Seorang tabib keluar dari kamar Sang Ketua. Semua orang memandang pria tua itu. Tanpa ditanya, dia menjelaskan keadaan Sang Ketua. Berharap bisa mengurangi kekhawatiran orang-orang yang ada di rumah berukuran besar itu.
"Ketua kita baik-baik saja. Beliau pria yang kuat."
"Bagaimana lukanya?"
"Lukanya tidak terlalu dalam. Dengan memakan ramuan dan istirahat yang cukup, dia bisa sehat kembali."
"Semoga."
Orang-orang yang dirundung rasa khawatir, kini berkurang rasa khawatir itu. Wajah khawatir sangat terlihat dari anak-anak kecil yang sebelumnya tidak ada di ruangan itu. Putra-putri Sang Ketua yang terbangun dari tidurnya ketika mendengar keributan di ruang tamu.
"Bagaimana dengan pisaunya?" Panca bertanya tanpa aba-aba.
"Pisau ... pisaunya disimpan di ruang tidur." Si tabib menunjuk dengan tangan kanannya ke arah pintu. Tubuh rentanya sedikit membungkuk, tahu jika dia dikelilingi para pembesar Cina di Batavia.
"Maksud saya, bolehkah saya melihat pisaunya?"
"Buat apa, Nak?"
"Kita bisa tahu siapa pelempar pisau itu jika tahu ...."
"Aku mengerti maksudmu," sang tabib memberi isyarat dengan merentangkan lima hari, "tetapi biarlah ini menjadi urusan polisi."
Semua orang mengangguk setuju.
"Baiklah, saya hanya mencoba membantu."
Panca kembali duduk bersama A Ling dan Bajra. Begitupun tamu yang lain. Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa duduk-duduk menunggu pagi. Di saat seperti itu, begadang semalaman menjadi pilihan. Dan, untuk mengisi waktu mereka mengobrol panjang lebar tentang banyak hal.
Tiga remaja tanggung itu menepi dari kerumunan. Tidak bisa keluar rumah karena alasan keamanan, memilih untuk duduk-duduk di sekitar meja kecil di dekat dinding. Apabila keadaan aman, meja kecil demikian biasa digunakan sang penghuni rumah untuk minum téh sambil menikmati pemandangan kota melalui jendela yang terbuka. Namun, kini jendela tersebut sengaja ditutup karena khawatir akan terjadi hal yang membahayakan nyawa.
Bajra kembali menatap A Ling. "A Ling, sebetulnya kau paham apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tidak sepenuhnya paham." A Ling mengerut dahi, kepalanya sudah pening. Anak gadis itu kelelahan setelah siang hari bekerja ditambah semalaman tidak tidur. "Tapi, kukira ini berkaitan dengan politik atau persaingan bisnis."
"Atau keduanya." Panca menimpali.
A Ling mengangguk tanda setuju. Bajra pun begitu.
"Masalah ini menyangkut orang-orang besar di Batavia dan juga di desa-desa di sekitar Batavia." Panca berusaha menyimpulkan isi pikiran yang penuh tanya setelah menyaksikan berbagai peristiwa.
"Yang sudah meninggal dan yang masih hidup."
"Mungkin Tuan Pieter sudah tahu jawabannya," Bajra kembali mengingatkan jika ada tokoh lain yang memiliki peran dalam kasus ini.
"Sepertinya dia sudah tahu, hanya saja ... aku bingung." Lagi, A Ling memijat kening. "Setelah ini, kita bisa melakukan apa?"
"Ya, tujuan kami berdua ke Batavia juga untuk mengetahui siapa pelaku pembongkaran makam itu." Panca menegaskan kembali maksud mereka.
"Kita cari siapa mereka?"
Pertanyaan Bajra membutuhkan jawaban teknis, "caranya?"
A Ling, Panca dan Bajra termenung.
"Kita mulai dari ... pisau itu. Kita harus tahu dulu siapa pemiliknya." Panca bicara lebih pelan. Obrolan ketiganya tidak ingin diperhatikan oleh para tamu, meskipun mereka tak tertarik dengan isi pembicaraan tiga bocah remaja kampung.
"Ada petunjuk lain ... surat." Panca mendekatkan tubuh ke tepian meja. "Ya, mereka mengirimku surat. Tapi sudah dipegang polisi. Hanya saja, surat itu tidak bernama."
"Kamu masih ingat," Bajra tak tahan mengungkapkan rasa penasaran, "apa isi suratnya?"
"Ya," A Ling mengangguk cepat, rasa kantuk yang tadi menyerang kini mulai hilang, "aku ingat."
"Kertasnya?" Bajra bertanya.
"Kertas?"
"Kertas itu dari mana sumbernya?" begitulah arah pertanyaan Bajra kepada A Ling.
"Hanya kertas biasa. Tidak ada yang istimewa."
"Tulisannya ...?" Kembali Bajra meminta gambaran.
Sebuah petunjuk dari A Ling, "menggunakan huruf Arab Melayu ...."
"Jangan terkecoh. Bisa jadi betul kata Tuan Pieter. Ini adu domba." Otak Bajra kini bekerja lebih keras. "Mereka sengaja menggunakan huruf Arab Melayu agar terkesan ...."
Panca pun ikut membuat sebuah perkiraan, "itu dari kelompok Islam pribumi ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystery / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
