereka. Udara pun terasa bersih. Desa Pujasari yang terletak di kaki gunung, senantiasa menyajikan kesejukan. Terdengar burung-burung bernyanyi menyambut pagi sembari beterbangan ke sana ke mari.
"Ki Lurah! Ki Lurah!"
Panca dan ayahnya kaget dengan teriakan seseorang dari kejauhan.
"Ki Lurah! Ki Lurah!"
Suara teriakan itu kembali terdengar. Namun, siapa yang berteriak-teriak tidak terlihat. Sosok suara laki-laki itu belum nampak.
"Ki Lurah ...."
Setelah ditunggu, akhirnya wajah orang itu bisa dikenali. Seorang pria berumur empat puluhan, datang dengan setengah berlari. Nafasnya tersengal-sengal, kelelahan.
"Hei, ada apa? Sepagi ini kau sudah berteriak-teriak."
Orang itu menampakkan wajah kalut. "Anu ... Ki Lurah."
Ternyata, teriakan barusan mempengaruhi perasaan warga yang lain. Ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya terhenti sementara dan ikut berkumpul demi mengetahui berita yang dibawa oleh pria yang berteriak-teriak itu. Anak-anak yang tengah membantu bapa dan ibunya pun keluar dari rumah. Pemukiman di Desa Pujasari tidaklah banyak, satu sama lain berdekatan. Wajar saja apabila ada kehebohan, orang-orang yang ada di sana mudah terpengaruh.
Panca pun ikut penasaran dengan berita yang dibawa. Si pembawa berita terdiam sejenak, asmanya kambuh.
Orang-orang sudah berkumpul di depan rumah Lurah Bakti dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh si pembawa berita.
"Ki Lurah ... makam ... makam ...."
Raden Bakti mengerutkan dahi. "Makam apa?"
"Makam ... almarhum ... Raden ... Wiguna ...."
"Ada apa dengan makam ayahku?"
"Heehhhh ...." Si pembawa berita malah menarik nafas panjang.
Orang lain menunggu kalimat selanjutnya. Mata si pembawa berita melirik ke orang-orang yang berkumpul dan bertambah banyak. Mereka pun balik menatap.
"Makam almarhum Raden ... Wiguna ... ada yang membongkar ...."
Semua mata pun terbelalak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
