17

88 24 0
                                        

"Ke mana orang itu pergi?"

"Dia pergi ke arah sana! Ke arah jalan desa."

"Sulit dikejar, dia naik kuda!"

Perbincangan kembali riuh tatkala warga kembali pulang. Di tengah jalan setapak menuju kampung, topik pembicaraan belum beralih dari peristiwa pembongkaran makam. Suara derap langkah yang mengiringi perbincangan menambah panas suasana.

Panca dan Bajra saling lirik. Tanpa kata yang terucap, kedua anak remaja itu mengerti keadaan seperti apa yang tengah terjadi. Pikiran mereka menerawang ke tempat lain, Désa Pujasari. Panca menganggukkan kepala, dibalas dengan sebuah anggukkan dari Bajra. Kejadian yang mirip dengan di sana.

Mereka berdua mendapatkan informasi baru. Percakapan warga di area pemakaman menjadi embaran penting bagi penyelidikan kedua anak remaja itu.

"Paman, besar kemungkinan orang itu datang dari jauh," Panca memberikan sebuah perkiraan.

"Ya, sepertinya begitu, Nak."

"Tapi ... buat apa dia datang jauh-jauh ke sini dan membongkar makam?" Bajra pun mengajukan sebuah pertanyaan yang bisa mengarahkan untuk bisa mengetahui maksud seseorang membongkar makam.

"Pesugihan."

Semua orang melihat ke arah pria yang baru mengatakan jika motif pembongkaran makam itu karena pesugihan. Sebuah kata yang keluar begitu saja tanpa menyadari akan mengundang perhatian. Di antara mereka saling lirik. Sebagian orang berbisik satu sama lain. Obor dan lentera memperjelas reaksi orang tersebut ketika semua mata tertuju kepadanya.

"Benarkah, Paman?"

"Bisa jadi. Aku hanya menduga."

"Tapi ... alasan karena pesugihan bisa kita singkirkan ...," Bajra menggelengkan kepala sambil memperlihatkan raut wajah meyakinkan para pendengar. Anak itu pun menoleh ke belakang, ke barisan warga yang berjalan sambil menenteng lentera sebagai alat penerangan.

"Apa maksudmu, Nak?" seorang pria paruh baya bertanya menyelidik. Dari caranya berbicara, sepertinya pria ini sebagai orang yang dituakan.

"Eee ... baru saja malam kemarin ... di desa kami pun ada kejadian serupa." Panca bicara dengan nada datar.

"Pembongkaran makam? Makam siapa yang dibongkar?"

"Mendiang lurah terdahulu di desa kami ...," Bajra memberikan keterangan cukup jelas.

Karena topik perbincangan yang menarik, warga berhenti melangkah dan berkerumun di satu titik. Mereka berkumpul tepat di bawah pohon nangka rindang sambil berharap jika tetesan air hujan tidak membasahi tubuh.

Orang-orang yang berkerumun saling pandang. Ekspresi wajah mereka sulit diterka. Tetapi, Panca menduga jika mereka kaget mendengar berita ini. Cahaya obor yang ada mulai meredup. Rintik hujan mempengaruhi api yang menyala di batang obor yang dipegang warga.

"Sebentar ... kenapa bisa sama ya?"

Semua orang kembali saling pandang. Tidak memiliki jawaban.

"Kami mengira ... jika ini sengaja ...," Bajra baru buka suara setelah mengamati percakapan para pria di hadapannya.

"Sengaja, untuk apa?"

"Agar kita saling curiga ...."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang