"Tuan, maaf ... kami sudah tutup." A Ling membungkukkan badan sambil tersenyum kepada Opsir Pieter.
"Tidak, aku tidak ingin makan. Justru aku ingin bicara denganmu."
"Eee ... kalau begitu ... silakan duduk."
Malam itu rumah makan tempat A Ling bekerja akan segera tutup. Sudah tidak ada lagi pelanggan yang biasa berlama-lama mengobrol di sana. Hanya ada A Ling dan si Kakek Tua yang sedang membersihkan meja dan bangku dengan lap. Apabila tadi pagi begitu ramai bahkan ada keributan kecil di sana, maka kini suasana berbeda sama sekali. Sepi.
A Ling memperhatikan langkah kaki sang polisi yang jenjang. Ketika dia duduk di bangku, tampak sekali jika tubuhnya tidak serasi dengan bangku panjang yang biasa digunakan oleh pelanggan orang-orang Cina.
Kedatangan seorang komandan polisi di kedai makan cukup membuat anak remaja itu bertanya-tanya, ada apa lagi?
"Saya hanya ingin meminta keterangan tambahan mengenai kasus pembongkaran makam ayahmu, A Ling."
Ketika memaparkan maksud dan tujuannya berkunjung, Opsir Pieter membuka topi kemudian meletakkannya di atas meja. Dia pun menjentikkan tangan kepada dua konstabel yang sedari pagi turut serta bersamanya. Dua lelaki pribumi berseragam dan menenteng senapan itu pun keluar melalui pintu yang masih terbuka, mereka menunggu di sana untuk memastikan jika tidak ada yang mengganggu ketika proses penyelidikan sedang berlangsung.
A Ling siap untuk melayani sebagaimana biasanya melayani tamu-tamu yang datang silih berganti. "Silakan, Tuan."
"Begini, A Ling. Saya sudah memeriksa surat kaleng yang dikirim padamu oleh orang yang tidak dikenal."
A Ling teringat akan sesuatu yang pernah ditunjukkan olehnya kepada Opsir Pieter. Ketika lelaki itu kembali datang untuk membicarakannya, ada sedikit harapan dalam benak gadis itu. Setidaknya, teka-teki yang menyelimuti mendiang makam ayahku bisa terbongkar.
"Apakah ada petunjuk ...?"
"Belum ada." Opsir Pieter menggelengkan kepala. Dia menghembuskan nafas, kelelahan menyelimuti wajahnya. "Tapi, kamu sendiri mencurigai seseorang?"
"Tidak, Tuan. Saya tidak berani mencurigai seseorang."
"A Ling, saya hanya ingin meminta kamu ... e ... melupakan saja kasus ini."
"Kenapa, Tuan. Ini penghinaan buat saya ... dan buat kami warga Cina."
"Justru itu, aku tidak ingin masalah ini jadi besar. Kau tahu, jika ini masalah bakal menjadi besar karena akan melibatkan orang Cina dengan orang pribumi."
"Maksudnya," A Ling mencondongkan tubuhnya, "... akan terjadi pertikaian?"
"Ya, kau tahu maksud isi surat itu, kan?"
"Ya, Tuan." A Ling menundukkan kepala. Suaranya berubah menjadi pelan. Ada rona kesedihan di wajahnya. "Ini seperti tantangan kepada kami."
Opsir Pieter menganggukkan kepala.
A Ling masih menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, dia enggan menatap wajah sang opsir polisi. Gadis itu merenungkan permintaan polisi di hadapannya.
Opsir Pieter kembali mengisap cerutu di tangannya. Asap mengepul keluar dari mulut pria Eropa itu. Tangan kanannya merogoh saku baju seragam berwarna biru dongker yang dikenakan. Dia bermaksud untuk menunjukkan sesuatu kepada A Ling.
Sebuah kertas digelar di atas meja. Warna kertas itu sudah kusam, tetapi tulisan di atasnya sangat jelas terbaca. Selembar kertas itu adalah surat yang ditemukan A Ling bersamaan dengan pembongkaran makam mendiang ayahnya. Sebuah kalimat ditulis menggunakan huruf Arab tetapi berisi bahasa Melayu yang berbunyi:
PERGI DARI SINI
INI BUKAN TEMPAT KALIAN
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
