22

90 22 0
                                        

Orang sudah berkumpul di pinggir kanal ketika Opsir Pieter tiba di sana. Matanya tertuju kepada wajah-wajah dengan warna kulit beragam.

Gawat, orang Cina dan orang pribumi sudah berkumpul di sana, batin sang polisi merasakan desiran berbeda.

"Tuan, mereka sudah berkumpul."

"Saling berhadapan."

Opsir Pieter tidak menanggapi omongan dua pengawalnya. Dia langsung turun dari pelana.

"Bagaimana ini, Tuan?"

Opsir Pieter hanya mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar dua konstabel itu harus tetap tenang. Serahkan semuanya kepadaku.

Lelaki itu membiarkan si kuda untuk dituntun oleh seorang polisi pengawal. Kuda tunggangannya ditambatkan pada sebatang pohon yang tumbuh di sana. Agak menjauh dari kerumunan agar si kuda tidak merasakan ketidak nyamanan. Sejumput rumput membuatnya betah berteduh di sana.

"Mereka sudah tahu apa yang telah terjadi?"

"Sepertinya begitu, wajah mereka terlihat menegang."

Opsir Pieter saling berbisik dengan pengawalnya ketika beberapa langkah lagi para polisi itu sampai di titik lokasi yang dituju. Wajah-wajah orang yang sedang berkerumun itu berbalik melihat sekelompok petugas keamanan yang datang.

"Tuan, mana janjimu?"

"Janji apa?" Opsir Pieter membentak orang yang menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.

"Lihatlah, sudah ada korban karena polisi lamban menangani kasus pembongkaran makam itu!"

"Bagaimana bisa kau menyimpulkan dua mayat yang tergeletak ini dengan kasus pembongkaran makam?"

"Lihatlah, di atas mayat itu ada batu nisan!"

Suasana jadi riuh-rendah padahal sebelumnya tidak ada seorang pun yang berani bicara. Bagi seorang polisi kolonial, warga yang membentak sama dengan menyinggung harga diri. Oleh karena itu, para petugas berseragam biru dongker itu pun mengacungkan senjata. Sepucuk senapan ditodongkan ke arah kerumunan oleh polisi yang berjaga sebelum Opsir Pieter datang lebih dekat.

"Diam!"

Seorang polisi membentak si tukang protes. Pria itu berhenti mengoceh ketika moncong senapan mengarah ke wajahnya.

Untuk sementara, tidak ada lagi suara-suara yang memancing kegaduhan.

Opsir Pieter tidak lagi menghiraukan orang-orang yang berkerumun. Matanya tertuju pada dua mayat yang tergeletak di pinggir kanal. Opsir polisi itu membuka kain yang sedari tadi menutupi tubuh si korban.

Seorang pria Cina dengan luka tembak di dadanya. Dan, seorang pria bumiputera dengan luka sayatan di sekujur tubuhnya. Dan ... sebongkah batu nisan yang dililitkan ke tubuhnya.

"Bawa jenazah ini ke Rumah Sakit!"

"Ya, Tuan."

Perintah dari Pieter cukup jelas. Sebuah kereta kuda tanpa atap sudah menunggu di tepian kanal. Kendaraan itu pun mendekat untuk membawa dua mayat yang tergeletak di permukaan tanah. Opsir Pieter berharap tidak ada lagi yang berani bicara ketika polisi membopong mayat ke atas kereta kuda. Dia berharap warga tidak menjadikan kejadian ini sebagai isu yang dibesar-besarkan.

"Hei perhatian, anggap saja kalian tidak pernah melihat apa-apa. Jangan membuat gosip murahan. Biarkan polisi menyelesaikan kasus ini!"

Kata-kata itu mujarab bagi orang-orang yang sedang berkerumun  di sana. Mereka takut dengan sikap tegas polisi. Namun, tidak bagi sekelompok orang yang baru datang kemudian.

"Apa maksudmu, Tuan? Menganggap ini semua tidak terjadi?"

Seorang pria berteriak dari arah tak terduga. Diikuti oleh puluhan pria lainnya, orang itu berjalan tergesa menemui Opsir Pieter.

"Mana janjimu untuk menyelesaikan ini?"

Suasana memanas ketika sekelompok pria berbaju changsan datang. Langkah mereka begitu cepat. Rambut yang dikepang menjuntai hingga pinggang tampak bergoyang-goyang. Semuanya tiba dengan wajah tegang.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang