75

99 23 2
                                        

Malam itu menjadi waktu yang tepat bagi dia untuk menjalankan rencananya. Mendung begitu pekat sehingga bulan dan bintang pun tidak nampak di cakrawala. Batavia menjadi sangat gelap.

Sosok berpakaian serba hitam, bertopeng hitam dan kain penutup kepala berwarna hitam itu berdiri di atas wuwungan. Hanya kedua matanya, telapak tangan dan telapak kaki yang tidak bisa dia tutup. Kedua telapak kakinya yang telanjang bertumpu pada atap sebuah bangunan dua lantai di dekat Markas Besar Polisi.

Dia melangkahkan kakinya di atas wuwungan. Awalnya pelan, kemudian dia berlari kencang.

Seakan kakinya bisa merasakan di mana letak tumpuan, dia berlari dalam kegelapan di atap rumah yang rapuh. Dan, tanpa ancang-ancang dia melompat ke sebuah benteng. Tubuhnya melayang membelah udara.

"Hei, siapa itu!"

Terdengar seorang penjaga berteriak. Sepertinya personil polisi itu melihat bayangan yang berkelebat dan hinggap di tepi benteng yang tebal.

"Arahkan lampu!"

Lampu sorot berukuran besar diarahkan ke lokasi yang dicurigai. Lampu dari menara jaga tidak membantu apa-apa. Sosok itu telah pergi ....

Sosok itu melompat ke atas atap sebuah bangunan kokoh dekat benteng. Dia merangkak demi tidak terlihat oleh penjaga.

Nah, di sini.

Dia menemukan lokasi yang menjadi tujuannya. Kemudian dia menggeserkan genteng di atas atap itu. Satu per satu hingga cukup untuk tubuhnya masuk ke dalam bangunan.

Haap!

Dia berhasil masuk ke dalam bangunan itu. Tepat di ruangan yang dimaksudkan, dia pun mendaratkan tubuhnya di lantai. Begitu ringan dan tidak terdengar sebuah gerakan, caranya masuk tidak mencurigakan petugas jaga di dalam gedung.

"Siapa kau?"

"Ssst!" sosok itu langsung membungkam mulut orang di dalam ruangan itu.

Ruangan yang gelap. Sebuah sel tahanan yang pengap dan bau. Hanya jendela berukuran kecil disertai jeruji sebagai satu-satunya sumber udara dari luar.

"Kau mau membebaskanku?" orang yang dibekam terus bicara karena keheranan dengan sosok yang tiba-tiba hadir di hadapannya.

"Ya."

"Kau siapa?"

"Ssstt. Jangan banyak bicara!"

Orang yang dibekam itu terus menatap sosok di hadapannya. Tidak jelas. Hanya cahaya redup dari luar sel tahanan sebagai satu-satunya sumber cahaya.

"Kau ... kau ...."

Cahaya dari lampu sorot di menara masuk ke jendela kecil berjeruji di atas kepala. Meskipun sekilas, si tahanan bisa melihat cukup jelas sosok di depannya. Dia memakai ikat kepala warna hitam dan menutupi wajahnya dengan kain hitam.

Hanya matanya yang bisa terlihat. Guratan alisnya pun masih bisa terlihat karena pantulan cahaya lampu dari menara tepat mengarah ke wajahnya.

Mata itu, biru ... dihiasi alis tebal berwarna pirang keemasan.

"Tuan, kau kah itu?"

"Sssttt! Sudah kubilang jangan banyak bicara ...," sosok itu berbisik ke telinganya.

"Ahhh ...."

Si tahanan kesakitan. Jika mulutnya tidak dibekam maka teriakannya bisa membangunkan tahanan lain. Luka di lehernya tidak bisa tertahankan.

Tahanan itu tidak bisa berbuat banyak. Tangan dan kakinya dirantai. Dia hanya bisa menggelepar seperti seekor ayam baru disembelih.

"Hei ... kau kenapa?" terdengar suara penjaga dari luar sel sambil membawa lampu badai.

Orang yang ditanya tidak menjawab. Hanya suara mendengkur terdengar dari ruangan gelap itu.

"Ha ... Ada tahanan terluka!"

Petugas itu bergegas membuka pintu jeruji. Lampu di tangannya kemudian diletakan di lantai.

"Hei ... hei ... siapa yang melakukan ini?"

Tidak butuh waktu lama, petugas lain berdatangan sambil membawa lampu. Mereka langsung masuk ke dalam sel dan memeriksa setiap jengkal tempat itu.

"Bangsat! Dia lari lewat atap!"

Mereka kemudian berhamburan demi mengejar "tamu tak diundang". Berlari seakan saling mengerti ke mana harus pergi.

"Hei ... hei ... bertahanlah!"

Sayang, orang yang diajak bicara tidak memberikan respon apapun. Tahanan itu terus mengeluarkan darah dari lehernya sembari terus menggelepar.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang