Pembongkaran ke-3
Gelapnya malam pertanda bagi dia untuk segera melangkahkan kaki. Lelaki itu kembali memantapkan hati untuk mengulangi hal yang sebelumnya pernah dilakukan.
Pria itu mendongak ke langit, cahaya bulan terlihat malu-malu di balik awan. Cahayanya tidak terang tetapi cukup untuk menjadi penerang jalan bagi manusia yang tidak memiliki alat penerang.
Tanpa alas kaki, dia berjalan di antara jalan setapak yang licin. Hujan baru saja mereda, tetapi sisanya masih terasa. Daun-daun basah bersentuhan dengan lengan baju. Tetesan air dari atas pohon mengenai kepalanya.
"Kali ini aku harus berhasil."
Orang itu terus memantapkan hati demi misi yang sedang dijalani. Baginya, kegagalan tidak boleh terulang. Resiko akan menjelang apabila misinya kali ini mengalami kegagalan.
Di antara pepohonan yang tumbuh membesar, dia berdiri. Sinar rembulan mulai masuk ke sela-sela dahan pohon. Dari tempatnya berdiri, orang itu bisa melihat sederetan makam dengan berbagai ukuran.
Ada makam dengan ukuran lebih besar sebagai pertanda itu makam orang terpandang. Ada juga makam berukuran kecil sebagai pertanda itu makam seorang bayi.
"Aku harus mendapatkan yang besar."
Dengan hati yang mantap, pria itu melangkah menuju makam dengan ukuran paling besar. Kali ini, dia membawa martil sebagai pemukul. Orang itu tahu jika cangkul saja tidak cukup untuk membongkar bongkahan batu yang menutupi makam.
Karena cahaya rembulan, dia bisa melihat dengan jelas tulisan di batu nisan. Terdiri dari deretan tulisan dengan bahasa Arab di atas batu pualam berwarna putih keabuan.
"Nilaimu pasti tinggi. Orang-orang boleh saja menjadikanmu makam keramat. Tapi kali ini kau menjadi milikku."
Karena diburu waktu, dia segera memegang martil. Mengangkatnya, tapi tidak terlalu tinggi. Berharap batu pualam itu pecah dan memudahkan pekerjaannya.
Duk! Duk! Duk!
Berkali-kali dia berusaha memecahkan batu pualam yang menghampar di atas makam. Namun, sayang itu bukan hal yang mudah.
Matanya memperhatikan ke sekeliling. Berharap tidak ada yang melihat apa yang dilakukannya.
Tapi, itu hanya harapan. Cahaya rembulan yang masuk di sela-sela pepohonan justru memperjelas apa yang sedang dia lakukan. Baju hitam, celana hitam, dan topeng kain hitam yang dia kenakan bisa dengan mudah dikenali.
"Tangkap dia!"
Deg, si Pembongkar Makam kaget ketika mendengar ada yang berteriak. Untuk sekejap, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Pria itu membuang martil yang sedang dipegangnya. Meninggalkan cangkul yang tergeletak di samping makam. Tapi, dia tidak mau pergi tanpa membawa hasil apa pun.
Dia berlari secepat yang bisa dilakukannya. Tangan kanannya memegang nisan yang baru saja bisa dicabut dari tempatnya berdiri ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
