Di atas pedati, menumpuk gerabah berupa guci, cobek hingga kendi. Semuanya barang yang mudah pecah karena terbuat dari tanah. Karena itu, Panca dan Bajra tidak bisa membawa laju sapi penarik pedati untuk berjalan lebih kencang lagi. Terlalu beresiko ketika terjadi kecelakaan. Bahkan, kecelakaan kecil sekali pun bisa membuat semuanya jadi hancur berantakan.
Masalahnya, tidak jauh dari pedati yang sedang berjalan ada seseorang yang mengikuti lajunya.
"Bagaimana Raden, apa yang harus kita lakukan?" Bajra meminta arahan kepada sahabatnya.
"Entahlah, aku juga bingung. Sebelah kiri dan kanan kita hanya kebun-kebun warga."
"Iya, jauh dari desa terdekat."
"Kalau begitu ...."
"Kita jalan terus ... anggap saja tidak ada yang mengikuti."
Panca dan Bajra kembali menengok ke belakang. Dari kejauhan, terlihat seseorang sedang mengistirahatkan kudanya dan membiarkan tunggangannya itu merumput di pinggir jalan.
Bagi kedua anak remaja itu, perjalanan menjadi tidak lagi menyenangkan. Sekarang berganti dengan kecurigaan, mereka pun berkali-kali menengok ke belakang. Memastikan jika orang yang mengikuti tidak berbahaya.
"Kau yakin dia mengikuti kita?"
"Ya, perasaanku begitu," Panca hanya menyampaikan isi pikirannya. Namun, semakin membuat Bajra tidak tenang.
"Ah, mungkin saja dia memiliki tujuan yang sama dengan kita."
"Tapi, hatiku tidak nyaman ketika dia memperhatikan kita."
"Wajar saja, tidak ada yang aneh, kan."
"Justru aneh." Panca menoleh ke belakang, agak jauh ke arah kuda yang menepi. "Wajahnya ditutup kain hitam."
"Waduh ...."
Panca melecut dua sapi yang menarik pedati. Kedua sapi itu bergerak. Kaki depannya mulai melangkah. Perlahan.
Panca merasakan ketidak nyamanan dalam hatinya. Begitupula Bajra. Apalagi ketika dia melihat ke sekelilingnya, nampak pohon-pohon besar di bahu jalan. Pepohonan itu rindang sehingga cabangnya menjulur menutupi jalan. Tidak ada pemukiman di dekat sana.
Suasana sepi.
Hanya suara burung yang berkicau menemani perjalanan kedua anak remaja itu. Mereka berharap ada orang yang lewat untuk menemani mereka di jalan sepi seperti demikian.
Tuk ... tak ... tuk ... tak ....
Suara kaki sapi beradu dengan batu-batu yang melapisi jalan. Tak disadari, tidak terdengar lagi suara burung atau pun hewan penghuni kebun. Suara serangga pun tidak terdengar lagi. Semuanya terdiam.
Tuk tak tuk tak!
Ada suara lain yang menggantikan kicauan burung atau erangan monyét liar. Suara hentakan kaki kuda terdengar dari arah belakang. Deg, hati Panca dan Bajra merasakan ketidak nyamanan.
Suara itu semakin mendekat.
Panca dan Bajra saling pandang. Wajah mereka menjadi lebih tegang dari sebelumnya, sekaligus bingung harus melakukan apa.
Dan, kini tepat di belakang pedati yang mereka tumpangi, ada seseorang.
"Hei, berhenti!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
