33

86 17 0
                                        

Opsir Pieter menunggang kudanya dengan laju perlahan. Ketika masuk blok Pecinan, lelaki itu sudah bisa menduga akan memperoleh penyambutan yang tidak ramah. Puluhan pasang mata menatap dirinya dengan penuh curiga. Tidak ada senyum keramahan, sebaliknya mereka yang kebetulan ada di sana menatap tajam sang opsir yang duduk di atas pelana.

Opsir Pieter tidak memperdulikan sikap warga. Bola matanya hanya sesekali melirik ke kiri dan kanan jalan. Di sana berjejer bangunan yang berdempetan, semuanya bergaya Cina. Ada toko kelontong hingga toko pakaian, tak ada yang buka jika malam. Hanya ada sebuah rumah makan yang masih melayani para pelanggan.

Opsir Pieter diikuti oleh dua orang pengawal yang berjalan kaki. Hanya dua orang pengawal, padahal tempat yang dia tuju adalah tempat berkumpulnya orang-orang Cina. Orang-orang yang menyerang para polisi tadi siang. Lelaki itu tidak ingin kedatangannya justru mengundang perhatian.

Hujan mulai mereda, kuda tunggangan sang polisi berhenti tepat di depan rumah makan khas Cina. Dia disambut oleh seseorang yang sudah dikenalnya. Seorang gadis pelayan dengan baju cheongsam berwarna merah hati.

"Selamat datang, Tuan. Maaf, kami kehabisan tempat duduk. Sudikah Anda menunggu?"

"Tidak A Ling. Aku ke sini bukan untuk memesan makan."

"Maaf, Tuan." Isi kepala A Ling dipenuhi dengan tanda tanya akan niat kedatangan seorang opsir polisi. "Adakah yang bisa saya bantu?"

"Kau hanya perlu menemaniku bicara." Opsir Pieter tersenyum pada A Ling. "Eee ... ini temanmu?"

"Iya, Tuan. Ini Panca maksud saya Raden Panca. Dan ini Bajra."

Orang yang disebut Panca dan Bajra tersenyum dan membungkukkan badan kepada Opsir Pieter. Polisi itu membalas senyuman mereka berdua.

"Raden? Dia ...."

"Dia putra Raden Bakti. Lurah di Desa Pujasari."

"Bagaimana kau meyakinkan kami jika kau ...."

"Ini Tuan, saya diberi ini oleh petugas." Panca berjalan ke arah kuda yang tertambat. Dia mengambil secarik kertas kemudian memberikannya kepada Opsir Pieter.

"Oh, kertasnya sudah basah. Tulisannya sudah pudar, tapi aku masih bisa membacanya." Opsir Pieter membaca secarik kertas sebagai surat jalan bagi Panca dan Bajra. "Kau ... ingin melaporkan sesuatu pada kami?"

"Ya, Tuan. Tentang pembongkaran makam."

Opsir Pieter menganggukkan kepala. Dia terdiam, berpikir. Sejak tadi, ada suatu hal yang ingin dia bicarakan dengan orang-orang Cina di Pecinan. Keberadaan Panca dan Bajra di sana bisa membantu untuk menggambarkan keadaan sebenarnya tentang sebuah kasus pembongkaran makam.

Mata Pieter beralih pandangan kepada orang-orang yang sedang menyantap makanan. Dua daun pintu berukuran besar yang terbuka menjadi perantara pasangan mata yang memiliki pandangan berbeda tentang sebuah kasus. Bangku-bangku yang terisi penuh itu ternyata hanya diduduki oleh orang-orang Cina. Lelaki itu tak disambut dengan ramah oleh mereka yang ada di sana. Sekumpulan lelaki berambut dikepang tersebut memandang sinis kepada tiga polisi yang berdiri di beranda.

"Panca, aku mengenal ayahmu. Dan, aku bisa percaya padamu. Bisakah kau menceritakan kejadian di desamu pada kami ...," Opsir Pieter bicara dengan suara lebih keras. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan makan dan memandang ke semua pelanggan.

"Baik, Tuan."

Panca masuk ke dalam kedai menyertai Opsir Pieter dan mulai menceritakan kejadian yang menimpa makam kakeknya. Dia langsung pada inti permasalahan, tanpa banyak mengucapkan kalimat yang tak perlu.

Awalnya, para pelanggan itu tidak memperdulikan ucapan Panca. Tetapi, lama kelamaan mereka mulai tertarik dengan cerita Panca. Dan, menyimak laporan anak remaja itu hingga selesai.

"Tuan-tuan sekalian, sekarang kalian mulai mengerti kan apa sebenarnya yang sedang kita hadapi?"

Mereka yang menyimak saling pandang. Tangan mereka yang semula digunakan untuk menyuapkan makanan ke mulut, kini berhenti sementara. Raut wajah orang-orang itu seakan mulai memahami keadaan. Opsir Pieter memberi mereka kesempatan untuk menyimpulkan sendiri cerita Panca.

"Tuan-tuan, apa yang menimpa mendiang ayahnya A Ling, juga menimpa mendiang kakeknya Raden Panca."

Orang-orang itu mengangguk. Emosi mereka berubah seketika.

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang