Pagi itu langit begitu cerah. Udara Batavia terasa lebih segar karena pengaruh hujan sebelumnya. Angin yang berhembus dari laut di utara bertemu dengan angin yang berhembus dari gunung nan jauh di sebelah selatan.
Untuk sementara, Batavia yang sumpek belum terasa. Para pedagang belum menggelar dagangannya karena mereka masih tidur atau membereskan toko yang terdampak banjir. Kuda-kuda belum berani berjalan di tanah becek atau tumpukan lumpur yang dibawa air bah saat malam sebelumnya.
Namun, orang-orang yang malas beraktifitas itu tergoda juga untuk berhamburan ke jalan raya. Ada sesuatu yang menarik perhatian mereka.
Iring-iringan polisi yang menggiring sekelompok pesakitan menjadi perhatian tersendiri bagi warga. Bagi warga Batavia, iring-iringan itu tidak biasa karena digelar sepagi ini. Terlihat kuda-kuda yang ditunggangi beberapa polisi. Ada juga personil yang berjalan kaki dengan memegang senapan di tangan.
"Siapa mereka?"
"Tidak tahu, mungkin mereka komplotan perampok."
Bisik-bisik diantara warga mulai terdengar ketika mereka melihat 10 orang berpakaian serba hitam berjalan beriringan di antara para polisi yang berseragam biru tua. Tangan orang-orang itu dirantai dan bersambung satu sama lain. Begitu juga kaki mereka.
"Mereka baru ditangkap."
"Ah, sepertinya tadi malam."
"Lihat, baju mereka kotor. Baju polisi pun begitu."
"Iya sih. Tapi, ditangkap di mana?"
Warga bertanya-tanya satu sama lain. Pertanyaan itu kemudian bertambah ketika melihat dua anak remaja dibonceng oleh personil berkuda.
"Anak itu siapa?"
"Entahlah, mungkin ...."
"Oh .. aku ingat. Anak-anak itu yang kemarin diculik di pinggir kanal."
"Ooo ... berarti itu komplotan penculik."
Panca mendengar warga yang saling bicara satu sama lain. Terkaan mereka terdengar karena jarak iring-iringan dengan warga yang berkumpul begitu dekat.
"Berhenti!" seorang personil memberikan aba-aba.
Iring-iringan itu berhenti berjalan. Salah seorang di antara mereka bicara kepada warga dengan berteriak.
"Warga Batavia sekalian, perkenalkan saya Opsir Pieter."
Warga yang berdiri di pinggir jalan memberikan perhatian. Mata mereka tertuju kepada Opsir Pieter yang duduk tegak di pelana.
"Saya perlihatkan pada kalian gerombolan pengacau yang membuat warga Batavia saling curiga. Mereka adalah pengacau yang telah membongkar makam-makam saudara -saudara kita. Mereka melakukan itu agar kita bertikai. Mereka membuat orang pribumi curiga kepada orang Cina. Begitupun sebaliknya."
Opsir Pieter berhenti bicara. Dia memperhatikan satu persatu warga demi memberi waktu mereka untuk merenungkan kata-kata petugas polisi itu.
"Untuk saat ini, kita tidak usah saling curiga lagi. Kita jangan mau diadu domba oleh mereka yang menginginkan Batavia menjadi kota yang tidak aman."
Orang-orang yang menyaksikan mengangguk-angguk pertanda mengerti apa yang disampaikan polisi. Sebagian di antara mereka bahkan berani bicara untuk memberikan dukungan pada upaya polisi.
"Hukum mereka!"
"Hukum berat mereka!"
Satu per satu orang mengacungkan kepalan tangan demi mendukung pernyataan polisi. Mereka begitu geram ketika komplotan penjahat itu menatap wajah warga dengan tatapan kebencian.
"Cuhhh!"
Ada seorang tahanan yang berani meludahi warga. Tapi personil polisi sigap membungkam si tahanan.
"Tutup wajah mereka!" Opsir Pieter memberikan perintah.
Demi mengurangi percekcokan, iring-iringan penjahat dan polisi itu berjalan kembali melintasi jalanan Batavia yang becek. Mereka berjalan pelan di antara kerumunan warga yang baru keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar.
Panca merasakan keriuhan yang jarang terjadi. Anak remaja itu sudah beberapa kali ke Batavia tetapi baru kali ini dia menyaksikan pemandangan langka. Warga begitu membenci pengacau. Mereka merindukan kedamaian.
Tanggapan warga lebih heboh lagi ketika iring-iringan itu melintas di pertokoan orang Cina. Ada seorang ibu yang melempari tahanan dengan tanah basah yang kebetulan banyak tersedia di jalanan. Dan, perlakuan itu diikuti oleh warga Cina yang lainnya.
"Dasar bajingan!"
Kata-kata kasar terlontar dari mulut mereka. Rasa kesal yang selama ini terpendam, kini bisa tersampaikan.
"Raden." Bajra mengajak bicara Panca yang kebetulan berkuda di sebelahnya.
"Ya, Bajra."
"Apakah orang-orang itu begitu benci pada penjahat yang belum tentu terbukti bersalah?"
Personil polisi yang memboncengnya menoleh ke belakang. Dia merasa heran dengan kalimat yang dilontarkan Bajra.
Panca mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Tapi dalam pikirannya bertanya-tanya, apakah ini sekedar membangun citra polisi di depan warga?
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Misterio / SuspensoOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
