43

81 15 0
                                        

"Tahan tembakan!"

Opsir Pieter memberikan aba-aba kepada anak buahnya. Sekitar 20 polisi yang mencari sosok bayangan itu kini sudah berkumpul tepat di depan buruan mereka. Tidak jauh dari pinggir kanal, sosok bayangan itu tegak berdiri.

Dia menantang para polisi.

Begitulah pikir sekumpulan petugas berseragam tersebut. Meskipun moncong senjata semuanya tertuju kepada sosok yang dimaksud, dia tidak beranjak pergi dari tempatnya berdiri.

"Hei, apa maumu?" Opsir Pieter bertanya dengan berteriak.

"Hahaha ... Kupikir kau sudah tahu apa mauku."

"Sungguh, tidak jelas apa maumu. Kau hanya menginginkan Sang Ketua mati?"

"Itu hanya salah satunya."

"Ya, kukira keinginanmu bukan hanya tentang kematian Ketua? Betul kan, ternyata."

Pieter bicara sambil berkacak pinggang. Sesekali, lubang hidungnya menghirup udara malam sehabis hujan. Bau udara Batavia yang berbeda dengan musim kemarau lalu. Lelaki berkumis tipis itu enggan terlihat lemah di hadapan seorang penjahat atau tersangka penjahat. Sekaligus, dia tidak menganggap remeh lawan bicaranya, agar sosok itu mau bicara lebih banyak. Sorot mata Pieter tak lekang dari si wajah  tertutup topéng

Lampu penerangan jalan tidak bisa memperjelas sosok yang menjadi sasaran tembak tersebut. Cahaya lampu gas terlampau temaram untuk menjangkau setiap jengkal ruang yang ada di sana. Namun, bagi Pieter dan anak buahnya itu sudah cukup untuk bisa memastikan jika sosok yang berdiri di sana memang layak dijadikan objek tembak.

"... Kalian menghalangi jalanku." Sosok itu pun kembali bicara. "Padahal, Sang Ketua sebetulnya tidak harus mati kalau kejadian di pinggir kanal tidak kalian redam."

"Kau balas dendam? Untuk apa?"

"Untuk apa? Katamu, untuk apa?" Suara sosok itu terjeda. "Hei, kami adalah pemilik tanah Jawa ini! Kalian hanya pendatang!"

"Kau ingin kami pergi," ucapan Pieter disela oleh tawa bernada sinis, "pergi dari Batavia?"

"Jelas."

"Kalau kami tidak mau pergi?"

"Hahaha ... Nasib kalian akan sama seperti Sang Ketua ...."

Opsir Pieter berpikir keras sambil terus menggali informasi dari si sosok tak dikenal. Langit malam yang gelap dan wajah sosok itu yang bertopeng menyulitkan para polisi menggali identitas orang tersebut. Logat bicaranya pun sulit dikenali karena tersamarkan oleh topeng yang dikenakan yang menempel di wajah. Apalagi mengenali warna kulitnya, pakaian serba hitam seakan memperjelas jika dia tak ingin dikenali oleh siapa pun.

Dia pintar, bicara padaku dari seberang kanal. Air kanal ini sebagai perlindungan diri baginya.

"Tuan, kau tidak usah berpikir keras untuk menyergapku."

Gila, dia bisa membaca pikiranku. Pikir Opsir Pieter.

Suara sosok itu semakin keras terdengar. Dia punya kepercayaan tinggi, tidak tercium ketakutan dari kata yang keluar dari mulut. Bahkan, bagi Pieter nada bicara orang itu terkesan mengejek sekumpulan pria berseragam dan bersenjata.

Di antara kedua pihak, terpisah oleh kanal dengan air yang mengalir deras. Tidak terdengar suara arus tetapi tampak air tenang ketika tersinari oleh cahaya. Arus demikian bisa membuat orang yang tidak pandai berenang pun hanyut.

"Sebaiknya kau menyerah."

Tawaran dari Pieter ditanggapi oleh sebuah tawa yang terkesan sebagai ejekan. Malam terlampau larut, suhu rendah membuat orang tertawa pun terdengar lebih keras. Ditambah oleh suasana nan sepi, tak ada sampan yang melintas atau pedagang keliling yang kebetulan lewat. Satu orang saja yang berbicara bisa mengundang perhatian seekor burung hantu.

"Percuma saja kau menangkapku," lanjut sosok itu, "kemudian menghukumku ... di luar sana masih banyak penggantiku."

Pieter pun kembali menelisik, "kau mewakili kelompok mana?"

"Kelompok?"

Opsir Pieter menunggu jawaban.

"Aku tidak mewakili kelompok mana pun ... aku hanya rakyat jelata ... sama dengan yang lainnya ... Hahahaha ...."

Bayangan itu pergi menghilang ditelan kegelapan malam.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang