45

75 19 0
                                        

Pagi menjelang, Opsir Pieter masih terkantuk-kantuk ketika harus datang ke kantor Wali Kota. Dia masuk dengan langkah tergesa, berharap atasannya tidak membicarakan hal-hal yang membuat kepala pening.

"Duduklah dulu!"

"Terima kasih, Tuan."

Walikota menunjuk sebuah kursi yang terletak tepat di depan meja kerja. "Kau sudah mendapatkan petunjuk tentang kasus ini?"

"Kesimpulan sementara saya adalah ... ini motif politik."

"Pemberontakan?"

"Benih-benih pemberontakan, lebih tepatnya." Pieter mengoreksi kesimpulan dari walikota.

"Selalu. Batavia selalu dihuni orang-orang yang ingin memberontak."

"Mereka menguji kesabaran kita, Tuan."

Sang Walikota mengangguk, setuju dengan pernyataan dari Pieter. Kemudian dia pun duduk di belakang meja kerjanya. Tangan kiri membuka laci, mengambil sebatang cerutu lalu menyalakannya. "Cerutu?"

Tangan kanan Pieter mengambil satu batang cerutu dari kotaknya. "Terimakasih, Tuan."

"Mereka dari kelompok mana?"

"Belum jelas kelompok mana." Seraya menyalakan cerutu yang terjepit mulut. "Tetapi, kali ini mereka menyasar para pembesar di kota ini."

"Ya, aku mendengarnya."

"Ini bisa menjadi serius jika tidak diredam sejak awal." Asap dalam mulut Pieter dihembuskan, seperti cerobong lokomotif kereta.

"Bagus kau sudah meredamnya. Kau bertindak benar."

"Saya pikir ... mereka tidak ingin Batavia aman kemudian mereka bisa mengambil keuntungan dari situasi kacau yang mungkin terjadi."

Walikota memberi jeda perbincangan. Lelaki berkumis tebal dan melengkung itu berpikir sejenak. Sedangkan Pieter memberi kesempatan kepada pejabat negara tersebut untuk mengambil kesimpulan kemudian memberikan perintah lanjutan. Itulah maksud kehadiran sang opsir di ruangan bercat putih milik pemerintah Hindia Belanda. 

"Kalau melihat pola-polanya, mereka pasti orang-orang terpelajar." Walikota punya perkiraan tentang arah pemberontakan yang dimaksud, meskipun belum terbukti benar. "Gerakan mereka rapi."

"Saya juga berpikir begitu."

Wushh ... Sang Walikota menghembuskan asap ke udara. Pria berambut putih itu menatap Opsir Pieter. "Tangkap mereka dan beri mereka pelajaran!"

"Akan saya usahakan."

Walikota mendekatkan tubuhnya ke tepi meja. "Tunjukkan kepada orang-orang kalau kita masih punya wibawa."

"Baik, Tuan."

Walikota beranjak dari kursi. Tangan kirinya menepuk bahu Pieter. "Perlu tambahan personil? Jika kau membutuhkannya, aku akan minta agar petugas lain diarahkan ke kasus ini."

"Belum diperlukan, Tuan." Kembali mengisap cerutu dan mengeluarkan asap dari mulut. Ruangan menjadi bau asap serta bau puntung rokok. Jendela yang terbuka membantu asap untuk segera keluar dari ruangan dengan plafon tinggi.  "Mereka tidak mengajak berperang dengan saling berhadapan. Mereka mengajak kita bermain, Tuan."

"Bermain?"

"Ya, semalam ... salah seorang di antara mereka menampakan diri dan terang-terangan menantang untuk ditangkap."

"Oh, sudah kubilang. Mereka bukan penjahat kelas teri."

"Mereka mulai bernegosiasi."

Walikota menoleh kepada Pieter yang masih duduk, kemudian menatap serius wajah lelaki berseragam biru dongker. "Apa yang mereka minta?"

"Supaya orang Cina dan orang Eropa pergi dari tanah Jawa."

"Politis." Walikota pun tertawa sinis.

Setelah berhenti tertawa, perhatian lelaki berambut beruban itu pun teralihkan oleh kereta kuda yang datang. Bukan hanya satu, ada lagi kereta kuda lain yang masuk ke halaman Balai Kota. Dia sudah bisa memastikan jika penumpang dalam kereta itu adalah tamu yang ingin bertemu dengannya. Pagi hari, menjadi saat yang sibuk untuk menerima kunjungan orang dengan berbagai kepentingan.

"Tetapi," lanjut Pieter, "saya curiga jika mereka bisa menyasar perusahaan milik orang Cina ...."

"Sebagai jaminan."

"Mereka bisa memeras orang Cina satu persatu."

"Ya, untuk itu mereka berusaha membunuh Ketua Serikat Orang Cina di depan para anggota utamanya ...." Wali kota berbalik badan, "bajingan ...."

"Ketika mereka sedang mengadakan pertemuan."

Walikota mendekat ke arah pintu, sebuah isyarat agar Pieter meninggalkan ruangan. "Sengaja, agar menjadi sebuah isyarat bahaya."

Pieter pun mengangguk. Kemudian beranjak.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang