66

76 21 0
                                        

Panca ketakutan, tentu saja. Dia remaja yang belum berpengalaman untuk terlibat dalam pertempuran. Dia bukan tentara yang dilatih secara mental dan fisik. Panca hanya seorang pedagang gerabah yang kebetulan terjebak dalam desingan peluru. 

Aduh, bagaimana ini?

Didapatinya kuda-kuda yang berlari menghindari pertempuran. Mereka sadar jika maut akan segera menjemput jika keempat kaki masih tertanam di rawa. Batas antara kematian dengan kehidupan tidak terlalu tebal.

"Kembali ke arah jalan yang tadi kita lalui!" Opsir Pieter berteriak untuk memberikan komando.

Panca benar-benar terjebak dalam sebuah pertempuran yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Anak remaja itu belum terlatih bagaimana menghadapi bahaya ketika kedua kubu saling tembak. Tetapi dia sudah terbiasa berhadapan dengan para penjahat yang akan melukai bahkan merenggut nyawanya.

"Panca, kau terus berkuda sampai batas kota. Bawa dia!" Opsir Pieter memberi perintah ketika anak itu menatapnya.

"Baik, Tuan. Bagaimana dengan Bajra?"

"Sama, kalian berlindung di benteng kota. Jangan ke mana-mana sampai kami sampai di sana!"

Bajra mendengar perintah Opsir Pieter. Personil yang bersamanya pun  tahu apa yang dimaksud pimpinannya. Personil itu harus mengamankan diri sendiri dan juga mengamankan saksi dengan cara melecut kuda hingga menjauh dari arena pertempuran.

"Hiaaa!"

Energi anak remaja itu bertambah hingga dua kali lipat. Dia sudah tahu akan ke mana. Dia pun mengerti harus melakukan apa. Karena personil yang semula membonceng terluka, maka kini gilirannya untuk bergantian melecut kuda agar mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

"Hiaa!"

Membawa kuda untuk pergi menjauh dari arena pertempuran. Tidak boleh menoleh ke belakang. 

Kuda-kuda pun bisa berlari lebih kencang. Air yang menggenang di tanah mulai surut ketika ratusan méter jauhnya dari tempat semula. Ketika hujan yang tadinya begitu deras kini perlahan mereda, cukup membantu penglihatan demi mengetahui jalan mana yang akan ditempuh oleh kaki-kaki hewan tunggangan yang kekar.

***

Di titik lokasi yang berbeda, Opsir Pieter menarik tali kekang, dia mengarahkan kudanya ke arah kiri demi memisahkan diri dengan regu pembawa saksi dan korban. Anak buahnya yang sudah paham tugas masing-masing mengikuti arahan sang komandan. Kedua regu penunggang kuda itu berpisah di sebuah tanah yang agak lapang.

"Mereka mengikuti kita, Tuan."

"Bagus, itu yang kita harapkan!"

Sosok-sosok itu mulai bermunculan. Mereka memakai baju hitam dan bertopeng serba hitam. Orang-orang itu mulai berani menampakan diri.

Satu per satu sosok hitam itu melayang turun dari pepohonan. Mereka keluar dari persembunyian.

Jarak mereka tidak terlalu jauh. Sepertinya sosok itu mengambil posisi yang cocok untuk menembak. Sebelumnya, jarak tembak menjadi jauh ketika kuda-kuda tunggangan polisi terus berlari. Dan, sosok-sosok itu mengejar para polisi ...

Nahas, kemunculan mereka seperti sebuah tanda jika mereka merasa memenangkan pertempuran. Mungkin mereka berpikir jika pasukan polisi yang bermaksud meringkus mereka kini malah kabur. Lari terbirit-birit.

Sikap jumawa senantiasa menjadi kelengahan dalam sebuah pertempuran. Kelompok penjahat itu salah sangka. Pertempuran belum berakhir. Kuda-kuda polisi itu berlari bukan untuk menghindari pertempuran.

Kuda-kuda itu membuka ruang untuk sesuatu yang akan datang ...

Dor Dor Dor Dor!

Senapan memuntahkan pelurunya. Tapi, senapan siapa?

Gerombolan penjahat itu kaget. Mereka tidak siap dengan rentetan tembakan yang bertubi-tubi.

Satu ... dua ... tiga ... Satu persatu sosok itu ambruk. Mereka terkena tembakan dari sumber yang tidak terlihat.

"Aaargghh!"

Opsir Pieter mendengar teriakan dari berbagai arah. Karena alasan itulah dia pun menarik tali kekang, memerintahkan sang kuda untuk berhenti berlari. Hewan tunggangan itu berputar-putar, meringkik, tetapi si penunggang memintanya untuk tenang.

Ada pertunjukkan menarik nun jauh di sana. Lelaki-lelaki berpakaian serba hitam tampak berjatuhan dari dahan pohon. Ada beberapa dari mereka yang tercebur ke dalam air rawa. Ada pula yang langsung jatuh ke tanah karena tak berdaya setelah timah panas mengenai tubuhnya.

Opsir Pieter tersenyum kecut.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang