"Hujan masih deras, sepertinya kuda-kuda kita tidak sanggup berjalan di jalan yang licin."
"Apakah sebaiknya kita jalan kaki saja, Tuan?"
Kaki-kaki kuda pasukan Polisi yang dipimpin Opsir Pieter tidak sanggup berjalan lancar ketika tanah-tanah basah dan licin. Hewan-hewan tunggangan itu harus mengeluarkan lebih banyak tenaga meskipun sekedar berjalan.
"Hari mulai gelap, Tuan."
"Ini gelap karena hujan deras, awan mendung. Tenang, waktu malam masih lama. Kita punya cukup waktu untuk menyergap mereka." Sebagai pemimpin, lelaki Eropa satu-satunya di sana harus tetap menjaga semangat anak buah.
Hutan semakin gelap. Bukan hanya karena mendung dan guyuran hujan yang masih deras, hutan itu gelap karena pohon-pohon rindang menutupi cahaya yang masuk ke permukaan tanah. Pandangan para petugas negara itu mulai kabur.
"Berhenti!" Opsir Pieter memberi perintah.
Pengawal Opsir Pieter mengangkat tangan. Kepalan tangannya diangkat ke atas di antara rintik hujan yang rapat. Anak buah Opsir Pieter terlihat kurang konsentrasi sehingga beberapa di antara mereka ada yang saling bertabrakan. Pendengaran dan penglihatan para personil polisi itu mulai terganggu oleh suara-suara guyuran air yang menyentuh dedaunan.
"Hei! Konsentrasi!"
Opsir Pieter tahu jika pasukan yang dibawanya mulai tidak fokus. Perjalanan mereka cukup melelahkan. Apalagi mereka bekerja ketika sore hari dimana biasanya itu adalah waktu istirahat untuk petugas polisi di Batavia.
Dasar orang kota, dibawa ke hutan terlihat kebingungan.
Opsir Pieter memberi waktu untuk kembali menyegarkan pikiran dan tenaga bagi anak buahnya. Dia tahu jika cuaca tidak bersahabat dan membuat pecah konsentrasi bagi seorang polisi.
Para personil berseragam biru dongker itu terdiam sejenak. Mereka mengamati keadaan sembari mempersiapkan jiwa dan raga untuk berlaga.
Tidak ada suara binatang satu pun terdengar di hutan lebat yang mereka rambah. Mungkin binatang pun malas untuk pergi apalagi bernyanyi ketika hujan sedang lebat-lebatnya. Mereka nyaman meringkuk di sarang atau berteduh di bawah dahan-dahan. Hanya suara petir terdengar sesekali menggelegar.
Braaak!
Semua orang refleks memegang senjata, berkonsentrasi dan memperhatikan arah sumber suara. Hentakan suara keras itu cukup menggugah sinyal otak untuk kembali menyala dimana sebelumnya redup. Kelelahan.
"Suara apa itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Misteri / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
