4

163 34 0
                                        

Pagi itu, Panca mengikuti warga desa mendatangi pemakaman. Anak remaja itu penasaran dengan apa yang telah terjadi pada makam sang kakek. Baginya, ini adalah kejadian yang tidak biasa. Makam tokoh Desa Pujasari dibongkar tanpa alasan yang jelas dan mendesak; sebagai ahli warisnya wajar saja jika Panca pun marah. Bukan hanya anak itu yang tersinggung, warga desa pun merasakan hal yang sama.

"Biadab!"

"Apa sih maunya orang itu?"

Kata-kata kasar dan sumpah serapah keluar dari mulut warga yang turut serta ke pemakaman. Letaknya tidaklah jauh dari pemukiman. Lurah Bakti memimpin warga untuk berjalan ke arah barat daya. Mereka melewati jalan setapak berbatu yang masih basah.

Panca bisa mengetahui seberapa besar kemarahan warga kepada pelaku pembongkaran itu. Kemarahan bertambah-tambah ketika kaki-kaki warga menapaki tanah basah di sekitar pemakaman. Tanah bekas galian berubah tampak becek ketika semalaman hujan mengguyur alam sekitar.  

"Semalam hujan besar, tanah pun sudah seperti lumpur."

Terlebih, orang-orang yang berkumpul terpaksa menginjak gundukan tanah yang berhamburan. Perhatian mereka bukan tertuju kepada tanah yang lembek, tetapi lubang besar yang menganga di makam mendiang Raden Wiguna.

"Mungkin orang yang membongkar itu sengaja menunggu hujan. Hujan semalam disertai petir dan angin besar, makanya semua orang lebih suka diam di rumah." Seorang lelaki paruh baya terdengar mengomel sekaligus merasa menyesal karena tidak bisa menjalankan tugas ronda malam dengan baik. "Ah, semalaman saya tidak melihat ada orang di sini. Padahal, semalaman pula ronda di seluruh kampung."

Warga lain yang mendengar pun menggelengkan kepala. Dasar tidak becus bekerja, mungkin begitulah isi hati orang yang mendengarkan.

"Agar tidak ada yang menyaksikan," tambah yang lain.

"Kalian yakin ini ulah manusia?" Lurah Bakti bertanya untuk meminta opini.

"Kalau hewan liar, rasanya tidak mungkin. Masa sih lubangnya sebesar ini."

Lubang menganga di makam. Batu nisan yang sebelumnya tegak berdiri, kini hanya tergeletak di tanah begitu saja.

"Mungkin dia datang dari arah jalan desa."

"Bagaimana kau yakin?"

"Itu."

Semua orang memalingkan pandangan pada jejak kaki yang berlawanan arah dengan jejak kaki warga. Jejak kaki itu mengarah ke jalan desa.

"Mungkin sekali dia datang dari arah sana."

Panca tidak ikut bicara. Dia memperhatikan kalimat per kalimat yang dibicarakan oleh warga. Sudah menjadi adab orang Sunda untuk tidak ikut bicara ketika orang dewasa sedang berbincang.

Diam-diam, Panca memperhatikan gaya ayahnya, Raden Bakti ketika meminta pendapat warga. Raden Bakti--sebagai kepala desa--tidak tersulut emosi ketika mendapati makam mendiang ayahnya dibongkar oleh orang tak bertanggungjawab. Lurah Bakti masih bisa tenang meskipun warga yang mengerumuninya justru sudah tersulut amarah.

"Apakah mungkin dia berjalan ke arah desa tetangga?"

"Sepertinya begitu, saya bersedia memeriksanya Ki Lurah." Seorang warga menawarkan diri untuk membantu.

Lurah Bakti menganggukkan kepala. Kemudian dia kembali memalingkan pandangan pada lubang menganga tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Siapa yang berani melakukan ini? Dan, apa tujuannya?

Batin Lurah Bakti bertanya-tanya. Pria itu menggelengkan kepala, sambil memperhatikan dengan seksama setiap jengkal tanah di pemakaman tersebut.

"Ki Lurah ..."

"Ya, ada apa?" Seorang warga kembali memulai percakapan. Raden Bakti pun menanggapi sambil terus menatap ke lubang yang menganga di kuburan.

"Apakah mungkin ...."

"Mungkin apa?"

"Eee ... ada orang yang mengambil sesuatu dari dalam kuburan ...."

"Bisa jadi, tapi untuk apa?"

"Untuk pesugihan ...."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang