Opsir Pieter datang dengan semangat kerja melebihi hari sebelumnya. Dengan rambut disisir ke kiri dan baju seragam rapi berwarna biru tua, pria itu melangkah melewati pintu utama dengan badan tegap. Ketika datang ke kantor polisi, pria itu mendapati tempatnya bekerja penuh dengan orang yang datang melapor.
"Ada apa ini? Masih pagi sudah ramai dengan orang yang datang."
"Ada orang yang melaporkan penemuan mayat, Tuan," seorang polisi berpangkat rendahan memberikan keterangan.
"Oh, ada lagi? Ya Tuhan, kapan Batavia bisa aman."
"Kali ini korbannya beragam, Tuan."
"Karena perampokan dengan pembunuhan? Pertikaian di pinggir jalan? Atau, perkelahian di tempat judi?" Opsir Pieter menebak laporan seperti apa yang diterima kantor polisi sepagi ini. Lelaki itu sudah terlampau sering mendengar laporan peristiwa yang serupa. Dia pun sudah bisa menemukan pola kejahatan warga Batavia. "Itukah?"
"Bukan, Tuan."
"Apa?" Alis lelaki itu terangkat, masih meragukan jawaban orang di hadapannya, "Ada yang baru?"
"Ada yang melaporkan mayat seorang Cina mengapung di pinggir kanal."
"Apa spesialnya?"
"Di saat yang hampir bersamaan, ada mayat orang bumiputera yang ditemukan mengapung tidak jauh dari sana."
"Ah, paling mereka berkelahi karena kalah judi."
"Tidak, Tuan."
"Bagaimana kau tahu?" Pieter memelototi konstabel yang bicara untuk menyanggah terkaan si lelaki Eropa.
"Di tubuh mayat itu ..."
Anak buah Opsir Pieter belum menyelesaikan kalimatnya. Dia terdiam ketika atasannya merapatkan jari telunjuk ke bibir. Menyuruh polisi itu untuk diam.
Opsir Pieter berjalan ke arah kerumunan di depan meja seorang resepsionis. Aku tidak suka keributan di sini, pikir Pieter. Setelah dekat, didapatinya seorang petugas resepsionis yang kewalahan ketika menerima laporan yang bertubi-tubi.
"Tolong, kalian mengantri. Kenapa harus berkerumun begini?"
"Tuan, tolong ... selesaikan dulu kasus kami." Perhatian warga teralihkan oleh suara keras dari Opsir Pieter. "Sudah seminggu lalu saya melapor, tetapi belum ada perkembangan."
"Hei, semua dalam proses. Kau berpikir ini mudah?"
"Tuan." Seorang pelapor wanita merapatkan kedua telapak tangan ke dada. "Saya hanya takut terjadi sesuatu."
"Terjadi apa? Itu hanya ketakutanmu saja."
"Ada balas dendam."
Opsir Pieter tertegun. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. "Memangnya, apa kasusmu?"
"Makam suami saya ada yang membongkar."
"Pembongkaran makam
lagi." Pieter menggelengkan kepala, enggan untuk terus mendengar laporan yang sama seperti hari sebelumnya.
"Saudaranya sudah bersikukuh akan membalas dendam. Tapi, saya mencoba menahan mereka untuk menahan diri."
"Bagus, bagus, Nyonya." Pieter mengacungkan telunjuk ke arah si wanita bermata sipit. "Memang itu yang harus kau lakukan. Suruh keluargamu untuk menahan diri, jangan mendahului tugas polisi."
"Tapi, saya takut Tuan. Jika ...," wanita Cina yang melapor pagi itu malah menangis, "saya takut jika saudara-saudara kami bertindak diam-diam tanpa sepengetahuan saya."
"Nyonya, saya paham apa maksud perkataanmu."
Opsir Pieter menenangkan wanita itu. Anak gadisnya terlihat ketakutan dengan keriuhan yang ada. Dia pun terlihat menitikkan air mata.
Opsir Pieter kembali membalikan badan, kemudian memeriksa laporan yang datang ke petugas resepsionis.
"Semuanya tentang makam yang dibongkar, Tuan."
"Benarkah?"
"Mereka ketakutan akan terjadi ... pertikaian."
Opsir Pieter terlihat berpikir keras. Dia terdiam sejenak. Kemudian kembali memanggil polisi yang belum menyelesaikan percakapannya.
"Hei ... teruskan laporanmu tadi?"
"Tadi ... ada orang menemukan mayat mengapung di kanal."
"Terus?"
"Di tubuhnya ada batu nisan yang terlilit tali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
