13

113 23 0
                                        

Panca dan Bajra berteduh di pos ronda yang berada tepat di pinggir jalan desa. Bangunan seukuran saung ini berfungsi pula untuk perhentian bagi warga yang melakukan perjalanan. Ada ruangan kecil untuk beristirahat ditambah naungan untuk hewan penarik pedati atau kuda yang digunakan oleh pengunjung yang singgah. Ketika tiba di sana, perjalanan mereka menuju Batavia terhenti untuk sementara.

"Untungnya kita sudah sampai di sini."

"Iya, jadi tidak kehujanan di jalanan."

Hujan yang mengguyur serta angin kencang membuat orang-orang di desa tempat kedua remaja itu singgah enggan untuk keluar rumah. Di pos ronda tidak ada orang satu pun. Petugas jaga malam itu nampaknya masih melaksanakan sholat isya di masjid. Karena hujan, mereka tertahan di sana.

"Raden," Bajra tidak bisa menahan lagi penasarannya akan isi pikiran Panca, "dari tadi aku lihat kau ... seperti memikirkan sesuatu."

"Ya, aku masih khawatir dengan perkataan ayahku. Dia ...."

"Justru aku setuju dengan Ki Lurah yang bermaksud untuk menjauhkanmu dari pertikaian yang mungkin terjadi di desa kita."

"Tapi, aku khawatir dengan keluargaku."

"Justru ini kesempatan kita untuk menghentikan pertikaian yang mungkin terjadi antara desa kita dengan desa tetangga."

"Caranya?"

"Ya, kita harus membuktikan jika pelaku pembongkaran makam itu bukan warga desa tetangga." Bajra memasang wajah serius. Obor yang menempel cukup untuk menampakkan mata bulat miliknya. "Jadi, tidak bisa menuduh mereka begitu saja."

"Berarti kita punya misi tambahan dalam perjalanan kita kali ini ...."

"Ya, ketika kita tahu siapa pelaku pembongkaran itu ... maka kita bisa menghentikan pertikaian itu."

Panca mengangguk pelan beberapa kali. "Secepat mungkin, sebelum keributan terjadi ... atau ada korban yang berjatuhan."

"Semoga saja Ki Lurah bisa menahan warga untuk tidak gegabah menuduh siapa saja tanpa bukti."

"Aku juga berharap jika dalam waktu tiga hari mendatang warga di Desa Pujasari masih bisa menahan diri."

Panca dan Bajra menarik nafas panjang. Mereka kembali terdiam, tidak berbicara. Hanya suara rintik hujan menemani mereka malam itu.

Kejadian malam sebelumnya ternyata menyita pikiran dua anak remaja tersebut. Desa tempat mereka tinggal sedang tidak aman. Padahal, hari-hari di sana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Desa yang terletak di kaki gunung memang jauh dari keramaian kota. Tidak banyak pula orang asing yang berkunjung ke sana. Kini, Panca dan Bajra meninggalkan désa yang tengah genting.

Mereka pergi bukan tanpa maksud.

Di pos persinggahan, sebatang obor menerangi tempat mereka berteduh. Sedangkan di sekitarnya gelap gulita, pandangan pun kabur. Sehingga, ketika ada orang yang berlari cepat ke arah pos ronda itu membuat Panca dan Bajra tersentak.

"Hei, ternyata kalian berdua." Seorang lelaki datang dengan suara nafas tersengal. Dia mengenali Panca dan Bajra.

"Ya, Paman. Seperti biasa, kami menumpang berteduh."

"Aduh, gawat ini."

Lelaki berbaju pangsi dan ikat kepala motif batik itu tak bermaksud untuk bercengkrama lebih lama. Dia langsung mengambil sebuah benda berukuran sekitar satu hasta. Sebuah pemukul kentongan berbahan kayu.

Tong tong tong!

Suara kentongan terdengar keras. Lelaki itu memukul benda berbahan bambu yang tergantung di langit-langit pos ronda. Bagi Panca dan Bajra, pola ketukan yang rapat dianggap sebagai pertanda bahaya. Tampaknya cara orang memukul kentongan sama di mana-mana. Berarti, warga harus memberi tanggapan segera.

"Gawat ... gawat kenapa, Paman?"

"Eehh ... Ada orang yang membongkar makam ...."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang