5

155 30 3
                                        

Opsir Pieter mengumpulkan beberapa anak buahnya untuk memberikan perintah. Dia berdiri di halaman kantor sambil menunggu kuda tunggangannya datang.

"Kau dan kau, ikut denganku! Yang lain, tetap di markas. Catat setiap laporan tentang pembongkaran makam!"

"Siap, Komandan."

"Kalau ada kasus lain, kita tunda saja. Aku lebih tertarik untuk fokus pada kasus pembongkaran makam."

Opsir Pieter memperhatikan puluhan polisi berbaju biru dongker itu kemudian memberikan perintah yang jelas. Dia tidak ingin energinya habis terkuras oleh laporan-laporan remeh temeh lagi.

"Hingga saat ini, sudah ada 10 laporan tentang pembongkaran makam. Awalnya, kita tidak memprioritaskan kasus ini. Aku sendiri menganggap ini hanya kerjaan orang iseng."

Opsir Pieter menahan nafas panjang ketika memberikan arahan kepada para anak buah. Lelaki itu pun memasang mimik wajah serius. Terlebih lelaki-lelaki yang berbaris rapih di pekarangan kantor polisi.

"Tapi, jika ada 10 laporan warga, itu tidak bisa dianggap keisengan."

Tampaknya para polisi berpangkat terendah di Dinas Kepolisian Batavia itu mengerti arahan dari sang komandan. Wajah mereka yang cenderung kurus tak berlemak kini tampak tenang. Beberapa orang bahkan mengangguk-angguk sebagai pertanda jika tahu apa yang harus dilakukan hari ini.

Kuda yang akan menjadi tunggangan perwira polisi itu kini sudah tiba. Perawakan hewan tersebut tampak gagah, bulunya mengkilap ketika cahaya matahari menyentuh permukaan kulit. Hitam kecokelatan mendominasi raga sang kuda. Ketika Opsir Pieter naik ke atas pelana, si polisi berpangkat rendah tadi masih memegang tali yang membelit moncong sang kuda. Tubuh jangkung pria Eropa itu seakan menyatu dengan tulang-tulang panjang yang membentuk raga si kuda. Hewan yang senantiasa tenang serta siap untuk dibawa ke mana saja oleh tuannya.

Opsir Pieter menutup pengarahannya dengan sebuah pertanyaan, "kalian mengerti?"

"Mengerti!" Suara jawaban yang serempak terdengar keras.

Opsir Pieter memberi tanda pada si kuda untuk berjalan. Si kuda pun hanya berjalan pelan sesaat setelah menjauh dari halaman luas kantor polisi. Mengikuti di sebelah kiri dan kanan, dua lelaki pribumi anggota kepolisian Batavia. Keduanya berjalan tegap mengikuti langkah kuda, sekaligus memasang kuping andaikan sang atasan mengajak untuk berbicara.

"Menurut kalian, siapa kira-kira pelaku pembongkaran makam itu?"

"Ah, paling orang yang masih memelihara ilmu hitam, Tuan." Seorang konstabel masih menganggap jika perkara pembongkaran makam ada hubungannya dengan mistik.

"Saya juga berpikir begitu," konstabel lainnya menambahkan, "untuk pesugihan."

Opsir Pieter benar-benar tidak mengerti. "Maksud kalian?"

Opsir Pieter berbincang santai saja dengan dua pengawalnya. Dia menyusuri jalanan Ibu Kota sembari menikmati cuaca pagi dan tidak bermaksud untuk terburu-buru ke tempat tujuan.

"Itu sudah lama ada, Tuan."

"Coba terangkan padaku, apa itu pesugihan?"

"Setahu saya, orang biasa membongkar makam untuk diambil tali pocong atau kain kafannya sebagai syarat dalam menimba ilmu hitam."

"Atau mencari kekayaan, Tuan."

Opsir Pieter menoleh kepada lelaki bertubuh kurus yang berjalan di sisi kanan, "syarat? Syarat bagaimana?"

"Eeee ... kalau orang ingin kaya dengan cara cepat, biasanya mereka datang ke tempat keramat, kemudian mengadakan ritual-ritual."

"Maksud kalian ... bersekutu dengan setan?"

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh sang komandan cukup keras.  Orang-orang yang sedang lalu-lalang di tepian jalan pun menoleh ke arah Opsir Pieter ketika mendengar sebuah kalimat yang menarik perhatian.

Mereka penasaran.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang