63

73 22 0
                                        

"Syukurlah kalian tidak apa-apa. Aku sudah khawatir ketika tadi mendengar Bajra diculik. Ternyata kau juga, Raden."

Opsir Pieter mendapati dua bocah itu selamat. Bagi anggota polisi lain pun, keselamatan dua remaja tersebut bisa dianggap sebagai penyelesaian tugas yang baik. Sebagai bekal penyelidikan, mereka harus tahu kenapa Panca dan Bajra bisa sampai di tempat terpencil seperti itu. Mereka berdua pun menceritakannya mulai peristiwa penculikan di tepi kanal hingga peristiwa ambruknya rumah pohon.

"Saya bermaksud menyusul Bajra," imbuh Panca, "tapi, malah sama-sama disekap."

Semua orang yang mendengarkan mengangguk-angguk sebagai pertanda jika mereka mengerti bagaimana kronologi sebuah peristiwa. Tanpa melonggarkan kewaspadaan, regu polisi tersebut menanyai Panca dan Bajra mengenai ciri-ciri si penjahat. Keterangan keduanya cukup jelas sekaligus membingungkan, semua penculik itu berpakaian serba hitam dan menggunakan sehelai kain sebagai penutup wajah.

"Kalau begitu, kita sulit memastikan siapa sebenarnya mereka." Seraya berkacak pinggang Opsir Pieter menyingkirkan tanah di telapak sepatu dengan sebuah gesekan ke alat yang menyembul di permukaan tanah. Lelaki itu datang ke sana dengan berjalan kaki karena kuda ditambatkan di pohon beringin yang tumbuh jauh dari titik kumpul.

Perhatian Pieter kembali kepada dua anak remaja korban penculikan. Didapatinya tubuh Panca dan Bajra gemetar. Air hujan membuat tubuh kedua anak remaja tersebut menggigil kedinginan.

"Tuan, batu nisan ini bisa menjadi barang bukti kejahatan kelompok mereka." Seorang personil membawa tumpukan batu nisan ke hadapan Opsir Pieter.

"Jaga benda ini. Ini bisa menjadi bukti betapa mereka tidak tahu malu harus mengusik orang-orang yang sudah mati."

Si Konstabel mengangguk, paham akan ucapan pimpinannya.

Opsir Pieter mengarahkan pandangan ke sekeliling hutan. Dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan gerombolan penjahat itu.

Hanya bau tanah yang tercium oleh hidung. Suara gemuruh menggelegar pun terdengar berkali-kali dari berbagai arah. Setelah sebelumnya terlihat petir membelah langit yang semakin pekat. Dalam keadaan demikian, menjalankan tugas untuk menangkap gerombolan penjahat menjadi lebih sulit.

"Kirim satu regu untuk menyusuri hutan ini. Kita bisa mengejar mereka sebelum hari gelap."

Kemudian Opsir Pieter melirik ke arah tumpukan batu nisan. Dia memeriksanya satu persatu. Ada batu nisan dengan tulisan Cina, Arab bahkan tulisan Jawa.

"Ini milik Kakek saya, Tuan." Panca menunjuk ke salah satu batu nisan.

"Oh, begitu. Nanti akan aku kembalikan setelah ada proses pemeriksaan di Kantor Polisi."

Panca dan Bajra menganggukkan kepala. Mereka berdua mengerti jika kasus ini harus diselesaikan dengan cara-cara petugas kepolisian.

Opsir Pieter bangkit berdiri. Matanya melihat ke arah rumah pohon yang sudah hancur diterpa angin. Dia memikirkan sesuatu. Mereka biasa berkumpul di sini.

"Semuanya, naik ke atas kuda! Kalian berdua ikut kami!" Opsir Pieter memberi perintah.

Dengan sigap, para polisi itu naik ke atas pelana. Panca dan Bajra naik ke atas salah satu kuda tunggangan petugas.

Kaki kuda bersentuhan dengan tanah yang basah. Air hujan masih menggenangi tanah. Kuda-kuda itu berlari menyusuri hutan yang sebetulnya tidak terlalu lebat. Tanahnya masih rata karena berada di dataran rendah sedangkan pohon yang tumbuh tidak terlalu rapat sehingga kuda bisa berjalan di sela-sela pohon itu.

Mata para petugas polisi itu awas memperhatikan jengkal demi jengkal hutan itu. Hingga, ada sesuatu yang menyita perhatian.

"Itu dia, kejar!"

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang