73. Malam Berdarah

694 64 7
                                        

OH YEAHH TEMAN-TEMANKU YANG
BAIK HATI DAN RAJIN IBADAH!
UPDATE LAGI NIH! KAGAK SENENG
APA AUTHOR GANTENG INI KEMBALI
BERBAIK HATI? WKWKWKWK!

JUDUL YANG MERESAHKAN.
TAPI DAUS HARAP, GIMANA PUN
ENDINGNYA KALIAN TERIMA YA.

MAU SAD END, HAPPY END, ATAU
GANTUNG SEKALIAN GAK BOLEH
NGAMBEK! SOALNYA YA ENDINGNYA
ITUUU... MWEHEHEHE AMPUN!

~ HAPPY READING! ~

***

"Kekayaan bukan tolak ukur dari
seberapa kebahagiaan seseorang. Hal sederhana pun bisa membuat
orang bahagia,"

***

JESSIE menyibak selimutnya dengan kesal. Dinda dan Disa sedari tadi bergosip sepanjang jam hingga larut malam seperti sekarang hingga ia tak bisa tidur. Rencana kedua sahabatnya menginap di rumahnya adalah ide yang sangat buruk!

"Kenapa, Jes? Pengen ikut ghibah sekalian nih?" tanya Dinda sambil terkekeh menggoda. Karena memang Jessie bukan tipe orang dari awal yang suka membicarakan aib seseorang. Ups, tidak seperti kalian!

"Berisik banget, ih! Gue gak bisa tidur sama sekali tau," omel Jessie memutar bola matanya jengah.

"Ya elah, gak papa kali. Sekali-sekali dah kita tidur bertiga begini kan asyiknya bahas sesuatu yang membangkitkan selera. Iya gak, Din?" ujar Disa.

Dinda mengangguk cepat. "Tentu! Karena kita cewek dari zigot aja memang di takdirkan untuk jadi tukang ghibah, Jes!"

"Terus? Gue bukan cewek gitu?" tanya Jessie dengan nada kesal.

"Bisa jadi bukan sih," jawab Dinda sambil menyengir lebar.

Jessie berdecak. "Udah ah! Buru tidur, kalau lo lupa subuh-subuh lo harus bangun buat pulang nanti. Emang gak mau sekolah apa besok?!" ucapnya.

Dinda dan Disa menggeleng dengan bersamaan. "ENGGAK DONG, HAHAHAHA!" keduanya tertawa keras.

"Shtt! Kecil-kecil aja dong, suaranya! Kalau ada yang denger gimana?" tegur Jessie dengan suara setengah berbisik.

"HAH? NGOMONG APAAN SIH YANG JELAS NAPA!" ucap Dinda.

"Astaghfirullah, suara lo itu kecilin!" ujar Jessie sembari melempar bantalnya sebal.

Dinda terkekeh pelan. "Ya maaf, atuh! Gue enggak bisa tidur dong. Mau ngapain coba gue sekarang,"

"Ya salah lo kenapa minum kopi tadi pas ada tahlilan. Udah tau buat bapak-bapak lo minum lima gelas kek enggak ada malunya gitu," cibir Disa.

"Gini-gini nih ya, gue tuh punya jiwa feninin tau! Gue masih suka main berbi--"

"Feminim, Din," koreksi Jessie.

"Nah iya. Gue tuh masih punya jiwa feminim! Gue aja masih--"

"Dah lah, tinggalin tidur aja," sela Jessie tertawa cekikikan sambil masuk ke dalam selimut.

Unforgettable Memories [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang