"Tuan, bagaimana bisa Anda berpendapat begitu?"
"Ketiga anak ini diancam olehmu kan, Tuan Polisi?"
Opsir Pieter gusar mendengar pendapat seorang tamu pria. Orang itu menunjuk Panca dengan kipas yang sedang dipegang oleh tangan kanannya. Rambutnya yang panjang bergoyang ketika dia berdiri demi menegaskan pendapatnya.
"Saya pikir, Anda harus mencabut kembali kata-kata Anda!" Nada suara Pieter pun naik. Lelaki itu tersinggung ketika dianggap menyajikan kebohongan.
"Ah, bagaimana bisa aku percaya sama mereka. Mereka datang bersamamu. Berarti kalian sudah merencanakan cerita kalian." Suara lelaki Cina tadi begitu lantang.
Pieter tetap berusaha untuk tenang. Meskipun dadanya kembang kempis menghirup dan mengeluarkan nafas. "Ah, saya hanya berencana untuk menyelesaikan masalah di antara kita!"
Para tamu lain yang hadir tidak berusaha melerai percakapan mereka. Bahkan terkesan menyetujui pernyataan lelaki Cina tersebut. Begitupun Sang Ketua, dia hanya memperhatikan tanpa berusaha menyetop pembicaraan yang menyudutkan Opsir Pieter.
"Dengarkan ... tolong dengarkan ... masalah kita saat ini adalah ... adanya rasa saling curiga dan ketidakpercayaan antara kita ...."
Opsir Pieter tidak mau meladeni argumen orang yang menuduhnya berbohong. Ada secangkir teh hangat di meja, rupanya cukup membantu untuk mengatur emosi. Daripada terpancing amarah maka pikiran sang opsir kembali berputar agar kata yang keluar sesuai dengan rencana. Dia segera berbicara pada maksud inti kedatangannya ke rumah Ketua Serikat Orang Cina di Batavia.
Opsir Pieter pun melanjutkan, "dengar, saya tidak bermaksud memperpanjang masalah ini. Jika tadi siang ada di antara kita yang saling bertikai ... saya berjanji akan melupakannya."
Tawaran dari Opsir Pieter memang perlu menjadi sebuah pertimbangan. Peristiwa di tepian kanal tadi siang sebenarnya merugikan warga Cina di Batavia. Pemerintah bisa menuduh mereka melakukan tindakan makar karena telah melawan polisi. Namun, kedatangan Pieter untuk meredakan ketegangan bisa menjadi jalan keluar dari kemelut yang terjadi.
Semua terdiam. Hening.
"Orang yang menusukku hanya akan dituduh sebagai kriminal biasa." Tangan kanan Pieter meraba perut luka meskipun lawan bicaranya tidak akan tahu seberapa parah. Baju ganti telah menyembunyikan luka yang dimaksud.
Sang Ketua yang menyaksikan peristiwa penusukan di tepian kanal tadi siang terpaksa membuang muka. Lelaki paruh baya itu enggan dijadikan sebagai pihak tertuduh.
"Dan ...," lanjut Pieter, "tidak akan menyangkutpautkannya dengan kalian. Aku janji, kalian semua yang hadir di sana tidak akan aku bawa-bawa."
Semua tamu mulai mengerti maksud kedatangan Opsir Pieter. Begitu pun orang yang menuduhnya berbohong, dia kembali duduk dan mengipasi tubuh. Sang Ketua sebagai pemilik rumah sekaligus pemimpin pertemuan memberi isyarat kepada hadirin untuk tidak berbicara lebih lanjut. Tangan kirinya diangkat, orang yang memperhatikan pun terpaksa menutup mulut.
"Coba kalian pikirkan, jika kita sedang diadudomba." Pieter ingin menekan kalimat tersebut. "Ada pihak yang ingin kita bertikai ... antara Pemerintah dan orang Cina, antara orang Cina dengan orang bumiputra ...."
"Supaya kita rugi ...," imbuh Sang Ketua.
"Ya, supaya kita merugi. Batavia menjadi ladang kerusuhan ... dan perusahaan kalian mengalami kerugian." Pieter sengaja menyebut perusahaan agar lawan bicaranya menyadari jika urusan bisnis harus dilindungi serta tak boleh merugi.
Semua orang pun berpikir.
Panca, Bajra, dan A Ling yang berdiri di dekat dinding memperhatikan dengan seksama. Remaja itu perlahan menyadari jika orang-orang yang hadir adalah kalangan atas warga Cina. Selain pakaian mereka yang tampak mewah dan mahal, ternyata semuanya sepakat jika urusan bisnis lebih penting daripada pertikaian antar warga. Mereka pemilik perusahaan penting di Batavia, jika terjadi kekacauan maka kerugian finansial pun melanda.
"Saya pikir, ini bukan sekedar perkara ... bongkar-membongkar makam," lanjut Pieter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Misteri / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
