10

125 28 0
                                        

Panca dan Bajra merencanakan sebuah perjalanan menuju Batavia. Mereka pergi ke Batavia dengan dua alasan. Pertama, mengantarkan gerabah ke pelanggan. Kedua, menyelidiki siapa orang yang berani membongkar makam dan mencuri tengkorak mendiang Raden Wiguna.

Untuk kali ini, perjalanan dilakukan sore hari. Berharap, mereka bisa bermalam di desa yang terlewati. Dan, sekalian mencari embaran di desa-desa yang akan dilalui sebelumnya akhirnya sampai di Ibu Kota.

Jarak tempuh ke Batavia lumayan jauh. Karena menggunakan pedati yang ditarik sapi, perjalanan bisa memakan waktu hingga tiga hari. Padahal, jika menunggang kuda bisa ditempuh dalam waktu satu hari saja.

"Ayah, untuk kali ini saya bersama Bajra akan mengirim pesanan ke Batavia. Saya harap Ayah tidak ke mana-mana demi menyelesaikan masalah yang ada di sini."

Perkataan dari anak remaja itu terkesan mantap. Melihat tekad sang anak, Lurah Bakti pun merasa jika memang sudah saatnya jika Panca diberi kepercayaan untuk bisa meneruskan usaha keluarga. Terlebih,  kali ini ada Bajra yang bersedia untuk menemani.

"Urusan ternak, ada si Darma yang akan membantu Ayah."

Orang yang disebut namanya menoleh. Anak lelaki yang sedang bermain di pekarangan rumah itu memasang raut wajah tak senang. Wajar saja jika sikapnya demikian, ternak yang harus diurus olehnya bukan hanya satu ekor.

Lurah Bakti hanya tersenyum menanggapi sikap keberatan anak bungsunya. "Panca," lanjutnya, "Ayah masih penasaran kenapa kau menawarkan diri untuk  mengantarkan pesanan tanpa ditemani Ayah?"

"Kan aku sudah besar. Lagipula, sudah saatnya Ayah mempercayakan ini kepadaku."

"Kamu yakin hanya ditemani Bajra?"

Bajra yang sedang menata gerabah di atas pedati pun menoleh kepada Lurah Bakti. Anak bertubuh gempal itu tersenyum senang. Dia berusaha untuk meyakinkan si pemilik jika dirinya memang bisa dipercaya untuk menjual barang dagangan.

"Ya, Ayah," seraya menoleh kepada Bajra, Panca pun meyakinkan Lurah Bakti agar tidak khawatir untuk melepas anak remajanya. "Ayah tidak perlu khawatir. Aku dan Bajra akan menginap di desa tempat biasa kita singgah."

"Baiklah," Lurah Bakti mengangguk-anggukkan kepala sembari merapatkan bibir. "Ayah lega mendengarnya."

"Saya hanya ingin meringankan beban Ayah. Sepertinya, persoalan di desa kita bakal menguras perhatian Ayah sebagai kepala desa."

"Sepertinya akan begitu. Kejadian tadi pagi membuat desa ini harus meningkatkan keamanan dan Ayah tidak bisa begitu saja meninggalkan rumah. Ayah memperkirakan jika di desa kita akan terjadi sesuatu."

"Terjadi apa?"

"Entahlah, tapi hilangnya tengkorak kepala jenazah di dalam kubur adalah kejadian langka. Seingat Ayah, ini pertama kalinya tejadi di desa kita."

Sejenak, diantara mereka tidak ada lagi perbincangan. Panca menyelesaikan pekerjaan menumpuk gerabah ke atas pedati. Sedangkan  Lurah Bakti menghitung barang dagangan itu untuk kedua kalinya. Lurah Bakti pun mencatat jumlahnya dalam sebuah buku kecil. 

Setelah selesai, anak dan ayah itu memandang ke langit. Mendung menyelimuti pertanda hujan akan segera turun.

"Sebaiknya kau segera berangkat, Panca. Jangan sampai kemalaman di persinggahan pertama." Raden Bakti membalikkan badan dan hendak masuk ke dalam rumah.

"Baik, Ayah."

"Panca ... Ayah harap kau jangan dulu pulang sebelum keadaan di sini benar-benar aman." Raden Bakti kembali membalikkan badan dan memperingatkan anaknya.

"Ayah, sebenarnya apa yang Ayah pikirkan?"

"Ayah merasa ... akan ada pertumpahan darah di sini."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang