46

77 18 0
                                        

Panca, Bajra, dan A Ling belum keluar dari rumah Sang Ketua hingga pagi. Ketika semalaman tidak bisa tidur, ketiganya sempat terlelap meskipun sebentar. Jendela yang semula tertutup rapat karena alasan keamanan, kini sudah terbuka. Udara pagi Batavia dan sinar mentari masuk dengan leluasa.

Ketika terbangun, Bajra langsung disuguhi cahaya terang yang menerangi ruangan. Untuk melindungi dari silau, jemari anak bertubuh tambun itu digunakan untuk menutup mata. Sekaligus, disambut oleh seorang lelaki bersuara lembut.

"Kalian tertidur di sini?"

"Eeh, Tuan. Maaf."

Bajra malu-malu ketika Sang Ketua menghampiri. Dia memperhatikan Panca masih tertidur pulas dengan kepala di atas meja. Ternyata, A Ling sudah bangun lebih dulu, terlihat membawakan makanan di nampan kemudian meletakkan piring di meja, dekat dengan hidung. Aromanya senantiasa menggoda Bajra.

Tangan kanan Bajra menggoyangkan bahu sahabatnya, "bangun!"

"Eee ...," Panca pun terbangun, tidak bisa menolak terlebih setelah mendengar orang bicara. "Tuan, maaf."

"Tidak apa-apa." Sang Ketua pun duduk tidak jauh dari tempat berkumpulnya anak-anak tersebut. "Maafkan aku karena tidak bisa menjamu kalian dengan baik. Seharusnya memberikan perlindungan kepada kalian, bukannya ketakutan."

Panca dan Bajra malu-malu ketika mencicipi hidangan yang dibawa oleh A Ling. Sarapan kali ini, terasa berbeda karena ditemani Sang Ketua--salah satu orang terkaya di Batavia--di rumahnya yang mewah.

"Tuan," Panca memperhatikan tubuh Sang Ketua, "Bagaimana keadaan Tuan?"

Kini, lelaki itu mengenakan baju bersih. Tidak tampak noda darah sebagaimana sebelumnya. Di balik baju changsan yang dikenakan, perban membalut luka ditambah ramuan dari tabib yang mampu menghentikan darah dari luka.

"Membaik." Sang ketua tersenyum
"Hanya luka kecil saja."

"Eee ...." Ada nada ragu yang terlontar dari mulut Panca.

"Apa, ada yang ingin kau tanyakan?"

"Eee ...," lanjut Panca, "bolehkan kami melihat pisaunya?"

"Pisau yang menancap di dadaku?" Sang Ketua tak percaya pertanyaan demikian keluar dari mulut seorang remaja. "Untuk apa?"

"Dengan melihat pisau itu ...," suara Panca melambat, "kita bisa tahu siapa pemiliknya?"

"Haha ... kalian anak-anak cerdas yang penasaran."

Sang Ketua terdiam. Menimbang-nimbang apakah akan berbagi informasi ini dengan anak-anak remaja itu atau tidak. Kemudian, dia beranjak dan pergi masuk ke kamarnya.

"Ini." Sang Ketua kembali menghampiri sambil membawa pisau yang digunakan oleh si penjahat tadi malam.

"Wow ... bagus," Bajra berkomentar.

"Sebetulnya, aku tidak mau berbagi informasi ini dengan kalian. Kalian masih terlalu kecil untuk ikut-ikutan masalah sebesar ini."

"Tapi ini ada sangkut pautnya dengan makam ayah saya, Tuan." A Ling menatap Sang Ketua.

"Bisa jadi dengan makam kakek saya, juga." Bajra pun menampakkan wajah serius.

Sang Ketua hanya tersenyum. Dia meletakan pisau yang dipegangnya di meja. Semua menatap pisau itu antusias.

"Ini dibuat memang untuk dilempar. Pegangannya memiliki cincin yang berfungsi sebagai pemberat." Bajra menduga.

Sang Ketua terkesan dengan pikiran Bajra.

"Hanya dibuat untuk melumpuhkan."

"Ya, ukurannya kecil saja. Tapi, susah dicabut lagi karena ujungnya ... seperti mata panah yang bisa mengoyak daging jika dicabut sembarangan."

"Kalian pintar." Sang Ketua pun memuji.

"Lalu, kain merah yang dipintal ini fungsinya apa?" Bajra menunjuk langsung ke benda yang dimaksud.

"Hanya pegangan."

"Sepertinya bukan." Panca menyangkal. "Boleh dibuka?"

Sang Ketua membuka kain merah yang membalut pegangan pisau itu. Kain itu panjangnya sampai sejengkal. Tapi, bukan itu yang membuatnya istimewa.

 Tapi, bukan itu yang membuatnya istimewa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ada tulisannya ...." A Ling menoleh kepada kedua sahabatnya.

"Arab Melayu lagi ...."

"Seperti di surat yang diletakan dekat makam ayah A Ling ...." Bajra menatap lurus ke wajah A Ling kemudian beralih ke wajah Sang Ketua.

Lelaki Cina terdiam sejenak. Ada sesuatu yang dipikirkan, keraguan pun sempat menghinggapi pikiran. Namun, kembali diyakinkan agar segera membacakan tulisan di tangannya. Dia pun membaca dengan pelan.

"INI TANAH KAMI, KALIAN TIDAK BERHAK DI SINI."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang