69

72 20 0
                                        

Rumah Judi itu tidak seramai malam sebelumnya. Mungkin karena hujan yang deras membuat orang malas untuk keluar rumah. Jika ada yang sengaja datang ke sana, itu pun karena rasa suntuk yang sudah tidak bisa dilawan.

Opsir Pieter masuk ke Rumah Judi dengan kepala tegak. Dia ingin memperlihatkan kewibawaan seorang petugas negara di hadapan banyak orang dari berbagai golongan.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Mohon maaf jika mengganggu kesenangan Anda semua."

"Oh, Tuan. Dengan senang hati kami menyambut Anda," seorang lelaki Cina datang menyambut dengan senyumnya yang lebar.

"Saya hanya ingin menemui beberapa orang di sini."

Untuk sekilas, orang-orang yang sedang asyik dengan permainannya melirik ke arah Opsir Pieter. Mereka merasa aneh ketika menyaksikan tiga orang polisi datang dengan pakaian yang kotor. Mereka pulang dari mana?

Opsir Pieter berjalan demi menghampiri meja permainan dadu. Dia tertarik dengan pria pribumi berbadan kurus yang sedang asyik bermain permainan dadu. Bersamanya, ada empat pemain lain yang duduk di atas dipan sambil mengitari kepingan uang.

"Bisakah kau ikut denganku. Ada yang ingin aku bicarakan."

Pria itu menatap Tuan Pieter dengan perasaan kesal. Dia menyimpan lintingan tembakau di atas asbak, tampak kesan jika tak suka ada orang yang mengganggu keasyikan di tengah permainan. Mulut yang bersungut-sungut tak bisa berhenti sebelum seorang konstabel menepuk pundaknya. Bagi dia, menolak permintaan polisi bisa membuat urusan semakin runyam. Hanya bisa pasrah.

Bersama pria pribumi itu, Opsir Pieter dan dua pengawalnya berjalan menuju pintu. Meninggalkan bangunan semi permanen beratap genteng dan berlantai tanah, keempat orang tersebut bisa menjauh dari kebisingan untuk sejenak. Mereka keluar agar bisa membicarakan beberapa hal.

Ah, udara di sini lebih segar.

Tangan kanan Opsir Pieter menyentuh pundak lelaki berikat kepala motif batik tersebut. Seraya kembali menghirup udara malam sehabis hujan, berharap udara kotor di paru-paru bisa tergantikan setelah menghisap terlalu banyak asap rokok.

"Bagaimana, kau suka permainannya?"

"Ya, Tuan. Hanya permainan kecil-kecilan." Lelaki berkumis tersebut menjawab dengan sebuah senyuman.

"Uangmu habis?"

"Ya, saya kalah terus." Nada suara yang khas mudah dikenali bagi seorang polisi.

"Sayang sekali, padahal kau tidak punya pekerjaan lain selain berjudi."

"Hehehe ... bagaimana Tuan tahu?"

"Aku tahu siapa kau."

Pria itu menatap Opsir Pieter dengan penuh keheranan.

"O ya, Tuan-tuan ini polisi. Tuan-tuan serba tahu."

Opsir Pieter tersenyum.

"Kenapa kau tidak berjualan pisau saja untuk mendapatkan uang?"

"Pisau. Maksud Tuan?"

"Pisau milikmu bagus. Daripada kau pakai untuk melukai orang, lebih baik kau jual saja."

"Apa maksud, Tuan? Saya ...."

Opsir Pieter melirik kedua anak buahnya. Dengan sigap, mereka memegang tubuh orang itu agar tidak kabur.

Tentu saja orang yang dipegang berusaha untuk melarikan diri. Dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan pegangan erat dari dua konstabel.

"Kau mau ke mana?"

"Saya," si lelaki berbaju pangsi menggelengkan kepala, "saya ... tidak tahu menahu ...."

Opsir Pieter mengangkat alis. Kemudian menyeringai. Sudut matanya tertuju kepada dua orang centeng yang berjaga tepat di depan dinding anyaman bambu. Sang opsir mengangkat tangan kiri sebagai isyarat agar kedua petugas jaga tersebut tidak ikut campur.

Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut si terduga. Pria itu meronta-ronta. Meskipun kedua tangannya dipegang erat, tetapi kakinya masih bebas bergerak. Terlintas dalam pikirannya untuk menggunakan kedua kakinya.

Buuk!

Opsir Pieter terjungkal ke belakang. Kaki orang itu menerjang dada si opsir kemudian dia memutarkan badan ke arah belakang. Kedua polisi yang memegangnya tampak kewalahan. Pria itu gesit seperti seekor belut.

Dia bisa melepaskan tubuhnya dari kedua polisi yang memegangnya. Kemudian, dia berlari.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang