68

71 20 0
                                        

Aliran air di kanal begitu deras. Bahkan sebagian air meluap ke jalanan. Di beberapa tempat, luapannya bahkan bisa mencapai lutut orang dewasa. Begitulah kondisi Batavia jika hujan deras melanda.

"Jalanan masih sulit dilalui, Tuan."

"Baiklah, kita tunggu sampai besok pagi semoga banjir sudah surut. Sekarang, kalian bermalam saja dulu di sini."

Opsir Pieter mengamati keadaan kota dari atas salah satu menara yang ada di pos polisi. Malam yang gelap dan banjir musiman bisa menyulitkan pergerakan untuk membawa tahanan ke Markas Besar. Untuk sementara, para personil polisi itu berkumpul dan beristirahat di pos jaga pinggir kota.

"Nikmati saja makan malamnya."

"Terima kasih, Tuan."

"Setelah itu, siapkan 1 regu untuk operasi lanjutan." Seraya memperhatikan anak buahnya yang kelelahan. Istirahat sejenak menjadi hal yang didambakan setelah bekerja seharian dalam guyuran hujan. "Pekerjaan belum selesai."

"Siap, Tuan."

Opsir Pieter menghela nafas panjang. Dia melihat langit malam, ternyata kembali cerah. Berharap hujan tidak kembali turun sehingga tidak menyulitkan menyelesaikan pekerjaannya.

Pria Eropa itu duduk di sudut menara. Dia suka menyendiri ketika membutuhkan waktu untuk berpikir. Begitupun saat itu, pria itu memilih menyendiri di atas menara sambil menyalakan sebatang rokok.

"Tuan, bolehkah saya menemani Tuan?"

"Oh, kau Panca."

Anak remaja itu tersenyum sambil membungkukkan badan.

"Tentu saja. Kemari."

Panca pun berdiri di pintu menara. Kemudian berjalan mengitari menara demi menikmati udara malam di Batavia.

"Panca, kami menemukan tengkorak almarhum Kakekmu."

"Benarkah, Tuan?" Mata anak remaja itu berbinar. "Terimakasih, Tuan."

"Justru aku yang harus berterima kasih kepadamu. Kepada Bajra dan A Ling, juga. Karena kalian, kasus ini bisa terungkap."

"Sama-sama, Tuan. Ini pengalaman berharga buat saya."

Opsir Pieter menganggukkan kepala. Dia menghembuskan asap dari mulutnya. Pria itu terlihat tenang ketika sudah selesai memenangkan pertempuran.

"Saya pikir, ini sudah selesai." Panca bicara agak ragu, tak ingin disebut sebagai anak yang ikut campur urusan orang dewasa. "Ternyata, Tuan akan melakukan operasi lagi."

"Kau mendengar perintahku tadi."

"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud ikut campur ... Hanya saja, bolehkah Tuan memberitahu saya ... apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, kau berhak tahu. Aku sudah melibatkan kalian sejak awal."

Panca tersenyum sebagai pertanda dia tidak keberatan dengan keputusan Opsir Pieter.

"Begini, ternyata ... komplotan itu hanya berjudi. Mereka berjudi dengan mencuri batu nisan."

"Benarkah?"

"Ya, motifnya sangat aneh. Mereka mencuri batu nisan demi bertaruh siapa yang paling banyak mengumpulkan batu nisan. Setiap batu nisan nilainya berbeda."

"Makam seorang tokoh masyarakat nilainya berbeda dengan rakyat biasa?"

"Betul. Makanya, makam Raden Wiguna, kakekmu, dibongkar."

"Kenapa ada orang seperti itu?"

"Bosan. Rasa bosan."

Panca tidak bicara. Dia benar-benar sulit mengerti dengan apa yang disampaikan Opsir Pieter.

"Nanti juga kau paham, betapa rasa bosan bisa membuat orang bertindak aneh ... nekat ... atau bahaya."

Opsir Pieter kembali menghisap rokok di tangannya. Matanya kembali menatap cakrawala.

"Lalu, dengan upaya pembunuhan Sang Ketua?"

"Itu hanya pesan ... Pesan bagi polisi dan Pemerintah ... agar tidak ikut campur dengan urusan mereka."

"Ancaman kepada orang-orang Cina?"

"Mungkin itu kelompok yang berbeda dengan komplotan yang menculikmu."

"Atau, ada yang menunggangi?"

"Maksudmu?"

"Maaf, Tuan. Saya hanya menduga. Tuan jangan tersinggung karena saya terlalu banyak ikut campur."

"Tidak tidak. Katakan saja."

"Saya menduga ada dua kelompok yang memiliki motif berbeda. Pertama, para penjudi itu. Kedua, kelompok yang memanfaatkan situasi demi kepentingan mereka."

"Ya, masuk akal. ... Tapi, bagaimana dua kelompok ini saling tahu informasi. Gerakan mereka rahasia."

"Eee ... Tuan, apakah Tuan tahu bagaimana awalnya ada ide untuk berjudi mempertaruhkan batu nisan?"

"Entahlah. Tapi, menurut saksi yang kutemui. Ini berawal di ... Rumah Judi."

"Informasi ada di sana. Dan, setahu saya ...."

"Semua golongan orang berkumpul di sana."

Panca dan Pembongkar MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang