27

85 19 0
                                        

Ketika Si Pandu sedang mengecoh orang bertopeng itu, Panca terpikirkan sesuatu. Anak remaja itu memegang tangan Bajra.

"Ayo kita pergi!"

Ternyata ucapan Panca terdengar si pengancam. Mau ke mana kau?

Lelaki itu melangkah untuk mendekat, meskipun masih ada hewan pengerat yang mengganggu pandangan. Tenaga lelaki itu sudah terkumpul kembai. Seekor hewan sekecil Pandu mudah saja untuk dipegang oleh kedua tangannya yang besar. Sesaat kemudian, orang tadi berusaha menghalangi Panca dengan merenggut bajunya. Si anak lelaki berbaju pangsi warna gelap tidak berkutik.

"Ahh!" pria itu melempar Pandu hingga ke sisi jalan lainnya.

"Ciiit" Si Pandu menjerit.

"Panca!" Bajra tidak sanggup menolong Panca yang sedang berjuang untuk melepaskan diri.

"Kuda!"

Bajra langsung mengerti maksud ucapan dari Panca. Sejenak, dia hanya menoleh ke arah seekor kuda yang sama-sama menatap. Selanjutnya, anak bertubuh gempal itu berlari ke arah kuda yang sedang merumput di seberang jalan. "Hei, kuda. Tenang ya. Aku tak akan menyakitimu."

Si kuda begitu penurut padahal dia tidak sedang ditunggangi pemiliknya. Atau, lelaki bertopeng itu memang bukan pemilik sang hewan tunggangan.

"Hiaa!"

Bajra meraih tangan Panca. Namun sayang, satu lagi tangannya dipegang pria tidak dikenal itu. Kali ini kedua lengan anak itu gagal untuk bersentuhan. Si orang tak dikenal menarik tubuh Panca.

Bajra terpaksa menarik tali kekang. Mengajak si kuda untuk berbalik arah. Tak jauh dari tempat sang kuda berdiri, Panca sedang bergumul dengan lelaki yang sama-sama enggan untuk melepaskan lawannya.

Si Pandu yang sudah terlepas dari genggaman, rupanya tak ingin berdiam diri saja. Hewan kecil itu melompat ke arah wajah si orang tak dikenal. Kesempatan demikian dimanfaatkan oleh Panca untuk segera melepaskan cengkeraman.

Kali ini berhasil.

Panca pun segera melompat ke atas punggung kuda. Walaupun, orang tak dikenal itu kembali melangkah lebih dekat dengan sang kuda. Tentu setelah menyingkirkan Si Pandu dari wajahnya yang tertutup kain. Ternyata, orang itu cekatan. Panca tahu harus berbuat apa.

Anak lelaki itu menggunakan kaki kiri untuk melumpuhkan orang yang memegangi kaki kanannya. Bajra membantu untuk menahan tubuh Panca agar tak terjatuh dari atas punggung kuda.

Kaki kiri Panca mendarat di pelipis orang itu. Alhasil, lelaki tak dikenal itu terjengkang ke belakang.

Prak !

Tubuhnya membentur tumpukan gerabah di atas pedati. Dia limpung, tidak bisa menjaga keseimbangan. Kemudian, terjatuh ke tanah.

Segera, kedua anak itu meninggalkan arena perkelahian.

Bajra melecut kuda dengan kecepatan tinggi. Panca yang duduk di belakangnya memegang erat tubuh gempal anak remaja itu. Mereka melaju menuju arah utara dan meninggalkan pedati yang sudah berantakan. Dan, tentu saja meninggalkan Pandu.

"Bagaimana dengan Pandu?"

"Seperti biasa, dia tahu harus pergi ke mana. Tidak usah mengkhawatirkannya."

Hentakan kaki kuda mengiringi perjalanan mereka menuju Batavia. Awan mendung yang menggelayut di angkasa menjadi saksi perjuangan mereka untuk lepas dari bahaya. Untuk kesekian kalinya ....

Sawah yang menghijau terhampar di sebelagh kiri dan kanan jalan yang dilalui. Para petani masih sibuk bekerja di sawah sebagai pertanda musim tanam baru saja dimulai. Dan, mereka tidak terlalu menghiraukan penunggang kuda yang lewat. Pekerjaan mereka hari itu lebih penting dibanding orang yang lalu lalang.

"Raden, sekarang kita ke mana?"

"Ke Batavia, ke mana lagi?"

"Iya, tapi maksud saya ... kita menemui siapa?"

"Kita temui A Ling."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang