Beberapa hari kemudian ...
Opsir Pieter berjalan dengan terburu-buru. Dia masuk ke Balai Kota dengan wajah penuh ekspresi kegembiraan. Dia disambut oleh resepsionis dengan senyuman lebar. Sebuah pagi yang indah bagi seorang polisi.
Pria itu diarahkan untuk langsung berjalan menuju ke ruang kerja Walikota. Dia berjalan di antara sederetan lukisan para Gubernur Jenderal dari masa ke masa yang terpajang rapi di dinding koridor.
"Selamat pagi, Tuan." Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk Opsir Pieter pun memberi salam.
"Ha, Pieter. Masuklah, duduklah."
Opsir Pieter menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia duduk di kursi depan meja kerja Sang Walikota. Bau tembakau menyeruak dalam ruangan berdinding putih tersebut. Ternyata sebatang rokok baru saja padam kemudian diletakkan di asbak.
"Lihatlah, Koran Batavia memberitakan namamu. Kamu populer hari ini."
"Hanya sebuah kebetulan." Senyuman di bibir Pieter bisa dikatakan sebuah senyuman sopan ketika berbicara dengan pemangku jabatan penting di Batavia.
"Tidak tidak, kau memang cerdas. Aku akui itu."
"Terima kasih, Tuan."
"Pieter, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu telah menyelesaikan kasus ini. Terus terang, aku senang. "
"Itu sudah tugas saya, Tuan."
"Tentu saja, tetapi kau tahu ...," telunjuk sang wali kota menunjuk wajah Pieter sambil menyeringai, "wajahku bisa tercoreng jika masalah ini terus berlarut-larut. Atau, bahkan menjadi masalah besar."
"Saya hanya tidak ingin kota ini menjadi kacau."
"Ya ya ya aku sepakat dengan itu." Walikota mengacungkan tangan kemudian menggoyangkannya berkali-kali. Sang Walikota menganggukkan kepala sembari terus membuka lembaran Koran Batavia. Dia membuka halaman depan yang memuat berita para polisi yang membekuk komplotan penjahat. "Lihatlah! Namamu ditulis di sini. Bahkan namaku tidak ada di sini."
"Saya sudah melihatnya."
"Kau tahu, Gubernur Jenderal senang melihat berita ini."
Opsir Pieter hanya tersenyum. Dia masih bertanya-tanya dalam hatinya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Walikota sehingga memanggilnya sepagi ini.
"Pieter, aku suka cara kerjamu. Kerjamu rapih."
"Hanya mengikuti prosedur, Tuan."
"Bukan bukan, kau selalu memikirkan banyak hal. Termasuk, citra kita sebagai Pemerintah. Kau pintar dalam hal itu."
"Bukankah sebaiknya begitu?"
"Ya, kewibawaan Pemerintah harus dijaga. Termasuk, urusan dokumentasi dan publikasi. Aku tahu kau yang mengaturnya." Senyuman yang tersungging dari bibir pria berkumis itu bisa dimaknai macam-macam oleh Pieter.
"Hanya kebetulan waktunya tepat."
"Ya ... aku tidak perlu tahu hal-hal yang terlalu teknis. Hal yang terpenting adalah Batavia aman. Tidak ada keributan antar golongan."
"Itu yang terpenting, Tuan."
Walikota kemudian berdiri. Dia berjalan ke dekat jendela. Menatap halaman luas di depan kantornya. "Sebenarnya aku ingin mempromosikanmu jadi komisaris. Bila perlu kau menggantikanku jadi walikota. Aku sudah tua, sudah waktunya pensiun."
"Ah, Tuan. Terlalu dini buat saya."
"Tapi, itu kan yang kau inginkan? Ini hanya masalah waktu. Tentu tanpa harus menabrak aturan yang ada. Aku bisa menjanjikan jabatan komisaris dalam waktu yang tidak terlalu lama. Aku pastikan itu."
"Terima kasih atas niat baik Anda. Saya hanya bekerja sebagaimana atasan menugaskan saya."
"Hei, Pieter. Kau penuh ambisi, aku tahu itu. Jauh-jauh kau datang dari Eropa pasti menginginkan hal besar terjadi padamu."
"Bukankah itu impian banyak orang?"
"Tentu saja, Pieter." Walikota mengangguk-angguk kepala sambil menunduk, ada sesuatu dalam pikirannya yang tidak terucapkan. "Aku juga begitu, kuakui itu. Makanya, aku mendukungmu untuk naik pangkat dalam waktu dekat. Anggap saja itu hadiah dariku karena membantuku dalam banyak hal."
"Terima kasih, Tuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
