"Raden, ke mana orang-orang itu?" Bajra bertanya kepada Panca setelah sekian lama tidak ada anggota komplotan yang datang menghampiri.
"Entahlah. Mungkin mereka sedang makan."
"Licik, mereka tidak mengajak kita." Bajra membayangkan betapa acara makan akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. "Padahal aku sudah lapar."
Namun, Panca lebih tertarik untuk membicarakan perkara batu nisan yang teronggok di sudut rumah pohon. "Bajra, menurutmu ... batu nisan ini akan mereka apakan?"
"Mungkin ... mereka akan menjualnya."
"Kepada siapa?" Tak terpikirkan oleh Panca jika ada niaga barang seperti batu nisan makam. "Memangnya ada orang yang akan membeli batu nisan."
"Eee ... Kau pernah mendengar orang yang suka mengumpulkan barang-barang purbakala?"
"Ya. Aku pernah mendengar. Ada orang yang sengaja mengumpulkan benda purbakala." Belum terpikirkan kebermanfaatan batu nisan setelah dibeli dari penjualnya. "Tapi, buat apa?"
"Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi, bagi orang-orang seperti mereka ... mengumpulkan barang purbakala dari berbagai tempat menjadi kebanggaan tersendiri."
"Apa bedanya dengan mengumpulkan emas?"
"Nah, mungkin bagi mereka harga benda-benda ini semahal emas."
"Mungkinkah barang-barang ini akan dibawa ke Eropa?"
"Mungkin sekali. Pemerintah kolonial sangat pintar dalam memanfaatkan apa yang ada di tanah Jawa ini."
"Kita benar-benar bangsa yang terjajah ... Sampai-sampai batu nisan pun mereka jarah."
Bajra dan Panca menggelengkan kepala. Kedua anak remaja itu perlahan mengerti bagaimana dunia bekerja. Mereka pun sedikit demi sedikit paham betapa menjadi bangsa yang diperintah oleh orang asing sungguh perkara mengundang kerugian.
Dengan tangan dan kaki yang terikat, kedua remaja itu tertunduk lesu. Punggungnya bersandar ke batang pohon besar yang kebetulan menjadi tiang utama rumah pohon tempat mereka disekap. Kali ini, tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu ada orang datang serta membuka ikatan.
"Jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa?"
Bajra mempertegas maksud dari ucapannya. "Pelaku dari semua ini adalah Pemerintah sendiri?"
"Bagaimana bisa. Kita tahu Tuan Pieter sendiri begitu gigih menyelesaikan kasus ini. Polisi kan bagian dari Pemerintah Hindia Belanda. Tapi, kan mereka menginginkan kasus ini selesai. Kita menyaksikan sendiri bagaimana Polisi bekerja."
"Iya juga." Bajra meralat pernyataan sebelumnya.
Di luar, suara hujan terdengar keras sebagai pertanda sang awan menumpahkan airnya begitu deras. Tetesan air jatuh dari atap rumbia rumah pohon itu. Sampai-sampai lantainya basah. Untung saja, tetesan air itu langsung jatuh ke permukaan tanah yang jauh di bawah melalui sela-sela lantai bambu.
Panca dan Bajra sesekali merasakan getaran karena angin berhembus kencang menerpa rumah pohon. Mereka khawatir angin kencang bisa merobohkan pondokan itu.
Ketika kekhawatiran terus merasuki pikiran kedua anak remaja itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran mereka sesuatu yang mungkin belum terpikir sebelumnya. Sebuah kesimpulan sementara dari berbagai kejadian yang mereka alami.
"Raden, aku berpikir jika ...."
Panca ingin segera tahu isi pikiran Bajra. "Jika apa?"
"Jika orang-orang yang menyekap kita adalah ... orang-orang suruhan Pemerintah."
"Buat apa Pemerintah melakukan itu?"
"Mungkin Pemerintah merasa malu jika harus merampas barang remeh temeh seperti batu nisan."
"Makanya Pemerintah menyewa sekelompok orang untuk mencuri batu nisan itu. Masuk akal ...."
Bajra dan Panca menganggukkan kepala. Dugaan demi dugaan muncul dari benak mereka. Terang saja, karena keadaan bahaya yang menimpa kedua anak remaja itu belum mendapatkan kejelasan tentang alasan dan motifnya.
Bagi Panca dan Bajra, saat ini mereka berharap masih bisa selamat. Jika bahaya begitu dekat dengan mereka, selalu berharap bahaya itu akan kembali menjauh.
Hingga, sesuatu tak terduga ternyata menimpa kedua remaja yang tak berdaya di sana.
Berrr!
"Aduh, atapnya terbang!" Bajra lumayan kaget karena angin kencang menghempaskan atap yang melindunginya dari guyuran hujan.
Kini, langit bisa terlihat begitu pekat. Ketika awan menurunkan tetesan hujan maka langsung menimpa wajah. Semula, kain yang mengikat kepala masih kering. Kini, berubah menjadi basah. Baju dan celana pangsi yang dikenakan pun berubah warna semakin pekat. Kedua remaja itu mulai kedinginan.
Kreet ... krett ...
"Tiang-tiangnya mulai goyah ...." Panca merasa ada yang tidak beres dengan rumah pohon yang bergoyang-goyang mengikuti hembusan angin kencang.
Prakkk!
Ada kejadian yang tak terduga, sontak saja keduanya berteriak kencang. "Arrgghhh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Misteri / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
