Kuda yang ditunggangi Opsir Pieter ditambatkan di palang kayu yang tersedia untuk menambatkan kuda. Penunggangnya sendiri turun kemudian berjalan ke arah pintu gerbang sebuah rumah. Pintu gerbang rumah itu berukuran besar, berwarna merah dan dihiasi tulisan Cina berwarna kuning. Lelaki itu berdiri di sana, berpikir tentang apa yang akan dilakukan berikutnya.
"Sepertinya yang punya rumah sedang mengadakan pertemuan."
Opsir Pieter mendongak ke atas. Dari lantai dua rumah itu terlihat orang-orang yang berkumpul karena jendela dibuka agar angin masuk demi menyegarkan ruangan.
Ukuran rumah tersebut terbilang besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di kawasan Pecinan. Dari kejauhan saja bisa terlihat jika rumah itu begitu megah. Ornamen di pintu gerbang dan atap didominasi oleh patung naga. Hewan mitologi itu seakan menjadi penjaga dari marabahaya. Genteng merah menjadi penanda jika rumah pemilik rumahnya orang kaya. Berbeda jauh dengan rumah warga pribumi miskin yang berbahan rumbia.
Kiiitttt ...
Pintu gerbang itu terbuka. Seseorang berdiri di muka pintu dan memasang wajah tanpa ekspresi. Dia maju selangkah, mendekat hingga berdiri tepat di depan bingkai gerbang yang beratap genting merah.
"Tuan, kami sedang mengadakan pertemuan. Jika ada keperluan, bisa dibicarakan lain waktu."
"Saya tahu, dari sini kami bisa menyaksikan jika Tuan Ketua sedang menerima banyak tamu."
"Sekali lagi, kami mohon maaf." Lelaki berbaju changsan itu kembali membungkukkan badan. "Kali ini Tuan Ketua tidak bisa melayani tamu."
Opsir Pieter tersinggung dengan penolakan si empunya rumah. Baginya, seorang polisi ditolak berkunjung bisa dianggap penghinaan.
"Kau tidak melihat jika aku datang ke sini menggunakan seragam Polisi?"
"Saya tahu, Tuan." Si lelaki Cina kembali membungkukkan badan. "Tapi, maaf. Saya hanya menjalankan perintah."
"Memangnya majikanmu itu siapa? Berani menolak kedatangan seorang polisi?" Opsir Pieter mendekatkan wajahnya ke bujang yang telah membukakan pintu gerbang itu.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani ...."
Opsir Pieter hanya melotot. Matanya menyorot tajam bujang itu. Si bujang tahu jika dia sedang diancam oleh seorang polisi.
Opsir Pieter memaksa untuk masuk. Percuma saja seorang bujang menahan dirinya, tak berhasil. Dia berjalan tegap tanpa menghiraukan permohonan si bujang.
"Tuan, saya mohon untuk tidak masuk ...."
"Ah, ini urusan polisi. Kau tidak bisa mencegahku."
Ketika Opsir Pieter masuk ke halaman, para centeng di rumah itu langsung bergerak demi menghadang si polisi. Mata mereka tajam menatap Opsir Pieter. Kini, polisi itu dikelilingi oleh lima centeng yang kesemuanya orang Cina.
Orang-orang itu tidak bicara sepatah kata pun. Bahasa tubuhnya sudah jelas menyiratkan kebencian kepada Opsir Pieter. Sang polisi tahu jika kedatangannya sangat tidak diharapkan.
"Aku datang ke sini bukan untuk membuat keributan."
"Bagaimana kami yakin jika Tuan tidak berbuat apa-apa dengan Ketua kami?" salah seorang di antara mereka bertanya dengan nada penuh keraguan.
"Katakan padanya ... aku tidak akan menangkapi kalian atau siapa pun." Bola mata Pieter tertuju ke jendela yang terbuka di lantai dua rumah bergaya campuran Cina dan Eropa tersebut. "Lihatlah, aku hanya datang bertiga ...ditambah tiga anak remaja."
Para centeng itu saling pandang. Mereka memandang si bujang yang sedari tadi berdiri di pintu gerbang. Si bujang pun menganggukkan kepala.
"Aku tidak bohong. Aku hanya ingin membicarakan masalah A Ling dan temannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
