Kadang-kadang Jinan bertanya, entah ketika tidak bisa tidur di malam hari atau ketika tepat hari ini. Bagaimana rupa laki-laki yang sedarah dengannya? Apakah dia masih ada di dunia? Jika iya, bagaimana kabarnya? Apakah memiliki keluarga baru?
Pertanyaan itu tidak pernah menemukan jawaban. Desas-desus juga tidak ada setitik pun. Jinan hanya pernah melihat sosoknya ketika ia belum sekolah SD, tapi saat mencoba mengingat-ingat, yang ia dapatkan hanya wajah memburam.
Deline-sang mama, tidak pernah ingin membahas. Katanya, ayahnya itu seorang bajingan, penjahat, dan tidak perlu diingat. Jinan juga tidak terlalu keberatan tanpa sosok ayah dalam hidupnya. Karena baginya, semuanya sama saja.
Hari Ayah.
Jinan tidak mengerti bagaimana cara berbicara kepada seorang ayah. Dia juga tidak tahu rasanya bagaimana mengucapkan hari ayah. Kata teman-temannya dulu, sangat menyenangkan. Tetap saja, ia tidak menemukan jawaban bagaimana 'sangat menyenangkan' itu.
Tidak banyak pria yang ia kenal di dalam hidupnya.
Jinan meninggalkan sekolah. Bukan untuk langsung pulang ke rumah, mungkin ke mana saja. Dia juga agak bosan berdiam di rumah terus. Sesekali ia berhenti sebentar di dekat halte, namun pergi ketika mulai ramai. Hanya untuk merenungkan pikirannya yang tenggelam akan pertanyaan-pertanyaan di kepala.
"Mau beli snack-nya, kak? Hari ini kita lagi ada diskon 25%."
Jinan menolak halus dan segera mengambil kembaliannya. Pilihannya jatuh pada cola yang sering ia beli di sini. Dia berdiri di luar market untuk menyegarkan kerongkongan sebentar.
"Eh, sorry.."
Jinan mengucap maaf saat hendak berbalik ke dalam market untuk membeli sekaleng lagi, tapi justru menghantam bahu keras seseorang. Yang paling parah adalah membuat barang-barang yang dibawanya jatuh.
Dengan segera ia berjongkok memungut barang-barang itu. Tidak sadar jika orang yang ditabraknya juga lumayan terkejut dengan kehadirannya. "Kamu keseringan berdiri di tengah jalan."
Gerakan Jinan terhenti. Kepalanya mendongak mendapati Karel yang berdiri sedang tersenyum geli, kemudian ikut berjongkok membantunya. Masih mengenakan Jersey basket yang dibalut jaket bomber dan topi hitam. "Salah aku juga, sih, nggak bawa tas belanja. Di sini abis juga." Karel mengucap santai ketika memungut minumannya yang jatuh. "Kamu nggak pa-pa?"
Kesadaran menghantam Jinan. "I-iya, akunya gak apa. Maaf, ya."
Mereka berdiri dan Jinan menyerahkan barang itu pada Karel. "Kamu sendirian?"
Anggukan datang dari Jinan. "H-m, tadi abis pulang."
Karel membuka bibir ingin mengucap sesuatu. Kepalanya beralih pada mobil di seberang market, lalu berbalik menatap Jinan. "Kamu sibuk? Aku mau ajak jalan bentar."
Mata Jinan melebar. Karel tersenyum. "Kalo kamu mau."
..
Karel memperhatikan gadis di sebelahnya yang berjalan menunduk. Lalu pada taman komplek yang tidak terlalu ramai, hanya diisi oleh beberapa pemuda yang bermain basket di lapangan kecil. Dia juga sedikit kaget saat bertemu Jinan tadi, lalu teringat rumah Jinan tidak jauh dari sini. Sebenarnya ia ingin ke rumah Bima-rumahnya memang melewati komplek rumah Jinan.
Ketika mengajak gadis itu jalan, sebenarnya dia tidak berencana apa-apa. Kelihatannya juga Jinan tidak ingin langsung pulang.
"Jinan."
"Yaaa?" Jinan menoleh cepat yang langsung disambut Karel senyuman lebar. Senyuman yang.... cukup untuk membuat Jinan meneguk ludah.
Karel mengajaknya duduk di bangku dekat lapangan. "Btw, kamu sekarang suka pake..." Ia mengangkat tangan menunjuk rambutnya sendiri ketika Jinan menatapnya tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
.niskala
Teen FictionHidup Jinan adalah sebuah perwujudan niskala. Abstrak. Tanpa tujuan. Penuh ketidakjelasan yang berarti. "Kamu adalah sebuah ilusi yang nyata, namun tak terkejar, tak tercapai, tapi benar adanya." Ketika ia dihadapkan dengan banyak hal, termasuk dua...
