Suasana sekolah sudah lengang, hanya tersisa beberapa ekskul paskibra, olahraga, dan beberapa anak band. Pemuda itu melangkah melewati lorong-lorong kelas kemudian berhenti di koridor sejenak untuk mengambil ponsel yang bergetar di saku celana.
From : gio
Pulang nanti beliin susu sekalian.
Pemuda itu membacanya sekilas lalu mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Melangkah menuju parkiran khusus motor tempat kendaraannya terparkir. Hanya tersisa beberapa kendaraan di sana. Dia segera menyalakan mesin dan melajukan motor meninggalkan area sekolah.
Sementara senja mulai timbul lewat sinar oranye yang menelusup lewat kaca helm, ia berhenti di sebuah toko untuk membeli beberapa kotak susu dan kemudian melaju lagi sampai di rumah. Dia sudah bisa menebak jika kakaknya telah pulang lebih awal ketika melihat mobilnya terparkir di depan garasi.
"Kalo parkir mobil sekalian masukin aja. Mobil lo ngehalangin mobil papa entar," ucapnya ketika sampai di ruang tengah dan menemukan sang kakak sedang memangku sang anak sambil asik menyemili pastry.
"Hm. Paling juga pulang malem." Pria yang lebih dewasa itu menyahut ogah. "Ada nggak susunya? Biar Key nggak ngomel terus nih."
Alaska menyodorkan kresek berisi tiga kotak susu itu dengan malas. Sebelum pria itu menerimanya dan berbicara, ia memotong lebih dulu. "Minta buatin Bi Era aja, atau nggak bikin sendiri. Gue capek, mau mandi." Kemudian beranjak pergi menjejaki anak tangga meninggalkan pria—atau tepatnya sang kakak yang langsung mengumpat.
"Yaelah belom juga selesai nyuruh." Dia berdecak dan bangkit ke dapur membuatkan susu. Bi Era selaku asisten rumah tangga mereka memang tidak selalu bekerja 24 jam di rumah mereka. Beliau hanya datang sekitar jam 8 pagi untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah kemudian akan pulang sekitar jam 5 sore.
Key menerima dengan sang hati susu sodoran ayahnya. "Yeay, makasih, Papa."
"Sama-sama, sayang. Abis ini mandi terus belajar, ya. Nonton kartunnya nanti lagi."
Key mengangguk setuju. "Tapi Papa nemenin Key belajar 'kan?" tanyanya polos. Hal yang membuat sang Ayah memasang wajah merasa bersalah.
"Yahh.. maaf ya, Key. Papa harus kerja, cari uang yang banyak untuk Key. Nanti Key belajar sama Om Alaska aja, oke?"
Wajah Key langsung berubah drastis. Seperti tak berselera lagi menikmati susu coklat hangatnya. "Tapi kan Papa baru pulang, masa Key ditinggal lagi?" isaknya dengan mata berkaca. "Papa 'kan udah janji mau ngajarin Key Bahasa Inggris."
Gio membelai rambutnya dengan rasa kasihan dan merasa bersalah. "Maaf, Key. Nanti Papa beliin kue coklat lagi, ya?"
Key menangis sembari menggeleng keras. Mendengar tangisan dari bawah, Alaska yang baru saja selesai mandi dan mengenakan baju langsung bergegas turun. Sesaat dia mendelik pada Gio yang meringis kemudian mendudukan diri di sebelah Key, menatapnya lembut. "Key, udah jangan nangis, ya. Kan ada Abang, nanti kalo Papa cepet pulang pasti sempet main sama Key," jelasnya dengan lemah lembut, menghapus airmata Key.
Key sesenggukan meski berusaha menghentikan tangis. Gadis itu mengangguk paham ketika Alaska menyuruhnya mandi. Sehabis kepergian gadis kecil itu, Alaska mendengus.
"Ingkari aja terus janji lo. Lama-lama gue ikutan gedeg," sinis Alaska. "Lo kalo pulang problem di luar, ya udah selesain. Bukan berarti lo ingkar terus sama Key, dipikir dia nggak bisa sedih."
Gio menghela napas frustasi. "Gue ... cuma belom bisa, Ka," lirihnya. Memandang kosong pada layar televisi yang menampilkan iklan skincare. "Setiap gue liat Key, yang gue liat cuma rasa sakit."
"Trus kapan lo mau nerima Key sebagai anak lo. Sebagai anak, Bang. Bukan sebagai bentuk rasa sakit yang terjadi sama masa lalu lo."
Gio mencebik. "Lo nggak bakal ngerti karena lo nggak di posisi gue sebagai orang dewasa. Gue udah berusaha buat hilangin bayang-bayang sakit yang gue rasain, tapi tetep nggak bisa. Asal lo tau, gue sayang sama Key sebagai anak. Tapi buka berarti gue bisa nerima dia sepenuhnya."
Begitu jahat mungkin kata-kata yang dilontarkan Gio. Tapi menerima Key sepenuhnya tanpa terbayang dengan rasa sakit, rasa-rasanya sulit. Tidak ada yang tahu betapa mati-matiannya Gio menahan emosi setiap kali melihat Key namun yang terbayang hanyalah wanita itu.
"Jadi lo pikir, Key nggak bakal sakit hati juga?" Alaska bertanya tenang. "Dia nggak cuma kehilangan figur seorang ibu dari dia lahir, tapi juga kehilangan ayahnya." Alaska tidak peduli jika kata-katanya begitu menusuk relung hati Gio. "Gue ngerti perasaan lo, Bang. Tapi lo juga harus ngertiin Key. Key's your daughter and she's just a kid."
Atmosfer di ruangan itu seketika tegang meski Alaska bersuara dengan nada tenang tanpa riak. Alaska tahu Gio mungkin tersinggung dengan ucapannya dilihat dari tangan pria itu yang mengepal.
Alaska tahu apa yang dilewati kakaknya, bagaimana pria itu mencoba keluar dari belenggu masa lalu dan sakit hati, trauma, segala macam antara dia dan ibu kandung Key. Dia mengerti bagaimana pria itu masih terpuruk dan belum menerima dengan hati lapang ketika istrinya meminta cerai setelah kelahiran Key karena wanita itu yang belum siap memiliki anak. Alaska tahu.
"Maaf."
Alaska melirik, memandangi Gio yang menopang keningnya dengan gelengan frustasi. "Gue udah ngebebanin lo karena sikap egois gue sendiri... Key jadi tersiksa."
"Minta maafnya sama Key," sahut Alaska. "Kalo gue mah fine aja sama anak selucu dia."
Namun, bukan berarti keegoisan yang tercipta itu justru melukai hati Key—sang anak. Bukankah malah akan jadi berbahaya jika tanpa disadari melukai hati seorang anak kecil akan berbekas untuknya sampai dewasa.
Pikiran Gio jadi kusut. Pria itu berdecak. "Gue udah minta Kanina untuk jenguk Key sekali aja, tapi dia tetep nolak. Padahal Key darah daging dia sendiri. Dia boleh benci sama gue, tapi jangan sama Key karena dia masih butuh ibu."
Alaska yang melihat itu jadi kasihan. Melihat kakaknya dan mantan istrinya saling bersinggungan dan justru saling menyakiti. "Mungkin belum waktunya. Gue tau gue masih remaja. Saran gue, kasih waktu buat lo berdua dulu deh. Kalian sama-sama maksain diri dan keras. Jadinya nggak pernah akur."
"Ya tapi..." Gio menghela napas. "Sampe kapan gitu. Key... kadang dia nanya siapa mamanya, di mana mamanya. Gue takut," lirih Gio.
"Kalo lo nanya gitu, gue nggak tau. Sama kayak lo, mungkin dia juga butuh waktu." Alaska mengedik bahu, meraih waffer dalam toples kemudian menggigitnya pelan. "Yang penting sekarang jalanin aja dulu peran lo sebagai orangtua Key. Pelan-pelan lo bisa jelasin sama anak lo. Seenggaknya lo ada waktu untuk Key, bukan kucing-kucingan mulu sok nyibukin diri."
Mendengar itu, kekehan lolos dari mulut Gio meski sempat terperangah melihat adiknya bisa berbicara sepanjang ini. "Kaget nih gue denger lo ngomong panjang lebar begini. Sayang Key banget ya lo?"
"Iyalah, emang lo," sahut Alaska cuek yang langsung disambut umpatan Gio.
"Thanks for the advice. Tapi gimana gue bisa percaya sama kata-kata yang keluar dari mulut jomblo. Lo aja nggak pernah punya pasangan."
Alaska langsung mengumpat. "Ya justru itu. Orang mah kalo udah kena cinta apa-apa jadi bego, makanya gue kasih masukkan yang rasional."
"Brengsek ya mulut lo," tawa Gio. "Nggak heran gue."
Ketegangan di sana perlahan mulai mencair. Mungkin Gio akan memikirkan kembali apa yang diucapkan adiknya—meski ia gengsi karena tentu saja gengsinya sebagai pria dewasa tersentil. Mungkin jika dibandingkan dengan dirinya, Alaska lebih memiliki pembawaan yang tenang dan rasional. Meski terkadang mereka seringkali adu mulut bahkan beberapa kali hampir adu jotos, dia kagum dengan rasa sayang yang Alaska berikan untuk anaknya.
Gio terdiam dengan rasa irinya sendiri. Iri karena merasa gagal jadi ayah yang baik, dan iri karena rasa sayang yang dia miliki untuk Key, tidak sebesar Alaska. Mungkin hanya belum saatnya.
..
KAMU SEDANG MEMBACA
.niskala
Novela JuvenilHidup Jinan adalah sebuah perwujudan niskala. Abstrak. Tanpa tujuan. Penuh ketidakjelasan yang berarti. "Kamu adalah sebuah ilusi yang nyata, namun tak terkejar, tak tercapai, tapi benar adanya." Ketika ia dihadapkan dengan banyak hal, termasuk dua...
