"Bocah tengik! Kami akan melumatmu!"
"Tunggu dulu," Panca mengangkat kedua tangannya, "kita bisa membicarakan ini."
"Banyak bacot!"
Segerombolan laki-laki bertopeng dan berpakaian serba hitam itu maju selangkah demi selangkah. Panca terkepung. Anak remaja itu berdiri mematung seperti mangsa yang tak berkutik tatkala hendak diterkam sekawanan serigala. Dia ketakutan.
"Jika kau mencoba kabur, maka kami akan menggunakan kekerasan untuk melenyapkanmu."
Panca masih berdiri mematung di atas tanah yang sedikit lapang di antara rimbunnya pepohonan. Deg deg deg ... dadanya berdebar sambil terus berharap orang-orang itu tidak melukainya.
Mereka semakin mendekat.
Tidak banyak waktu yang dimiliki oleh Panca. Dia terus memeras otak, berpikir bagaimana caranya agar bisa menyelematkan diri dari kepungan gerombolan penjahat.
Panca memutarkan badan. Ternyata jumlah mereka bertambah banyak. Sosok-sosok menakutkan itu keluar dari balik pohon. Mereka berjalan pelan dengan tatapan tajam ke arah Panca.
Baiklah, aku harus bertindak.
Ada energi yang menjulur ke seluruh tubuh Panca. Energi itu berasal dari otak, kemudian merasuki dadanya hingga tangan dan sampai pula ke bagian kaki. Energi itu yang mendorong Panca untuk bergerak dan melawan rasa takut.
Wush!
Anak itu lari sekencang yang dia sanggup. Selangkah, dua langkah, tiga langkah dan happ Panca meliuk-liukkan badan. Dia mampu melewati salah seorang di antara mereka.
"Oh, kau mau lari ke mana?"
Ternyata masih ada seorang anggota komplotan telah merentangkan tangan dan bersiap menangkap Panca. Namun gerakan anak itu cukup gesit. Sssttt, Panca mampu mengelak.
Sayang sekali, laki-laki bertopeng itu lebih terlatih. Kakinya refleks menghadang kaki kecil Panca. Alhasil, dua kaki mereka saling beradu. "Ahh!" Panca pun terjatuh. Brak brak brak!
Panca terjungkal. Kakinya terpeleset hingga mencetak guratan di tanah yang basah. Tubuh remaja berbaju pangsi itu berguling-guling hingga bongkahan akar yang menonjol di tanah bisa menghentikan gerakan tubuh. Panca limpung, matanya tidak bisa melihat dengan jelas.
Happ!
Salah seorang dari anggota komplotan melompat dan segera meraih kaki Panca. Andaikan tidak ada sehelai kain yang menutupi bibir, seringai lelaki itu akan tampak nyata. Dia senang sekali. "Ha!"
Kini Panca tak bisa bergerak leluasa. Dia berusaha melepaskan cengkraman kuat yang menyulitkan kakinya untuk bergerak. Sebuah usaha yang sia-sia.
"Ahh!" Panca berteriak.
"Mau ke mana kau?"
"Hahahaha ...." Semua yang menyaksikan kejadian itu tertawa terbahak-bahak. Mereka puas.
Bagi Panca, ini petaka. Kekalahan yang bisa membuat dia terkekang. Tahu juga jika bahaya semakin mendekap jiwa.
Panca dihampiri semua anggota komplotan. Dia dikerumuni manusia-manusia misterius, jatidiri mereka yang tak dikenali menambah ketakutan. Wajah anak itu semakin terlihat menegang. Kali ini, Panca menyerah. Apalagi setelah sebilah golok mendekat ke wajah, hanya berjarak sekitar satu centi saja dari kulit.
"Jika kau berani melawan, maka golok ini akan melukai lehermu!"
Deg, ancaman itu tidak bisa dianggap main-main. Panca lebih baik diam tidak bergerak daripada mereka nekat berbuat lebih jahat dari itu.
"Ini akibatnya jika kau dan teman kau terlalu ikut campur urusan orang dewasa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mystère / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
