Kerusuhan tidak bisa terhindarkan.
Opsir Pieter belum siap menghadapi ini. Ternyata, apa yang dikhawatirkan terjadi. Penemuan mayat di tepi sungai mengundang kecurigaan. Hanya saja, tidak ada yang bisa membuktikan kecurigaan tersebut. Kejadian selanjutnya adalah kecurigaan yang berubah menjadi kerusuhan.
"Hei, hei, hentikan semua ini!"
Percuma saja. Omongan seorang opsir polisi hanya dianggap sebagai suara serangga yang mendengung di tengah kerumunan. Hanya angin lalu saja.
Personil polisi yang bertugas bersamanya hanya empat orang. Berarti lima orang jika ditambahkan Opsir Pieter. Dan, lima orang harus berhadapan dengan lima puluhan orang warga Batavia dari berbagai suku bangsa. Tidak ada maksud untuk memulai perkelahian, tetapi jika ada yang memulai maka tidak jalan lain selain melawan.
"Haaaahhh!"
Seorang pria Cina menerjang personil polisi yang berdiri tepat di samping mayat yang tergeletak. Polisi itu kebingungan, tindakan apa yang harus dilakukannya. Tangan memegang senjata tetapi dia ragu untuk segera menarik pelatuk.
Terlalu gegabah jika ada peluru yang meletup keluar dari sarangnya. Lebih berbahaya jika peluru tersebut mengenai seseorang. Kerusuhan bukannya meredam malahan akan semakin gawat.
Bug!
Kaki polisi itu balas menerjang. Memilih untuk tidak menggunakan senapan untuk menghalau massa. Si penyerang terpental ke arah kerumunan.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Opsir Pieter marah dengan situasi yang dihadapi. Sebagai pemimpin, pria itu sulit menentukan keputusan. Apakah lima orang polisi itu harus menarik pelatuk untuk menembaki para perusuh atau pergi begitu saja.
"Tuan Polisi, biarkan kami membawa jenazah itu!"
"Tidak!"
Opsir Pieter habis kesabaran. Dia menodongkan senapan ke arah kerumunan. Mata biru lelaki itu menyorot tajam kepada seorang perusuh. Sebentar saja bagi si lelaki Cina untuk mengangkat tangan. Mundur dua langkah. Satu sama lain saling tatap.
Sayang, mereka yang memperhatikan adegan itu tahu jika Opsir Pieter hanya mengumbar gertakan.
"Ambil jenazah itu!"
Tak dinyana, puluhan pria itu menerobos barikade polisi. Para polisi kewalahan.
"Tahan tembakan!" Opsir Pieter mengingatkan untuk tidak gegabah.
Polisi yang menjaga jenazah hanya bisa menggunakan senapan sebagai alat pemukul. Mereka mengubah kuda-kuda. Memegang senapan tanpa memegang pelatuknya. Itulah cara yang dianggap aman jika emosi mereka sudah tidak bisa terkendali.
Sekelompok pria berseragam memang bisa saja menggunakan senapan atau pedang untuk berduel dengan para perusuh. Tetapi, mereka mulai menyadari jika yang dihadapi bukanlah penjahat kampung yang harus dilumpuhkan. Mereka hanya sekumpulan warga kota yang menuntut keadilan.
Namun sayang, ketika polisi memilih untuk tidak menggunakan senjata para perusuh itu semakin berani. Barikade yang lemah dari awal semakin lemah ketika kerumunan semakin memenangkan perebutan jenazah.
Karena itu, situasi tidak terkendali.
Tak dinyana, seorang perusuh masuk ke dalam barikade. Opsir Pieter bermaksud menghadang. Tetapi, polisi itu tidak menyangka jika perusuh itu lebih berani.
Jlep!
Seorang perusuh menusuk perut opsir polisi itu ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Gizem / GerilimOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
