Tidak ada yang tahu siapakah orang yang melemparkan sebilah pisau. Tiba-tiba saja melesat kemudian menusuk hingga ke ulu hati Sang Ketua Serikat Orang Cina. Peristiwa mendadak demikian membuat semuanya terkaget-kaget. Tidak terkecuali, Panca dan dua sahabatnya.
"Sembunyi, sembunyi!" Panca menunjuk sebuah meja yang semula dikelilingi para tamu.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua orang konstabel yang semula berjaga di pekarangan kini naik ke lantai atas. Mereka mematuhi perintah komandannya. Diikuti oleh tiga orang centeng, dua polisi itu langsung mengamati keadaan.
"Panggil tabib!"
Entah siapa orang yang berlari keluar untuk mencari seorang tabib. Ketika tahu tubuh Sang Ketua limpung, maka Opsir Pieter meraih tubuh si lelaki berbaju changsan berbahan sutera. Orang yang paling dekat harus sigap memberikan pertolongan. Darah segar mengalir hingga membasahi lantai, bau amis. Demi menghindari hal yang membahayakan maka tubuh lemah Sang Ketua dibawa ke tempat yang dianggap lebih aman, menjauh dari jendela.
"Bertahanlah, Tuan."
Keadaan menjadi sangat kacau. Para tamu yang menghadiri pertemuan langsung berhamburan demi menyelamatkan diri. Apalagi perempuan istri para pembesar, mereka segera masuk ke dalam ruangan tertutup yang bisa dijadikan tempat untuk berlindung dari serangan lanjutan.
Opsir Pieter tidak berani mencabut pisau yang menancap di ulu hati Sang Ketua. Dia menganggap jika mencabutnya begitu saja maka robekan luka akan semakin menganga. Untuk sementara, dia menahan laju aliran darah dengan kain yang disodorkan oleh pelayan rumah.
"Beri dia ruang!"
Semua kalut, termasuk Panca, Bajra dan A Ling. Mereka bertiga hanya sanggup untuk bersembunyi di bawah meja. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali memperhatikan andaikan penyerang itu kembali melesatkan pisau.
"Tutup pintu dan jendela! Tutup semuanya! Di lantai bawah juga, tutup!"
Opsir Pieter terus memberikan aba-aba kepada orang-orang yang ada di dalam rumah. Wajahnya begitu kalut, dia seakan diserang secara mendadak tanpa persiapan. Sebagaimana niat awal kedatangannya, Opsir Pieter hanya ingin berunding dengan orang-orang Cina itu. Tetapi, peristiwa tak terduga kemudian terjadi.
"Sekarang, bantu aku mengangkat Ketua ke tempat tidur."
Tanpa saling mengandalkan, para pria yang ada di sana membopong Sang Ketua ke kamar tidurnya. Meskipun mereka masih kaget dengan kejadian yang tidak terduga ini, orang-orang di sana bersedia membantu.
"Untuk malam ini, sebaiknya jangan ada yang pulang dulu. Termasuk kalian." Opsir Pieter menatap A Ling, Panca dan Bajra yang sedang merunduk di bawah meja. "Saya tidak ingin ada korban lagi. Kita tidak tahu seberapa jauh mereka akan berbuat."
Tiga anak remaja itu menanggapinya hanya dengan sebuah anggukkan.
Sebagian orang yang masih berkumpul di ruangan itu memandang Opsir Pieter. Mereka mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan disampaikan petugas polisi tersebut.
Detik demi detik telah berlalu. Ternyata, tidak ada serangan lanjutan atau apa pun yang mengancam nyawa. Serangan tadi hanya ditujukan kepada Sang Ketua, sebuah serangan kilat.
Tatkala semua mulut terkunci, ternyata Bajra tak bisa menyembunyikan ketakutan. "Raden," suaranya terdengar gemetar, "bagaimana ini?"
"Tenang, sepertinya keadaan sudah aman," jawab Panca.
A Ling meraba bahu penuh lemah milik Bajra. Anak gadis itu berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
Tangan kanan Pieter diangkat ke atas. Bermaksud agar semua orang yang ada di sana untuk diam, tak bersuara. Arah pandangan lelaki Eropa itu tertuju kepada tiga remaja yang menunduk di bawah meja. Terpaksa, semua menajamkan telinga dan memastikan tidak ada orang asing yang datang. Hingga, tidak terdengar suara apa pun kecuali seekor kucing yang mengeong di atas atap.
"Sekarang kalian bisa paham, jika kita sedang menghadapi musuh yang sama! Untuk itu, percayakan masalah ini pada kami untuk diselesaikan." Suara itu berasal dari mulut Opsir Pieter. "Saya minta kerjasamanya, tidak usah lagi kita saling curiga!"
"Baik Tuan, saya percayakan kasus ini untuk diselesaikan oleh Polisi," lelaki Cina yang tadi tampak menentang kedatangan polisi kini berubah sikap.
"Bagus. Kalau begitu, ingat pesan saya tadi. Jangan dulu pulang sebelum matahari terbit esok!"
Panca, Bajra, dan A Ling saling tatap tanda menyepakati permintaan Opsir Pieter.
"Kalau begitu, saya pamit. Saya ingin mengejar bajingan itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
