"Tuan, hujan semakin besar mengguyur."
"Kenapa, ada masalah?" Opsir Pieter bicara dengan suara tinggi pada seorang konstabel.
"Maksud saya, apakah ini tidak akan menjadi penghambat operasi kita kali ini?"
"Aku tahu, tapi waktu terus berlalu ... aku tidak ingin ada lagi korban yang berjatuhan."
Blrrrr ...!
Cahaya datang dari langit, seketika langit Batavia menjadi terang.
Braakk!
Petir itu menyambar ujung pohon kelapa yang kebetulan tumbuh di sebuah perkampungan. Semua yang mendengar suara itu refleks mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Nampak dari kejauhan, pucuk pohon kelapa yang awalnya berwarna kekuningan berubah menjadi hitam. Jelaga mengubah warna terang pohon nyiur itu. Hangus.
"Kita tunggu, 2 regu lagi, Tuan." Konstabel tadi mengusap wajah yang basah, topi jerami ala Tangerang yang dikenakan tak sanggup lagi menahan air hujan nan deras.
"Baiklah, kita tunggu mereka. Kita membutuhkan mereka."
Opsir Pieter duduk dengan kepala tegak di atas kuda. Dengan guyuran air hujan yang belum reda, petugas kepolisian itu memandang ke arah luar kota. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, deretan pohon menjadi penanda akhir sebuah kota. Sambil menunggu anggota lainnya tiba di tepian kota, Opsir Pieter terus membayangkan bagaimana situasi yang akan dia hadapi ketika harus masuk ke hutan di tengah hujan yang semakin lebat.
Mata Opsir Pieter tertuju kepada dedaunan yang terus bergoyang dengan kencangnya. Pertanda angin yang meniup juga kencang.
Cuaca sedang tidak berpihak kepadanya.
Opsir Pieter menyadari jika situasi yang dihadapinya tidak mudah. Apalagi setelah dia melihat tanah yang semakin basah dan genangan air di jalan menuju hutan bisa menenggelamkan sepatu.
"Tuan, sepertinya Batavia akan mengalami banjir."
Pieter bicara dengan nada ketus, "bukankah itu biasa?"
"Maksud saya ... kemungkinan besar Walikota akan menarik mundur pasukan."
"Aku tahu, masalah banjir akan diutamakan. Makanya, sebelum perintah itu datang ... aku ingin meringkus penjahat-penjahat itu."
Dua regu personil yang ditunggu akhirnya datang. Sebagian dari mereka berkuda, sebagian lagi berjala kaki. Senapan laras panjang dan kelewang yang tergantung di pinggang. Tubuh yang basah kuyup pun sepertinya tidak menyurutkan para polisi itu untuk melakukan tugas.
"Aku sudah mengatur strategi. Ikuti perintah setiap pemimpin regu. Ingat, musuh yang kita hadapi sepertinya orang-orang terlatih. Jadi, jangan gegabah dalam bertindak. Mengerti?"
"Siaaap!" Semua polisi di hadapan Opsir Pieter berteriak serempak.
Hujan masih deras mengguyur. Tidak ada tanda-tanda akan mereda. Malah, petir terus menyambar dan angin terus berhembus dengan kencangnya.
"Maju!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystère / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
