50

78 17 0
                                        

Panca dan A Ling tidak bisa berkata apa-apa. Penjahat itu mendekatkan telunjuknya ke bibir. Tanda agar mereka diam, tidak berteriak.

Bajra berjalan mundur, teratur. Sedangkan Panca dan A Ling hanya berdiri terpaku ketika melihat temannya diseret menuju pinggir kanal. Bajra dalam bahaya, sebilah pisau ditunjukan oleh penjahat itu sebagai bentuk ancaman.

Panca dan A Ling kebingungan harus berbuat apa. Bajra sendiri tidak bicara sepatah kata pun. Dia ketakutan.

Panca dan A Ling terpaku untuk beberapa saat. Dia menyaksikan Bajra dan pria bertopeng itu naik ke atas sebuah sampan. Nampaknya, sampan sudah disiapkan sebelumnya di bawah jembatan. Pria bertopeng itu mengayuh sampan dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi mengarahkan pisau tepat ke leher Bajra.

Setelah beberapa saat, orang-orang yang sedang lalu lalang di pinggir jalan kemudian berkerumun di sekitar Panca dan A Ling. Mereka menunjukkan rasa simpatinya.

"A Ling, kau pulang saja. Aku akan mengejar Bajra."

"Tidak, Panca." Gadis berambut hitam itu menggelengkan kepala. "Aku harus ikut."

"Ini bahaya, A Ling."

"Aku tahu."

Panca pun berlari dengan kencangnya. Dia menyusuri tepian kanal. Licin, nyaris saja terpeleset. Anak itu tidak memperhatikan pijakan karena bola mata terus tertuju kepada si Bajra. Pikirannya pun penuh harap andaikan sampan yang membawa sahabatnya masih bisa dikejar.

Panca tidak menoleh sekalipun ke belakang. Bermaksud meninggalkan A Ling. Panca tidak ingin gadis itu ikut mengejar si penculik.

Membutuhkan waktu untuk bisa mendekat dengan sampan yang membawa Bajra.

Anak itu pun hanya bisa terus berlari. Terkadang berdiri terdiam ketika melihat si penculik kembali memberikan ancaman. Sebilah pisau diacungkan menjadi isyarat agar Panca tidak mendekat.

Anak remaja itu hanya bisa melintasi jembatan demi jembatan. Awalnya melewati jembatan beton di tengah kota. Kemudian berganti dengan jembatan bambu yang dibuat swadaya oleh warga. Semakin lama, semakin jauh dari pemukiman yang ramai. Jalur yang digunakan oleh sang penculik merupakan kanal yang melewati kampung-kampung dan perkebunan kelapa yang cenderung lebih sepi. Laju sampan masih terlihat dari kejauhan.

Sayang, Panca tidak bisa mendekat. Pria bertopeng itu menatap Panca dan terus mengacungkan pisau sebagai tanda ancaman. Jelas terlihat wajah Bajra yang ketakutan. Anak remaja itu tidak bisa tenang menghadapi situasi yang membahayakan dirinya.

Ke mana orang-orang?

Entah kebetulan atau tidak, sepanjang jalan Panca tidak menemui satu orang pun polisi yang bisa dimintai bantuan. Kali ini, dia harus berjuang sendiri. Mengikuti ke mana Bajra dibawa dan berharap dia tidak dilukai.

"Tolong!"

Suara meminta tolong itu tidaklah sekeras semestinya. Dia khawatir jika permintaan tolong tersebut malah memperparah ancaman si penculik. Permintaan tolong itu hanyalah ekspresi kekhawatiran seorang kawan.

"Bajra ...," anak remaja itu bicara lirih.

Air mata sulit untuk dibendung. Dia pun tersedu, meratapi kenyataan jika nyawa sang kawan sedang terancam.

Aku tidak akan berhenti untuk mengejar mereka.

Tepian kanal semakin jauh dari perkampungan warga. Pohon kelapa yang semula tampak berjejer, kini berganti dengan pohon-pohon palem-paleman yang tumbuh liar. Panca mulai kesulitan untuk sekedar berjalan.

"Hah ...," Panca kelelahan mengikuti sampan itu. Nafasnya tersengal.

Matahari mulai meninggi ketika dia sampai di luar tepian hutan. Cuaca yang cerah turut serta membuatnya cepat lelah. Matanya mulai terasa kunang-kunang.

Sampan itu semakin menjauh.

Pohon-pohon yang semakin rimbun menyulitkan penglihatan. Sampan yang dikayuh semakin masuk ke arah hulu. Kiri dan kanan kanal yang berumput berganti menjadi pohon-pohon nipah nan rindang yang menjulur hingga ke badan sungai.

Panca kehilangan jejak.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang