58

71 20 0
                                        

Panca tidak bisa berbuat banyak. Dia menyerah. Kaki dan tangannya diikat oleh tali dari sulur dan akar nafas dari pohon-pohon di sekitar hutan.

"Aku pasrah saja, Raden," Bajra menyatakan menyerah pada keadaan.

"Kau jangan berkata begitu, Bajra. Insya Alloh masih ada harapan."

Bajra menggelengkan kepala.

Panca pun menatap sahabatnya dengan rasa kasihan. Terlintas dalam hati rasa bersalah karena telah membawa dia kepada masalah yang seharusnya bukan urusan anak bertubuh gempal itu.

"Maafkan aku, Bajra."

"Kenapa kau harus minta maaf?"

"Maaf karena telah membawa kamu pada bahaya ...."

Bajra tidak mengomentari perkataan Panca. Sepertinya dia pun merasakan penyesalan, kenapa harus terlibat dalam masalah Panca.

Blllrrr, kilatan petir membuat langit terang. Disusul teriakan gemuruh bisa mengalahkan suara binatang hutan yang tak berhenti bersahutan.

Tetesan air hujan terdengar ketika menyentuh atap berbahan daun rumbia. Sepertinya sore itu akan menjadi hari yang diguyur hujan lebat. Sayang, kedua anak remaja itu tidak bisa melihat ke luar, dan mengetahui seberapa mampukah sang awan menumpahkan air hujan. Saat ini, mereka berdua hanya meringkuk di dalam rumah pohon yang letaknya lebih dari 10 meter dari atas permukaan tanah.

Kedua anak itu masih sulit mengerti, kenapa para penjahat harus membangun rumah pohon di tempat setinggi itu. Ukurannya tidak terlalu besar. Rumah pohon itu tidak lebih besar dari saung yang biasa dibangun di pinggir sawah. Hanya berguna untuk berteduh.

Panca memandangi bagian demi bagian rumah pohon itu. Dia mencoba mengalihkan rasa takutnya dengan memikirkan hal-hal baik tentang bangunan unik di tengah hutan itu.

"Bajra, kalau kita bebas ... nanti kita buat rumah pohon seperti ini ya ...."

"Ah, kau ini masih sempat berpikir seperti itu."

"Hei, lihatlah. Ini contoh yang bagus untuk kita beristirahat."

"Kita tidak sedang beristirahat, Raden. Kita disekap."

"Ya, maksudku ... nanti kalau kita sudah pulang ke Desa Pujasari."

"Memangnya kita akan pulang, Raden?"

Panca tidak bisa menjawab pertanyaan Bajra. Anak itu terdiam ketika melihat temannya begitu putus asa. "Sudah waktunya untuk sholat ashar."

"Bagaimana caranya kita sholat? Tubuh kita terikat, Raden."

"Alloh Maha Pemurah, kita sholat begini saja. Dan, tidak usah berwudlu."

Panca dan Bajra saling tatap. Kedua anak remaja itu saling meyakinkan hati masing-masing. Kemudian, mereka memejamkan mata dan melaksanakan sholat dengan tubuh terikat.

Tidak lama bagi Panca dan Bajra untuk melaksanakan sholat. Di sela ibadahnya, mereka memohon petunjuk kepada Alloh agar dimudahkan urusan mereka berdua. Keselamatan, itulah yang diharapkan oleh dua anak manusia yang sedang disekap itu.

Panca merasakan perasaan yang tenang dibandingkan sebelumnya. Pikirannya dirasa lebih jernih dimana kekalutan yang sebelumnya ada, kini hilang.

Angin semilir masuk ke sela-sela dinding rumah pohon. Angin menerpa wajah Panca sehingga anak itu hampir saja tertidur, saking menikmatinya. Semilir angin di sore hari ketika hujan memang nyaman untuk dinikmati, itu pun jika keadaannya tidak dalam bahaya seperti yang dirasakannya kini.

Panca menghela nafas panjang. Pandangannya beralih ke salah satu sudut pondokan. Dan ... Panca melihat sesuatu yang janggal di tempat tersebut.

"Bajra, lihatlah."

"Ada apa, Raden?" Bajra terhenyak dari lamunannya.

Panca menggeser tubuhnya demi mendekati sesuatu yang dianggapnya aneh jika ada di tempat seperti itu.

"Ini apa ya?" Panca menyentuh benda itu dengan kaki. Tersingkap kain hitam yang menutupinya.

"Kok ... ada itu di sini?"

Panca dan Bajra saling tatap.

"Mereka mengumpulkan batu nisan itu di sini ...."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang