"Judi batu nisan?"
Pieter hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengar penjelasan dari dua orang lelaki pribumi di depannya. Sebuah kegiatan yang terdengar iseng, bahkan aneh. Bagi orang-orang yang hobi berjudi, apa pun bisa dijadikan taruhan. Bukan hanya sabung ayam, bahkan kini batu nisan pun menjadi ladang perjudian.
"Ya, Tuan. Kami bertaruh ...," lelaki yang bertubuh lebih tinggi kembali menegaskan pernyataan dia sebelumnya. "Siapa yang bisa mengumpulkan batu nisan paling banyak maka dia mendapatkan bagian terbanyak."
Opsir Pieter menggelengkan kepala. "Tunggu, kenapa kalian berpikir untuk mengumpulkan batu nisan?"
"Kami ... bosan, Tuan." Lelaki yang ditanya kini tak berani untuk menatap langsung wajah si polisi.
"Bosan?"
"Ya, tuan. Permainan yang sudah ada terasa membosankan bagi kami." Satu sama lain saling lirik. "Makanya kami berpikir untuk mencari tantangan baru."
Mencuri batu nisan dari pemakaman warga memang memiliki tantangan tersendiri. Pertama, tidak mungkin mencungkil benda tersebut dari tanah pekuburan seseorang saat siang bolong. Tentu orang-orang yang menyaksikan akan mengajak warga sekampung untuk mengeroyok si pencuri. Kedua, makam sungguh sebuah tempat yang angker. Siapa pun yang datang ke sana kala malam membutuhkan nyali besar. Hantu penjaga makam tidak akan tinggal diam tatkala ketenangannya terganggu.
Kini, adakah peraturan dalam judi. Apabila perjudian yang sudah biasa ditentukan oleh perebutan angka terbesar dalam permainan. Atau, ayam yang mati dianggap kalah jika dalam adu ayam jantan. Lantas, judi nisan makam ini bagaimana menentukan pemenangnya.
Hal itulah yang ingin ditanyakan oleh Pieter, "peraturannya?"
"Awalnya ... siapa pun yang bisa mengumpulkan batu nisan dalam waktu tertentu ... maka dia mendapatkan bagian dari taruhan."
"Nilai setiap nisan sama?"
"Sama. Tapi, di kemudian hari ... nilainya berbeda untuk setiap nisan. Nisan yang tertinggi nilainya ... batu nisan milik orang-orang yang dihormati di suatu daerah."
"Bajingan ...."
Dia yang mendengar kata kasar tersebut, meringis. Takut jika Pieter berlaku lebih kasar.
Opsir Pieter menggeleng-gelengkan kepala. Dia memperlihatkan sikap yang terheran-heran dengan kelakuan manusia di hadapannya. "Bagaimana bisa terpikir untuk bertaruh batu nisan ...."
Opsir Pieter masih mengacungkan pedang ke arah dua laki-laki di hadapannya. Mereka menundukkan kepala seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi oleh orang tuanya. Kedua orang itu tidak berkutik. Mereka terpojok dan tidak bisa mengelak. Sesuatu yang semula dirahasiakan, kini terbongkar sudah.
"Baiklah," Pieter menghela nafas, "Aku hanya ingin kalian jujur."
"Kami akan jujur, tapi ... apa imbalan buat kami?"
"Imbalan?" Nada suara lelaki Eropa itu lebih tinggi dari sebelumnya. "Kau sudah salah masih mengharapkan imbalan."
"Kami hanya meminta untuk tidak dihukum berat, Tuan."
"Ya, akan aku pertimbangkan untuk tidak menghukummu dengan hukuman berat."
"Terimakasih, Tuan."
Ketika menyaksikan orang memohon padanya, terkadang Opsir Pieter terpikir untuk membebaskan saja mereka. Dia sudah tidak mau mengurus masalah kejahatan kelas teri yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan "jalan damai".
Tapi, kali ini dia sedang mengurus kasus besar. Bahkan, dia mendapatkan perintah langsung dari Walikota Batavia untuk menyerahkan penjahat yang berani membongkar kuburan orang-orang terkemuka di Batavia.
"Selain kalian, ada lagi yang terlibat?"
"Banyak, Tuan." Orang yang menjawab melirik ke arah temannya.
"Katakan saja!"
"Kami ... tidak saling mengenal."
Pieter bertanya sambil membelalakkan mata, "bagaimana bisa?"
"Kami sepakat untuk menutup wajah ketika berkumpul ...."
"Berkumpul di mana?"
"Eeee ..."
"Aku berjanji akan mempertimbangkan hukuman ringan bagi kalian." Pieter tahu jika dua orang yang ditanya tidak akan mengaku begitu saja. "Katakan, di mana kalian berkumpul?"
"Di hutan ... di luar kota ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
