42

82 18 0
                                        

Di rumah Sang Ketua, Panca, Bajra dan A Ling terlibat percakapan serius. Malam itu, mereka dijamu makan mi buatan para juru masak rumah mewah itu. Mereka memilih untuk duduk di rangkaian bangku dan meja yang terpasang di dapur.

Dapurnya pun sungguh luas, pikir Panca.

Bagi Bajra, harum makanan selalu menggoda, bisa membuatnya betah untuk berlama-lama di sana.

A Ling tersenyum geli memperhatikan kelakuan dua sahabatnya. Sungguh berbanding terbalik ketika beberapa saat lalu ada peristiwa penyerangan di ruangan berbeda.

Ada hal lain yang menarik  untuk dibicarakan oleh ketiga anak remaja itu. Perihal jati diri ayah A Ling ketika masih hidup dulu. Setelah mendengar cerita dari Opsir Pieter bahwa A Ling adalah anak Ketua Serikat Orang Cina di Batavia terdahulu, Panca merasakan keheranan.

Panca masih tidak percaya jika A Ling adalah anak Ketua Serikat Orang Cina di Batavia terdahulu. Berbeda dengan Bajra yang langsung percaya begitu saja tanpa banyak mempertanyakan.

"Jadi, sebenarnya ayahmu ... orang kaya?"

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan, Bajra?" A Ling balik bertanya sambil tersenyum kepada Bajra.

"Ya, karena ketua yang sekarang menjabat pun ... adalah orang kaya."

Panca pun mengangguk setuju. Lagi, memperhatikan dapur rumah mewah milik Sang Ketua Serikat Orang Cina di Batavia. Tungku berjejer lebih dari satu lubang untuk memasak. Juru masak pun ada tiga orang, penyedia kayu bakar dilakukan oleh orang yang berbeda. Ditambah, pelayan yang mengantarkan hidangan hilir mudik menuju ruang tengah.

Ada satu hal yang membuat anak lelaki itu boleh berbangga, periuk ini buatan Désa Pujasari.

A Ling tidak langsung menjawab pertanyaan awal dari Bajra. Anak gadis itu kembali menelan mi sambil memandang para tamu lain yang sama-sama menyantap hidangan yang sama. Mereka berkumpul di meja yang berbeda dimana masing-masing meja terdiri dari 5-6 orang.

"Aku masih kecil waktu ayahku meninggal. Jadi, aku tidak terlalu ingat."

"A Ling, selain makam ayahmu, apakah ada lagi makam orang Cina yang dibongkar?" Panca mengalihkan pembicaraan.

"Ada beberapa makam."

"Berarti ..., " Panca pun menyimpulkan, "pelakunya bukan hanya satu orang ...."

A Ling berhenti mengunyah, menatap langsung ke wajah Panca yang duduk berseberangan, "bagaimana bisa kau menyimpulkan begitu?"

"Kejadian demi kejadian ... waktunya berdekatan tetapi rentang tempatnya berjauhan."

"Aku masih penasaran, apa mau mereka sehingga membongkar makam-makam itu?" A Ling kembali melontarkan pertanyaan.

"Seperti dibilang Opsir Pieter," Bajra menimpali, "ya untuk mengadu domba kita. Iya, kan?"

Panca dan Bajra saling pandang.

"Tapi," Bajra mengerutkan dahi, "apa untungnya bagi mereka?"

A Ling hanya mengangkat bahu, tidak mengerti.

"A Ling, sebenarnya kekayaan Sang Ketua ini seberapa besar?" Bajra mengajukan sebuah pertanyaan  pertanyaan yang terkesan menyelidik.

"Besar sekali, daftarnya panjang. Aku hanya tahu beberapa." Seraya menyeruput mi dari mangkuk, anak gadis itu mengangkat bahu. Tidak banyak hal yang bisa disampaikan kepada dua sahabat dari Desa Pujasari itu.

"Apa hubungannya?" Panca menimpali.

"Ya ... entah kenapa ada yang menginginkan Sang Ketua meninggal." Bajra bicara lebih pelan. Dia menengok ke belakang, ke arah ruang tengah dimana para tamu berpakaian sutera bermotif indah masih duduk-duduk sambil mengisap cangklong. Tubuh anak itu agak dekat dengan Panca yang duduk di sebelahnya. "Coba pikir, kenapa ada orang ingin Sang Ketua meninggal?"

"Menurutku ...," Mata Panca mengerling keada A Ling yang duduk di seberang meja, "itu hanya bentuk lain dari adu domba karena urusan pertikaian di pinggir kanal bisa diredam."

"Hanya ada satu cara untuk memastikan jawabannya."

A Ling menyilangkan sumpit di mangkuk, paling pertama menghabiskan hidangan yang disajikan pemilik rumah. Seraya menanti kalimat berikutnya yang akan dilontarkan oleh Panca. "Apa itu?"

"Belati yang menancap di tubuh Sang Ketua, kita harus tahu siapa pemiliknya?"

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang