Pria paruh baya dengan baju changsan berwarna merah cerah berjalan tergesa. Pieter bisa memastikan identitas lelaki dengan penampilan mencolok tersebut. Dalam keseharian warga Batavia, penampilan bukan hanya sekedar penutup tubuh, tetapi juga menjadi penanda strata sosial.
Kenapa dia harus datang turut serta membawa banyak orang?
Di belakang orang tersebut, sejumlah orang dengan sikap yang sama mengikuti. Jumlah mereka cukup banyak hingga tiga puluhan orang. Jalan yang dilalui mereka pun tertutup rapat oleh barisan para pria berkepang itu.
"Ketua, selamat pagi!"
Opsir Pieter menyambut orang yang disebut "ketua" itu. Orang yang disambut hanya tersenyum sinis. Untung saja senyuman sinis itu tidak terlihat oleh sang polisi karena terhalang pipa cangklong dihisap. Andaikan pria Cina itu terlihat sinis, maka para polisi akan tersinggung. Dan, bisa terjadi perkelahian.
"Tuan, Opsir ... saya hanya ingin menagih janji."
"Tenanglah dulu, Ketua. Kami sedang berusaha menyelesaikan kasus ini."
"Oo ... kau bukan sedang menyelesaikan kasus yang menimpa kaum kami, orang Cina di Batavia."
Nada bicara sang ketua terdengar kasar bagi Pieter. Namun, opsir polisi itu berusaha untuk tetap tenang. "Kami sudah mengumpulkan banyak bukti." Opsir Pieter menjelaskan kinerja satuan kepolisian.
"Tapi kenapa ada korban dari pihak kami?"
Opsir Pieter menghela nafas. Untuk menjawab pertanyaan dari sang ketua lelaki itu membutuhkan sedikit pertimbangan. Ada hal yang perlu disampaikan tetapi ada pula yang tidak perlu diucapkan. Dia menenangkan diri demi menghadapi orang-orang yang sedang berkerumun dan terlihat tersulut amarah. Aku harus bisa mengendalikan keadaan.
"Ketua, Anda sudah berjanji untuk menahan diri."
"Kami sudah menahan diri. Lebih dari seminggu kami menunggu. Kami pikir akan ada titik terang dalam kasus ini. Tapi ... lihatlah ... saudara kami ada yang tewas ...."
Kali ini Sang Ketua bicara dengan nada rendah. Ternyata dia bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Tampaknya dia tahu jika meredam ketegangan lebih baik daripada memperparah keadaan.
Opsir Pieter mengarahkan pandangan ke orang-orang yang sedang berdiri mematung demi mendengar percakapan antara Opsir Polisi dengan Ketua Perserikatan Orang Cina di Batavia. Wajah mereka ada yang terlihat bingung dengan situasi yang dihadapi. Ada juga yang mulai menyadari jika gerombolan pria Cina itu datang dengan amarah memuncak.
"Tuan Ketua, lihatlah ... di sini ada perempuan dan anak kecil. Jangan sampai kita memberi contoh tidak baik dengan berdebat di sini."
"Ya, saya paham. Tetapi, ini tentang ... harga nyawa seseorang."
Opsir Pieter merasakan desiran di dadanya. Lawan bicaranya memandang Pieter dengan tatapan tajam. Dia tahu jika lawan bicaranya sedang memberikan peringatan ... atau ... ancaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Mistero / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
