Langit Batavia kala itu menghitam. Matahari masih menyinari hari, tetapi awan menggelayut menghalangi sinarnya. Burung-burung di angkasa yang sedang ceria berubah menjadi bermuram durja karena mereka tidak bisa terbang sebebas sebelumnya.
Para pedagang di pinggir jalan mulai menepi karena menganggap hujan akan segera turun. Akan datang kerugian jika memaksakan diri untuk terus berada di tempat lapang. Pasalnya, titik air mulai terasa jatuh di kulit. Lagipula, mereka harus menghindar dari perkara yang bisa membahayakan nyawa.
"Wak wak wak!"
Dari sebuah rumah orang Cina terdengar suara seekor monyet peliharaan berteriak-teriak. Dia seperti ketakutan. Ketakutan melihat apa yang akan terjadi. Naluri alamiahnya masih berlaku meskipun saat ini dia sudah hidup di kota besar. Tubuh monyet itu melompat ke sana ke mari tetapi dia tidak sanggup pergi karena seutas tali mengikat pinggangnya.
Gerrrrr!
Ternyata hujan turun setelah lama menunggu perintah si awan.
Tidak jauh dari seekor monyet yang terikat tadi, masih ada kerumunan manusia. Mereka tidak ingin menghentikan pertikaian apalagi membubarkan diri. Apa yang mereka kenakan berubah menjadi basah. Tanah yang semula kering perlahan berganti menjadi genangan. Guyuran hujan tidak serta merta meredam amarah yang membara dalam hatinya.
"Bubar!"
Opsir Pieter sudah tidak sanggup lagi mengendalikan keadaan. Kata-katanya tidak terdengar karena terhalang oleh begitu banyak orang.
Bagi seorang polisi, warga yang enggan membubarkan diri bisa dianggap sebagai sebuah penghinaan. Terlebih, ada orang berani melawan kemudian menusuk tepat ke tubuhnya. Ini bentuk perlawanan kepada pemerintah yang memiliki kuasa.
Semula, pakaian seragam yang dikenakan sebagai simbol kekuasaan. Mereka pun dibekali senapan dan sebuah kelewang di pinggang dengan maksud untuk menonjolkan kekuatan. Sayang, kali ini lima orang polisi kota tidak sanggup menghadapi massa dengan jumlah berkali-kali lipat.
"Bubar!" sekali lagi seorang konstabel berteriak.
Lagi, teriakan tersebut hanya dianggap angin lalu. Tidak ada yang menggubris.
Keadaan semakin terdesak, Pieter tidak bisa berpikir jernih. Tubuh lelaki itu semakin lemah, ketika dia menyadari jika tubuhnya mulai mengeluarkan banyak darah. Ada noda gelap tepat di bagian perut. Matanya, tidak sanggup lagi melihat dengan jelas. Dia limpung.
"Tuan, bertahanlah!"
Para pengawal Opsir Pieter berusaha untuk melindunginya dari massa yang semakin berani bertindak diluar kendali. Bukan hanya harus melindungi jenazah yang tergeletak di tanah. Keempat lelaki bertopi jerami itu harus pula melindungi sang komandan. Untuk itu, mereka terpaksa mengeluarkan jurus pamungkas untuk membubarkan massa.
Dor!
Polisi itu sudah tidak sanggup lagi menahan desakan dari dalam hati. Senapan yang dipegang ingin sekali memuntahkan peluru. Terpaksa dia pun menarik pelatuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Tajemnica / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
