Opsir Pieter belum tidur di malam yang selarut itu. Dia berdiri mematung di depan pintu belakang rumahnya. Menarik nafas panjang. Memejamkan mata sambil menengadah ke langit-langit.
"Ayah, kenapa Ayah belum tidur?"
"Oh," Opsir Pieter kaget dengan pertanyaan putrinya.
"Kenapa Ayah seperti orang pribumi? Baju Ayah kotor, kaki Ayah juga."
"Ah, baru saja Ayah dari luar, Nak."
Si putri kecil pun bertanya sambil memasang wajah penasaran, "menangkap penjahat?"
"Bukan, hanya menangkap biawak."
"Biawak?"
"Iya, besar sekali. Mungkin dia terbawa banjir makanya sampai halaman belakang rumah kita."
"Ih, serem."
"Ya, makanya kau cepat tidur."
"Aku haus, Ayah. Ingin mengambil minum." Si kecil berambut pirang mengemukakan alasannya berada di dapur.
"Ya, sudahlah. Cepat minumnya."
"Ayah, baju Ayah berdarah. Ini darah biawak?" sambil minum anak itu heran dengan kondisi Opsir Pieter.
"Ya, Ayah sudah menguburnya. Dia melawan ... dan hampir menggigit."
"Ihhh."
Opsir Pieter memperlihatkan giginya untuk menggoda gadis kecil itu. Anak itu tertawa sambil berlari ke arah kamar tidurnya.
Ternyata, di pintu menuju ruangan dapur itu sedang berdiri sang istri dengan mata penuh tanya. Dia tidak bicara atau tersenyum. Hanya melipatkan tangan dan menatap suami kesayangannya. Kau harus bicara denganku, Pieter.
.
.
-SELESAI-
______________________________________
Terima kasih sudah membaca serial Panca & Pembongkar Makam.
Silakan membaca cerita serial Panca yang lainnya.
Sangat saya tunggu saran, kritik dan tanda bintangnya .
Salam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
