Setelah selesai sholat maghrib di masjid, Panca dan Bajra menuju ke tempat kerja A Ling. Mereka menyusuri jalanan Batavia yang kembali ramai oleh para penjaja makanan. Hujan yang telah reda membuat kota kembali menggeliat. Malam menjadi ramai orang-orang yang lalu-lalang demi sebuah tujuan dan kebutuhan. Tidak terkecuali di Pecinan, sebuah blok yang padat oleh warga pendatang dari tanah Cina.
Langkah kuda begitu pelan menyusuri jalanan yang becek. Hewan tunggangan itu berpapasan dengan pedagang makanan seperti kacang rebus dan minuman hangat seperti wedang jahe. Pikulan para pedagang tak beralas kaki itu dibawa ke tempat yang lebih ramai untuk dijajakan. Bagi Panca dan Bajra yang sedang kelaparan, wangi yang tercium semakin membuat perut keroncongan.
Tak jauh dari pandangan mata, tampak sebuah bangunan berwarna merah menyala. Dihiasi oleh lampion yang bergelantungan di kanopi beranda bangunan. Nyala lampion membuat suasana tampak hangat di antara rintik hujan suhu udara yang rendah.
"Akhirnya, kita sampai."
Panca mengomentari sambil berharap, "semoga A Ling tidak sedang sibuk."
Kuda pun berhenti melangkah tepat di depan sebuah rumah makan khas Cina. Kedai milik sepasang manula. Anak mereka sudah lama meninggal. Untuk menemani si kakek dan nenek, A Ling bekerja dari siang hingga malam di sana. Pasangan manula itu menganggap sang gadis sebagai anaknya. Begitupun sebaliknya, A Ling menganggap sang pemilik kedai sebagai orang tua angkat. Panca dan Bajra pun tahu bagaimana hubungan mereka bertiga, ketika ada keperluan maka mudah saja untuk mencari A Ling.
"Panca, Bajra. Mana pesananku?" A Ling menanyakan sesuatu yang nampaknya sudah dijanjikan sebelumnya.
"Ee ... maaf A Ling. Kami dirampok."
A Ling tidak langsung percaya. Raut wajahnya tidak tampak terkejut. Mungkin gadis itu sudah terbiasa mendengar berita kerampokan di Batavia.
"Benar, kami tidak bohong." Bajra menunjuk seekor kuda yang ditambatkan di tiang beranda kedai. "Kami datang kemari bukan dengan pedati."
"Oo ... jadi ...?"
"Ya, pesanan gerabah untuk rumah makan ini dan pesanan dari warga Batavia lainnya ... kami tinggalkan di jalan."
"Lebih tepatnya kami diancam, A Ling," Bajra menimpali alasan Panca.
"Diancam apa?" A Ling penasaran.
Namun pertanyaan A Ling belum terjawab. Si Kakek memanggil A Ling untuk mengantarkan pesanan kepada pelanggan. Panca dan Bajra hanya berdiri di beranda. Mereka enggan untuk masuk karena tidak ada bangku kosong yang tersedia.
A Ling kembali menemui kedua remaja itu. Dia membawa sebungkus makanan yang sengaja disiapkan untuk menyambut teman.
"Kami tidak memesan makanan."
"Ini bawa saja." Tangan kanan A Ling meletakkan dua bungkus nasi berserta lauknya di tangan Bajra. "Aku tahu kalian lapar."
"Kalau begitu terima kasih."
"Eee ... tadi kalian belum menjawab pertanyaanku." Rona pemasaran tergambar di wajah anak gadis itu, "kalian diancam siapa?"
"Orang yang tidak kami kenal ... Dia pemilik kuda ini."
"Pakaiannya serba hitam dan wajahnya ditutup kain." Bajra menimpali.
"Sebentar ... Kalian membuat ulah apa lagi?"
"Sepertinya dia ... tidak mau kami ikut campur."
"Dalam hal?"
"Kami mulai mencurigai motif pembongkaran makam di desa kami."
"Pembongkaran makam?" A Ling kaget dengan kalimat Panca.
Orang-orang yang sedang makan mengalihkan pandangan ke arah bingkai pintu yang terbuka. Pelanggan kedai memperhatikan tiga remaja itu.
"Kenapa? Kau seperti ...."
"Ssst ... bicaranya pelan-pelan." A Ling sadar jika perbincangan mereka sedang diperhatikan. "Ini kasus yang ... sedang hangat dibicarakan di sini."
"Maksudmu ... pembongkaran makam juga terjadi di sini?" Bajra mencoba menerka.
A Ling menganggukkan kepala. Air mukanya meyakinkan Panca dan Bajra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystère / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
