Panca, Bajra, dan A Ling berjalan kaki menuju rumah makan. Pagi itu A Ling harus kembali bekerja. Sedangkan, Panca dan Bajra berencana akan segera pulang dan bermaksud untuk berpamitan.
Ketiganya berbincang tentang banyak hal. Masih sulit terlepas dari kejadian malam tadi. Hingga sampai kepada obrolan tentang kegiatan mereka hari ini.
"Kasihan bapak dan ibuku, membuat mereka khawatir karena belum pulang dari semalam."
"Tenang, A Ling. Kami akan membantumu untuk menjelaskan alasan kamu datang terlambat." Bajra menoleh kepada Panca.
Anak remaja bercelana pangsi hitam itu hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.
Mereka bertiga berjalan sambil diiringi oleh kuda yang dibawanya sejak kemarin. Untuk saat ini, kuda itu menjadi milik Panca dan Bajra. Tentu saja sebelum pemiliknya memintanya kembali.
Karena tanggung, kuda itu hanya dituntun saja. Mereka bertiga berjalan menyusuri deretan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai dagangan. Tercium wangi aroma jajanan yang ditawarkan oleh para pedagang. Masih pagi, suasana masih sibuk dengan orang yang lalu-lalang. Juga kuda-kuda dan pedati. Roda pedati dan kaki yang menyentuh tanah becek menjadi penanda jika tadi malam hujan turun.
"Hei, kembalikan kudaku!"
Terdengar seseorang bicara dari arah belakang. Panca dan Bajra menoleh ke belakang. Mereka berdua mengenal sosok yang bicara. Masih menggunakan topeng dan pakaian serba hitam.
Gawat!
Tangan orang itu memegang pundak Panca dan Bajra. A Ling sendiri kaget ketika menyaksikan orang itu masih enggan untuk membuka topengnya. Selembar kain hitam menutupi wajah. Hanya kedua mata saja yang masih nampak.
"Eh, Paman." Bajra menoleh ke belakang. Dia tersenyum sebagai bentuk keramahan.
Sedangkan Panca mengerlingkan mata pada A Ling yang berdiri paling depan.
"Kabur!"
Wusshhh! Ketiga remaja itu berlari dengan kencangnya.
"Bocah brengsek!"
Laki-laki bertopeng itu tidak mau tertinggal. Dia berlari dengan kencangnya. Sedangkan si kuda, hanya ditinggalkan begitu saja. Kebingungan.
Warga yang menyaksikan kejadian tak biasa itu hanya bisa menerka-nerka. Ada apa ini? Kenapa ada orang mengejar A Ling dan dua kawannya? Apakah mereka hendak diculik?
Belum ada yang bisa memastikan.
Bagi mereka yang mengenal A Ling, tergerak untuk segera membantu. Sedangkan bagi mereka yang baru tiba di sana, tidak mengenal satu orang pun remaja tanggung tersebut, belum bisa memutuskan untuk turut campur atau diam saja.
"Tolong! Dia mau menculik kami!"
Suara khas si gadis Cina itu lumayan menyita perhatian. Bapak-bapak dan pemuda yang kebetulan sedang berkegiatan di sepanjang trotoar segera menunda pekerjaan. Tangan mereka spontan mengambil kapak, golok, atau sebatang tongkat sebagai senjata. Bersiap andaikan lelaki bertopeng itu melawan.
Panca, Bajra dan A Ling berlari kencang hingga tiba di jembatan yang membelah kanal. Mereka melintas dan berpapasan dengan iring-iringan pedati yang membawa banyak hasil bumi.
Mooh!
Seekor sapi gusar ketika melihat anak manusia tidak ada kegiatan yang bermanfaat. Sepagi ini. Padahal si sapi sudah harus menarik beban begitu berat.
Laki-laki bertopeng itu juga telah tiba di jembatan. Matanya memperhatikan sekeliling. Di sepanjang kanal, dia tidak melihat ketiga anak remaja itu.
Di mana bocah tengik itu?
Ketika menoleh ke belakang, sekumpulan lelaki berlarian sambil mengacungkan senjata masing-masing. Mereka siap untuk mengeroyok.
Sedangkan si lelaki bertopeng, tidak siap untuk dikeroyok.
Laki-laki itu kembali meneruskan langkahnya. Kali ini dia berlari ke arah utara. Berharap ketiga remaja itu tidak berlari terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Laki-laki berpakaian serba hitam itu kini tidak tampak. Tubuhnya tenggelam oleh manusia yang lalu-lalang pagi itu.
Sementara itu, di dalam pedati yang dipenuhi muatan, tiga remaja tadi hanya bisa mengamati keadaaan. Tak berani keluar sebelum keadaan aman. Untungnya, lelaki itu berlari terbirit-birit setelah tahu akan dikeroyok.
"Ah ... Alhamdulillah. Kita aman, Raden." Bajra meyakinkan Panca dan A Ling.
"Akhirnya." A Ling keluar dari tumpukan rumput yang dibawa pedati.
"A Ling, maafkan kita karena sudah membawa kamu ke dalam urusan ini." Kalimat yang terucap dari mulut Panca terdengar sebagai sebuah penyesalan.
"Tidak apa-apa." A Ling menghela nafas kembali. Dia butuh udara segar. "Aku tahu, sejak dulu berteman dengan kalian selalu dekat dengan bahaya."
"Hhahh ...." Bajra masih menghirup udara segar, bercampur dengan bau lumpur dari kanal dan jalan raya yang belum kering.
Mereka bertiga pun keluar dari persembunyian. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada si pemilik pedati. Orang itu membalasnya dengan senyuman.
Ketiganya masih memandangi sekawanan warga yang mengejar "si penculik". Semakin menjauh dari tempat mereka berdiri. Hingga mereka pun berpencar setelah sampai di sebuah persimpangan jalan. Tampaknya mereka geram andaikan belum bisa menangkap kemudian memukulinya hingga babak belur.
"Aku curiga, dia bagian dari kelompok yang sedang dikejar Opsir Pieter."
"Sepertinya begitu." Bajra pun setuju dengan perkiraan dari Panca.
"Dan, kita dalam bahaya. Dia tidak akan membiarkan kita hidup. Kita sudah terlalu banyak tahu tentang masalah ini."
Bajra mengajukan pertanyaan penting, "kita harus bagaimana?"
"Kita pulang dulu mengantar A Ling. Terus kita segera pulang ke Desa Pujasari."
Mereka pun berjalan dengan langkah gontai. Kelelahan masih menggerayangi ketika sebelumnya diajak berlari cepat.
"Kau belum boleh pulang, bocah gembrot ... hehehehe."
Panca dan A Ling kaget ketika Bajra dibekap dari belakang. Tiba-tiba, tanpa peringatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
