54

73 19 0
                                        

Ini bukan hutan belantara yang sangat lebat. Karena tidak jauh dari ibukota, sepertinya hutan ini sering dijamah manusia. Tentu saja ini adalah tempat yang cocok bagi para penjahat untuk melarikan diri atau sekedar bersembunyi dari kejaran polisi.

Pohon-pohon berukuran besar menjadi tempat yang nyaman bagi binatang untuk membangun sarang. Itu pun nyaman bagi manusia. Bagaimana tidak, cabang-cabang dari pohon itu cukup untuk bersandar, tiduran atau bahkan membangun rumah. Ya, sebuah rumah pohon.

Panca kaget sekaligus terkesan ketika dia mendongak ke atas. Ada sebuah rumah di atas pohon beringin!

"Hahahaha ... kau kaget dengan apa yang kau lihat?"

Tidak ingin menanggapi kelakar orang di balik deretan pohon, Panca ingin segera tahu keberadaan Bajra. "Mana teman saya?"

"Tenang, dia baik-baik saja di sini."

Panca berdiri diantara empat atau lima pohon besar. Sulur-sulur menjuntai di antara tanah lapang yang sedikit lebih bersih dibandingkan bagian tanah yang lain. Tempat Panca berdiri seperti halaman rumah yang sering mendapatkan sapuan. Nyaris tidak ada daun kering yang berserakan. Telapak kakinya hanya merasakan tanah lembab karena langka terpapar sinar mentari.

Oh, ini markas mereka!

Panca mulai menyadari sesuatu. Dia masuk ke sarang penjahat!

"Hei, naiklah ke sini! Kau mau bersenang-senang dengan kami?"

Suara laki-laki dengan logat Sunda yang kental kembali terdengar. Sosok yang berbicara masih belum mau menampakkan diri. Sepertinya mereka masih bersembunyi di rumah pohon itu.

Sebuah rumah pohon yang dibangun di antara batang-batang beringin yang kokoh. Atapnya terbuat dari daun nira, tiang-tiangnya dari bambu dan daun-daun jati sebagai dinding yang menghalangi.

Jika dari kejauhan, rumah pohon itu tidak jelas terlihat. Daun beringin yang lebat menjadi penghalang pandangan, bagus bagi siapa pun yang berniat untuk bersembunyi. Dan, orang baru menyadari jika ada rumah di tengah hutan seperti ini ketika sudah berada dalam jarak dekat.

Panca memutar badannya. Pandangan masih menerka-nerka, di mana orang-orang itu.

"Hei, siapa pun kalian. Aku minta kembalikan temanku. Aku janji tidak akan memberitahu keberadaan tempat ini pada siapa pun."

"Hahaha ... kau mau beradu tawar denganku?"

"Kami tidak punya salah." Panca memohon sekaligus berusaha tetap tegar. "Buat apa kalian harus menangkap Bajra?"

"Bajra? Itu nama dia. ... Kalian sudah terlalu ikut campur dengan urusan kami!"

"Maafkan, maafkan kami jika itu bisa menyinggung kalian. Aku janji tidak akan membawa masalah ini jadi lebih besar lagi."

Tidak ada jawaban.

Panca menunggu jawaban dari orang misterius di sekitarnya. Namun, bukan hanya jawaban yang dia dapatkan.

Sosok-sosok berbaju hitam itu turun dari pohon. Jumlah mereka banyak. Tidak sempat untuk menghitung apalagi mengingat-ingat perawakan orang-orang yang berpenampilan sama. Golok di pinggang masing-masing dari mereka sudah menjadi penanda jika Panca tidak bisa berbuat sesuka hati.

Dari penampilannya saja, membuat hati Panca gentar. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit anak remaja itu. Apa yang akan mereka lakukan kepadaku?

Tubuh mereka seperti melayang ketika turun dari pohon. Desir angin membuat pakaian yang dikenakan terkesan melambai-lambai. Seutas tali yang mereka gunakan sebagai pegangan, nampak seperti alat untuk menggelantung. Mereka turun dari pohon layaknya segerombolan monyet yang memburu makanan.

"Hei anak muda, aku tidak tertarik dengan tawaranmu."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang