71

74 17 0
                                        

Heitt!

Opsir Pieter mengelak dari desingan pisau yang hampir mengenai dadanya. Dia menggerakkan badan ke arah kanan sambil melangkahkan kaki ke depan sebagai tumpuan. Prak, terdengar suara retakan genteng yang diinjak.

Satu hal yang dilupakan oleh si penjudi itu, jika pria Eropa yang mengejarnya memiliki tubuh lebih tinggi. Kaki Opsir Pieter panjang sehingga memiliki langkah lebih lebar.

Piung!

Lelaki berseragam biru itu pu  melayang ke arah orang di depannya. Dan, haap. Opsir Pieter bisa menangkap tubuh orang itu yang masih berdiri terpaku.

Praak praak praak!

Genteng pecah lumayan banyak karena tertindih oleh dua tubuh yang berguling. Opsir Pieter memeluk erat tubuh si penjudi hingga mereka jatuh bersama ke permukaan tanah.

Buug!

Hentakan kedua tubuh itu terdengar hingga cukup mengganggu penghuni rumah itu yang sedang tertidur nyaman. Dalam waktu yang tidak lama, orang-orang berdatangan karena penasaran.

Kini, yang mereka lihat hanyalah kerumunan polisi yang sedang mengarahkan senapan kepada seorang pesakitan. Tepat di bawah tiang lampu jalan, jelas terlihat seorang polisi sedang membekuk pria pribumi berbaju hitam. Tubuhnya kotor karena terjatuh tepat di jalanan yang becek.

"Aku baik-baik, saja." Opsir bangkit berdiri sambil memegang perutnya yang kesakitan.

"Luka tuan, sepertinya terkoyak lagi. Banyak darah."

"Ya, aku bisa menahannya. Sekarang, kau ambilkan sepatuku di gang sebelah sana."

Petugas yang aneh melihat pimpinannya tidak mengenakan sepatu belum memahami sepenuhnya kenapa pria Eropa itu tidak bersepatu. Sesuatu yang jarang sekali terlihat di hari-hari sebelumnya.

"Hei, kenapa kau harus lari? Kita bisa bicarakan ini baik-baik."

"Maaf, Tuan. Saya ... saya tidak bersalah."

"Kalau kau tidak bersalah, kenapa harus lari?"

Opsir Pieter memegang wajah si pesakitan. Mereka saling tatap. Karena cahaya lampu, bola mata Opsir Pieter yang biru seakan menyala. Dia marah kepada orang di hadapannya.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Saya tidak tahu, Tuan."

"Hei ... jangan bertele-tele. Katakan saja. Aku janji, jika kau jujur setidaknya kau bisa mendapatkan keringanan hukuman."

Bagi warga, nada suara si penanya terdengar kesal. Hal yang lumrah didengar apabila ada seorang polisi menanyai terduga kasus kejahatan.

"Saya ... saya hanya disuruh."

"Oleh siapa?!"

"Dia memakai topeng, Tuan. Wajahnya ditutup kain hitam."

"Ooo ... lalu kenapa kau mau membunuh Sang Ketua?"

"Tidak, tidak. Hanya melukai. Dia tidak meminta untuk membunuh Ketua Serikat Orang Cina."

"Kenapa?"

"Tidak tahu, Tuan. Sekedar menyampaikan pesan ... selain itu saya tidak mengerti."

"Kau diberi imbalan apa oleh dia?"

"Hanya ... sekantung uang dan emas."

"Masih tersisa?"

"Eee ... habis, Tuan."

Opsir Pieter sudah bisa menerka uang dan emas yang dimaksud terpakai untuk apa sehingga habis tak tersisa. "Karena berjudi?"

Si pesakitan menganggukkan kepala.

"Kau tidak ikut taruhan batu nisan?"

"Tidak, Tuan. Saya tidak berani. Pamali. Saya takut ...."

"Tapi, kau tahu siapa yang mengusulkan taruhan batu nisan?"

"Seingat saya ... orang-orang Banten, Tuan. Ya, mereka pernah satu meja judi dengan saya."

Opsir Pieter menoleh kepada kerumunan warga yang semakin banyak. Dia berharap jika percakapannya tadi didengar jelas oleh warga. Ketika memperhatikan satu per satu warga yang berdiri mengitari, tampak sekali mereka kebingungan dengan penggalan kalimat, taruhan batu nisan.

Opsir Pieter kembali menegaskan, "jadi, orang Banten yang punya usulan taruhan batu nisan?"

"Ya, ya, ya, Tuan."

Panca dan Pembongkar MakamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang