Di tempat lain, Opsir Pieter dibingungkan oleh kasus baru yang dihadapinya. Hari ini saja, ada dua laporan tentang pembongkaran makam.
Kantor Polisi Batavia bertambah riuh dengan kehadiran kabar-kabar kejahatan kelas teri sampai laporan yang cukup menyita pikiran. Laporan pencurian celana dalam sampai laporan pembongkaran makam oleh orang tidak bertanggung jawab. Terkadang lelaki itu sering bertanya-tanya, ini negeri macam apa?
"Tuan Opsir, bagaimana ...," polisi berpangkat rendah itu ingin segera memperoleh kepastian, "apakah kita akan menyelesaikan kasus pencurian ini?"
"Ah, abaikan saja dulu laporan pencurian itu. Ada yang lebih menyita perhatianku."
"Siap. Saya mengerti."
Seorang polisi dengan pangkat rendahan keluar dari ruangan Opsir Pieter. Wajahnya datar seakan sudah tahu jawaban apa yang akan disampaikan oleh atasannya.
"Hei, tunggu dulu. Siapa tadi yang memberikan laporan pembongkaran makam?"
"Seorang gadis Cina, Tuan."
Opsir Pieter pun bertanya untuk menelisik, "makam siapa yang dia bongkar?"
"Makam ayahnya, Tuan."
"Si pelapor sudah pergi?"
Lelaki pribumi itu menoleh ke sisi pintu yang mengarah ke luar. "Baru saja dia pergi."
"Panggil lagi!"
Si konstabel bertopi jerami ala Tangerang itu langsung berjalan cepat ke arah pekarangan kantor polisi. Lelaki pribumi berkulit kecokelatan itu berlari dengan tangan kiri memegang warangka kelewang yang menggantung di pinggang. Berharap orang yang dimaksud belum pergi jauh.
Dia berpapasan dengan rekannya yang tengah menggelandang seorang pencuri ternak. Tangan kanan si konstabel menoyor kepala pencuri itu sambil bicara kesal, "dasar!"
Pencuri itu tidak merespon. Kekesalan seorang polisi kepada pencuri menjadi pemandangan lumrah di dalam bangunan berdinding putih kusam tersebut. Konstabel yang sedang menggelandang si pencuri hanya bisa tertawa, tampaknya dia senang karena memperoleh buruan di tengah Batavia yang tidak pernah sepi dari tindak kriminal.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi pria itu untuk kembali membawa si pelapor ke hadapan Opsir Pieter; seorang gadis remaja berpakaian cheongsam serta rambut dikepang dua. Gadis itu mengangguk kepada si opsir, kedua tangannya dilipat di depan perut.
"Ini, Tuan." Konstabel itu memberi tahu, berdiri tepat di dekat si gadis Cina. "Gadis ini melaporkan jika makam ayahnya sudah dibongkar orang tidak dikenal."
"Duduk dulu, Nona."
"Baik, Tuan." Gadis itu mengangguk pelan.
"Siapa namamu?"
"Saya, A Ling."
"Bagaimana keadaan makam ayahmu, sekarang?"
"Makam ayah saya rusak. Waktu itu ...."
"Stop, kau tidak usah menceritakannya dari awal." Opsir Pieter menghela nafas. Tangan kanannya meletakkan sebatang rokok ke dalam asbak. "Ceritamu sudah ditulis di laporan ...."
"Iya, Tuan."
"Ceritakan saja keadaannya?"
"Eee ... nisannya hilang ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
